
"A-apa? Kau lahir di Pulau Samudera?" tanya Ansell tidak percaya dengan hal ini. Dari begitu banyaknya orang, mengapa harus Nichole yang terlahir di sana.
"Benar. Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku sedikit hilang ingatan, kan? Terkadang, beberapa ingatan muncul walaupun samar. Saat kau membahas tentang Pulau Samudera, mungkin ingatanku terpancing. Tapi aku ingat dengan jelas kalau aku lahir di sana," Nichole mencoba menjelaskan semasuk akal mungkin.
"Lalu, apakah kau dibesarkan di sana? Sampai umur berapa?" tanya Ansell yang semakin penasaran.
"Tidak tahu. Untuk bagian itu aku tidak ingat dengan jelas. Mungkin saja aku pernah hidup di sana, tapi tidak tahu sampai umur berapa," jawab Nichole jujur. Ia benar-benar tidak bisa mengingat hal itu.
Ansell menatap Nichole dan bertanya dengan ragu, "Kalau begitu ... artinya kau bisa berkultivasi? Karena seluruh orang di pulau itu adalah master."
Namun, Nichole menggeleng, "Sepertinya itu pengecualian untukku. Aku tidak pernah merasakan apa-apa di tubuhku."
Ansell terdiam sejenak, sambil menatap Nichole dengan penuh perhatian. Siapa yang bisa menyangka bahwa tunangannya berasal dari Pulau Samudera, sebuah pulau yang mayoritas penduduknya adalah master kultivasi.
Namun, mungkin Nichole juga tidak pernah membayangkan bahwa Ansell yang dulunya hanya seorang pemuda biasa-biasa saja, kini telah memiliki kemampuan beladiri yang begitu hebat.
"Apakah aku boleh memeriksa tubuhmu? Aku ingin memastikannya," ucap Ansell meminta izin. Ia memang tidak pernah merasakan adanya energi tertentu dari tubuh Nichole. Namun, ia perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Nichole memiringkan kepalanya dan menatap Ansell dengan heran, "Boleh saja, tapi ... sejak kapan kau tahu cara memeriksa energi kultivasi? Apakah kau bisa berkultivasi? Aku tidak pernah tahu hal ini."
Ansell mengangguk lemah, "Aku memiliki sedikit kemampuan beladiri sekarang. Aku mempelajarinya di penjara."
"Aku memiliki guru di penjara. Dia adalah guru yang sangat hebat," ucap Ansell, kali ini menatap Nichole dengan dalam.
Nichole merasa kebingungan karena ia tidak memiliki jawaban yang tepat untuk situasi ini. Ansell juga merasa kesulitan untuk menemukan kata-kata yang dapat mengungkapkan pikirannya dengan jelas.
Keduanya saling menatap, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Keheningan menguasai ruangan saat keduanya berusaha untuk memikirkan jawaban yang dapat mengakhiri situasi yang canggung ini.
Keduanya tampak terkejut setelah mengetahui fakta baru tentang satu sama lain. Ansell terkejut ketika mengetahui bahwa Nichole dilahirkan di Pulau Samudera.
Tak hanya itu, Ansell juga baru saja memberi tahu rahasia tentang kemampuan berkultivasinya kepada Nichole.
Nichole tidak menyangka bahwa Ansell memiliki kemampuan tersebut dan ia pun merasa bingung tentang apa yang seharusnya ia lakukan dalam situasi ini.
Suasana hening semakin menyelimuti ruangan dan membuat keduanya semakin tidak nyaman.
"Nichole, apa aku boleh memeriksamu?" tanya Ansell hati-hati.
"Tapi kau masih berhutang cerita yang lengkap padaku," jawab Nichole dengan wajah sedikit cemberut.
"Tentu saja," jawab Ansell mencubit pipi Nichole dengan gemas. Wanita ini tidak akan pernah marah terlalu lama padanya.
Ansell pun duduk di atas kasur, di hadapan Nichole yang duduk tegak dengan kaki bersila di hadapannya.
__ADS_1
Ansell menutup matanya dan memusatkan pikirannya untuk merasakan aura dan energi kultivasi di tubuh Nichole.
Dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara angin, Ansell membuka matanya dan menatap wajah Nichole dengan tatapan fokus.
Ansell kemudian meletakkan kedua tangannya di atas kedua bahu Nichole dengan lembut, merasakan aliran energi di dalam tubuh Nichole. Dia membiarkan tangannya bergerak perlahan dari bahu hingga ujung jari Nichole, mengikuti aliran energi yang mengalir di dalam tubuhnya.
Saat tangannya menyentuh jari-jari Nichole, Ansell merasakan sebuah getaran lemah, tetapi tidak ada aliran energi yang kuat yang ia rasakan.
Dia merasa sedikit kecewa karena ternyata Nichole tidak memiliki energi kultivasi seperti yang dia harapkan. Namun, dia tetap tersenyum dan melepaskan kedua tangannya dari bahu Nichole.
"Aku memang tidak memiliki energi kultivasi, ya?" tanya Nichole setelah melihat Ansell selesai memeriksanya.
Ansell mengangguk dan menjawab dengan lembut, "Tidak apa-apa. Yang penting tubuhmu sehat."
Nichole ikut mengangguk. Ia juga kurang paham tentang hal ini. Ia juga tidak ingat pernah berkultivasi. Jika memang dia tak memiliki energi kultivasi, itu adalah hal yang wajar.
"Tapi Ansell, apakah ingatanku ini hanya sugesti? Kau sendiri yang bilang orang-orang di pulau itu adalah master. Jangan-jangan aku tidak berasal dari pulau itu," ucap Nichole.
"Sudah, jangan dipikirkan. Kita cari jawabannya nanti. Jangan memaksa dirimu untuk mengingat hal yang sudah kau lupakan," jawab Ansell mencoba membuat Nichole tenang. Ia tak ingin beban pikiran Nichole semakin bertambah.
Ketika itu, tiba-tiba seseorang berteriak dari luar.
"Tuan! Tuan!" teriak penjaga dengan keras.
Ansell menatap Nichole sejenak, kemudian beranjak untuk membuka pintu. Ia melihat seorang pria bertubuh tegap sedang mengangkat dua penjaganya yang memelas meminta bantuan.
Ansell hanya terkekeh, "Royce, kau tidak perlu terlalu kejam."
Royce langsung menjatuhkan kedua penjaga itu. Untungnya, kedua penjaga itu masih memiliki refleks yang bagus, jadi mereka tidak terbanting begitu saja.
"Berani sekali mereka menahanku untuk masuk ke sini. Sepertinya mereka cari mati," ucap Royce yang terlihat sangat kesal.
"Hahaha mereka hanya menuruti perintahku. Tidak perlu marah begitu," ucap Ansell tertawa.
Lalu, ia melambaikan tangan dan berkata, "Kalian pergilah."
Kedua penjaga itu pergi dengan tergesa-gesa, seolah-olah mereka sedang melarikan diri dari bahaya yang mengancam nyawa mereka.
Mereka berjalan dengan cepat dan cemas, khawatir bahwa Royce akan mengejar mereka dan menghajar mereka lagi seperti yang terjadi sebelumnya.
"Apa yang sedang kau lakukan sehingga tidak ada yang boleh masuk?" tanya Royce sambil menyodorkan kepalanya, mengintip ke dalam kamar.
Saat melihat ada Nichole di sana, Royce tersenyum licik, "Oh, aku tahu alasannya sekarang. Rupanya kau sedang ingin berduaan."
Royce senyum-senyum menggoda.
__ADS_1
Plak!
Ansell memukul kepalanya dengan keras, "Jangan asal bicara. Kalaupun itu benar juga bukan urusanmu."
"Hahaha," Royce tertawa puas.
"Halo, Nona! Aku temannya Ansell, Royce!" teriak Royce agar Nichole mendengar perkenalan dirinya.
Nichole tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia bangkit dan menghampiri Ansell, "Kau kedatangan tamu. Aku sebaiknya pergi dulu."
Nichole merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera pergi dari sana. Tanpa berpikir panjang, Nichole langsung bergerak untuk pergi dengan cepat. Namun, Ansell yang sigap dan tanggap langsung menahannya agar tidak pergi begitu saja.
"Jangan pergi. Tetaplah di sini, aku mohon," ucap Ansell menatap Nichole dengan tatapan memohon. Ia tak akan membiarkan Nichole pergi begitu saja.
Nichole menggeleng, bersikeras untuk tetap pergi. Ansell mengeratkan pegangannya pada tangan Nichole, membuat tatapan menyedihkan agar Nichole mengabulkan permohonannya.
Nichole menghela napas berat, tidak tahan dengan tatapan Ansell yang seperti itu. Ia menjawab, "Baiklah."
*
Ansell menyiapkan jamuan makan siang untuk mereka berdua. Di atas meja makan, terdapat berbagai macam hidangan yang sangat lezat dan menggugah selera, serta sebuah botol anggur yang menarik perhatian.
"Ayo, minum," ucap Ansell menaikkan gelas.
Ting!
Tiga suara gelas beradu, menggema di rumah yang besar itu. Suara tegukan sahut-sahutan, saat mereka bertiga menghabiskan anggur dengan santai.
"Jadi, informasi apa yang kau bawa hari ini?" tanya Ansell pada Royce, yang sekarang sudah melahap daging dengan bersemangat.
"Apakah tidak apa-apa jika aku menceritakannya di depan Nichole?" tanya Royce sambil tetap mengunyah dagingnya.
"Tentu saja tidak apa-apa. Dia akan segera menjadi istriku dan aku tak akan menyembunyikan apapun darinya," jawab Ansell yang membuat Nichole tersipu.
Royce memutar matanya dengan malas. Jiwanya meronta melihat pasangan di depannya. Ia berkata dengan ketus, "Ya, aku tahu kau sudah tunangan. Tapi tidak perlu terlalu lebay! Belum tentu kalian menikah nanti!"
Plak!
Ansell kembali memukul kepala Royce sehingga membuatnya tersedak. Royce pun minum dengan buru-buru.
"Sialan!" umpat Royce.
"Lebih baik kau katakan hal yang berguna saja. Cepat beritahu aku informasi apa yang sudah kau dapat," perintah Ansell, tidak ingin mendengar omong kosong Royce lagi.
"Baiklah, baiklah, tapi jangan salahkan aku jika sampai membuat kalian tidak selera makan," ucap Royce terkikik.
__ADS_1
"Kau tahu? Aku sudah menangkap pengkhianat itu. Karena dia terlaku keras kepala, aku hampir saja mengeluarkan isi perutnya, hahaha," ucap Royce, terlihat sangat puas dengan hal yang sudah dia lakukan.