
Thalia Fay berjalan ke atas panggung.
Ia menggunakan gaun hitam selutut yang membuatnya terlihat seksi, tapi tetap elegan. Riasannya tidak terlalu tebal, tapi aura cantik dari wajahnya begitu memabukkan.
Bibir Thalia mengukir senyuman yang bisa membuat para pria terpesona. Tatapan matanya seolah menyihir mereka agar terus menatapnya.
Hal-hal itu menjadikan Thalia pusat perhatian.
Ansell juga sedikit terkejut melihat Thalia. Ternyata ia benar-benar cantik. Baru kali ini Ansell melihat Thalia dengan penampilan seperti ini.
Ansell dan Thalia memang sudah kenal selama bertahun-tahun, tapi biasanya Thalia tidak berdandan. Ia juga jarang memakai pakaian formal.
Melihat perubahan penampilan Thalia, Ansell mau tidak mau terpesona. Pantas saja Vony begitu iri dengannya. Maklum juga banyak pria yang mengejar Thalia.
__ADS_1
Vony muak memerhatikan para pria yang seperti disihir Thalia. Namun saat ia menatap Ansell, ia terkejut ternyata Ansell seperti pria lainnya juga.
Vony terkekeh mengejek Ansell, "Ternyata kau juga terpesona dengan kecantikannya. Dasar munafik! Padahal kau bilang Thalia tidak semenarik itu di matamu."
Ucapan Vony memang sangat kasar, tapi Ansell tak menyangkalnya. Hari ini Thali memang sangat cantik. Atau biasanya dia juga cantik tapi Ansell tidak menyadarinya.
"Selamat malam, semua tamu yang ada di sini. Semoga kalian menikmati malam ini dengan bahagia," sapa Thalia sekilas, tapi berhasil membuat keributan di antara para pria.
Bagi pria-pria itu, suara Thalia begitu merdu dan candu. Walau mereka tidak bisa mengobrol dengan Thalia, setidaknya mereka masih bisa mendengar suaranya.
"Halo, James. Malam ini kau sangat tampan," ucap Thalia dengan suara sedikit manja. Ia mencium pipi kanan dan kiri James.
"Kau juga sangat cantik seperti biasanya," jawab James membalas ciuman Thalia. Ia mengajak Thalia duduk di sampingnya dan memelototi wanita-wanita yang tadi mengelilinginya agar segera pergi.
__ADS_1
"Apa jadwalmu kosong besok malam? Aku ingin mengajakmu makan malam," tanya James yang sudah merencanakan kencan.
Ia sangat ingin memiliki Thalia, tapi Thalia selalu menghindar saat James menyatakan perasaan. Meski begitu, James sudah cukup senang. Setidaknya Thalia lebih loyal kepadanya.
"Besok malam? Hm, sepertinya aku ada beberapa acara dengan klien," jawab Thalia sambil berpikir.
"Bagaimana dengan lusa?" tanya James lagi, berharap Thalia mau menerima ajakan makan malamnya.
"Kalau lusa ... ah, aku belum tahu kapan aku akan kosong James," ucap Thalia tertawa kecil, tidak ingin membuat canggung.
Ansell dan Vony masih berada di tempat mereka, memerhatikan percakapan Thalia dan James.
Vony memerhatikan dengan ekspresi jijik, ia bahkan membuat gestur ingin muntah. Sedangkan Ansell menonton dengan santai. Ansell terkekeh dalam hati. Penolakan Thalia terlalu halus.
__ADS_1
"Sebenarnya James itu orang yang tidak berguna. Hanya saja dia sangat kaya. Ia merupakan keturunan dari generasi kedua salah satu orang kaya yang paling terkenal. Keluarganya juga sangat menyayanginya," ucap Vony memberi informasi tanpa Ansell minta.
Kemudian, ia melanjutkan, "Ayah James begitu luar biasa. Ia juga sangat bisa diandalkan. Lihatlah, James mendapat banyak pengawal elit dari ayahnya. Ia tak perlu bekerja keras, tinggal duduk santai saja. Jika ia ingin mencari masalah, ia bisa langsung menyuruh pengawal-pengawalnya itu. Tentu saja mereka akan menang."