
Nichole terkejut mendengar keinginan Ansell.
"Ansell, aku tidak salah dengar, kan? Jadi, Golden Company dan Collins Group akan menjadi satu?" tanya Nichole untuk memastikan.
"Itu benar. Dan kau lah yang akan mengurus semua administrasi perusahaan. Sedangkan aku akan membantumu menyelesaikan masalah-masalah perusahaan yang lain," jawab Ansell memberi penjelasan.
"Ansell, aku tidak siap. Aku rasa kemampuanku masih kurang," jawab Nichole yang sebenarnya ragu.
Golden Company adalah perusahaan Ansell yang selama ini dikelola oleh Nichole saat Ansell dipenjara. Sedangkan Collins Group adalah perusahaan keluarga Nichole yang diwariskan padanya.
Selama mengurus Golden Company, Nichole menyerahkan urusan Collins Group kepada orang kepercayaan keluarganya. Namun, ia juga tidak lepas tangan begitu saja. Nichole tetap mengawasi kinerja di Collins Group.
Golden Company sudah seperti perusahaannya sendiri. Ia mengembangkan bisnis dengan sepenuh hati. Collins Group juga tak ia tinggalkan. Dua perusahaan itu berkembang di tangan Nichole.
Sebenarnya, sama saja seperti Nichole sudah terbiasa mengurus dua perusahaan. Namun, Nichole tidak percaya diri dengan kemampuannya.
"Nichole, kau sudah mengurus Golden Company selama 5 tahun. Bahkan, kau yang lebih tahu tentang perusahaan itu daripada aku. Sedangkan Collins Group adalah perusahaanmu. Kau pasti tidak mungkin tidak mengenal perusahaanmu sendiri," ucap Ansell. Ia membukakan pintu mobil untuk Nichole. Kemudian, ia masuk ke kursi kemudi.
Sambil menjalankan mobil, ia menambahkan, "Nichole, jika kau tidak percaya dengan kemampuanmu sendiri, maka aku yang percaya. Aku percaya padamu. Aku akan mendukung semua yang kau lakukan. Jika ada hal yang tidak bisa kau selesaikan, kita bisa berdiskusi dan menyelesaikannya bersama."
Nichole terdiam dan tenggelam dalam pikirannya.
Ia sangat bahagia ada seseorang yang begitu memercayainya, bahkan memberikan perusahaan padanya. Namun, Nichole merasa beban ini terlalu berat.
Ia takut akan mengecewakan Ansell. Tanggung jawab dan resiko ini terlalu besar. Nichole lebih takut Ansell kecewa daripada kehilangan perusahaannya.
"Ansell, jangan terlalu berharap padaku. Aku tidak ingin menjadi orang yang mengecewakanmu," jawab Nichole murung.
Ansell menggenggam erat tangan Nichole, "Sayang, jangan ragu pada dirimu sendiri. Ada aku yang mempercayaimu. Aku yakin kau bisa melakukannya."
Nichole menghela napas panjang.
Ia meneguhkan hati, tidak ingin mengecewakan harapan Ansell. Nichole akan melakukan yang terbaik.
__ADS_1
"Baik, aku menyetujuinya," jawab Nichole mantap.
"Terima kasih," ucap Ansell sambil mencium kening Nichole.
Mereka melanjutkan perjalanan sampai ke rumah.
*
Keesokan harinya.
Nichole sudah berpakaian rapi dan bersiap pergi ke kantor. Sedangkan Ansell tetap memakai kemeja santainya. Bagaimana pun Nichole ingin merapikan, tetap saja akan berantakan lagi.
"Ansell, kita akan melakukan rapat penting, menggabungkan dua perusahaan. Kau setidaknya harus sedikit rapi," ucap Nichole menceramahi Ansell.
"Baiklah kalau ibu bos sudah berkata begitu," jawab Ansell menggoda.
Ia mengancingkan kemejanya dan memakai rompi. Sedangkan Nichole dengan gesit memakaikan dasi untuk Ansell. Ia juga merapikan rambut Ansell yang selalu berantakan.
"Nah, sudah selesai," ucap Nichole. Ia memerhatikan Ansell dari atas sampai bawah dan terpesona.
"Kau terpesona dengan calon suamimu, hm? Apa kau baru sadar aku tampan?" goda Ansell yang membuat Nichole memerah.
"Kita hampir terlambat. Ayo pergi," ucap Nichole membereskan tasnya. Ia juga membawa dokumen-dokumen yang sudah ia siapkan semalaman.
Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Ansell.
"Nichole, tunggu aku. Apa kau tak ingin melihatku lebih lama lagi," ucap Ansell dan tersenyum jahil. Sambil berjalan menyusul Nichole, ia menggulung kemejanya sampai ke siku.
"Ansell, jalanlah lebih cepat. Kita sudah ditunggu," teriak Nichole yang sudah sampai di dalam mobil.
"Siap, ibu bos!" jawab Ansell bersemangat. Ia sedikit berlari dan masuk ke dalam mobil.
Setelah mendaratkan satu kecupan mendadak di pipi Nichole, ia langsung melajukan mobil dengan kencang.
__ADS_1
*
Di perusahaan.
Para petinggi perusahaan sudah berkumpul, baik dari Golden Company maupun Collins Group.
Sejak mereka mengetahui kabar ini, mereka tidak ada yang membantah. Mereka adalah karyawan yang loyal pada atasannya.
Orang kepercayaan dari Golden Company dan Collins Group masing-masing memaparkan visi misi mereka dan mencapai kesepakatan.
Bukan tugas Ansell dan Nichole lagi melakukan hal itu. Mereka hanya tinggal duduk diam selama acara penggabungan perusahaan.
"Baik, maka Majesty Company dengan ini diresmikan," ucap orang kepercayaan menyebutkan nama baru perusahaan setelah bergabung.
Ini adalah nama yang sudah dipikirkan Ansell dan Nichole.
*
"Ah, akhirnya acara membosankan itu selesai juga," ucap Ansell meregangkan tubuh. Ia dan Nichole berjalan menuju lobby perusahaan.
"Misi baru kita akan dimulai," ucap Nichole berbinar.
Ansell mengacak rambut Nichole gemas. Ia sangat beruntung memiliki Nichole. Benar-benar wanita yang bisa diandalkan.
"Itu Sam dan pasukan elit, kan? Kau yang mengundang mereka ke sini?" tanya Nichole saat melihat Sam dan yang lainnya.
"Benar. Aku secara khusus menugaskan mereka agar hal yang tidak diinginkan terjadi," jawab Ansell membenarkan.
Kemudian ia melanjutkan, "Ayo temui mereka."
Namun, baru saja ia menggandeng tangan Nichole dan akan berjalan, ponselnya berdering.
"Sebentar," ucap Ansell dan membuka ponsel.
__ADS_1
Ternyata itu adalah panggilan dari Harry Guttem. Ansell sedikit mengerutkan keningnya. Biasanya Harry hanya akan mengirim pesan padanya.
Jika Harry sampai menelepon, pasti ia punya alasan penting. Harry tidak pernah mengganggu Ansell tanpa alasan berarti.