
Para pengawal mundur selangkah tanpa mereka sadari. Thalia begitu brutal, tidak memandang siapa musuhnya. Apalagi ucapan Ansell, mereka tidak ingin menyerahkan nyawa.
Wajah James juga semakin pucat. Ia tidak bisa melawan mereka dengan tangan sendiri sekarang. Jika pengawalnya saja kalah apalagi dirinya.
"Jika kau bisa membunuh kami, mengapa kau menyuruh Thalia yang bertarung? Aku tahu ucapanmu hanya omong kosong belaka," ucap James membalas kata-kata Ansell.
Ansell terkekeh kecil, "Sayang sekali keberuntungan berpihak pada sampah sepertimu. Sudah terpojok juga masih bisa menghina lawan. Kau pikir mengapa kami masih membiarkan kau hidup?"
James bergetar, "Kenapa? Apa alasanmu? Apa kau mau uang yang lebih banyak? Aku bisa memberikan semuanya!"
Ansell langsung tertawa, "Aku sudah bilang uangku lebih banyak daripada uangmu. Alasanku adalah aku suka melihat anjing menjilat ludahnya sendiri. Aku ingin lihat bagaimana kau memohon pada Thalia."
James pucat pasi, lidahnya juga kelu tak bisa berbicara.
Thalia tersenyum dan bertanya pada James, "James sayang, apakah wajahmu pucat karena takut? Jangan takut begitu, aku tidak memakan daging manusia. Paling hanya mencabik-cabiknya saja."
James menggigit bibirnya. Thalia semakin menakutkan. Jika ia hanya diam dan adu mulut, masalah ini tidak akan selesai.
Jadi, ia mendorong pengawal untuk maju, "Kalian, majulah! Siapapun yang bisa menghabisinya akan naik pangkat dan mendapat imbalan besar."
Namun, para pengawal itu tidak ada yang bergerak. Walau tawaran James sangat menggiurkan dan itu merupakan hal yang sudah lama mereka inginkan, tapi mereka tetap menyayangi diri mereka.
__ADS_1
Kekuatan para pengawal elit hampir sama. Jika satu teman mereka sudah dikalahkan, artinya lawan mereka memang kuat. Jika mereka menyerang bersamaan, belum tentu juga mereka akan menang.
Jika mereka tidak bisa naik pangkat sekarang itu tidak masalah. Mereka hanya takut kekuatan yang sudah mereka latih secara susah payah akan hancur.
"Maaf, Tuan. Tapi kami tidak akan menyia-nyiakan kekuatan. Kami pasti kalah melawan Nona Thalia," jawab pemimpin pengawal.
"Tidak berguna! Kalian benar-benar sampah!" teriak James marah. Jika para pengawalnya saja menyerah, James tidak mungkin menang juga. Ia harus mengulur waktu lebih lama lagi, mungkin saja Thalia akan berubah pikiran.
"Thalia, ingatlah saat kita bersama. Apa kau tidak bisa menghitung itu dan melepaskanku?" ucap James penuh harap.
"Saat kita bersama? Saat kau datang untuk menyatakan perasaanmu walau sudah berkali-kali ku tolak?" tanya Thalia yang membuat hati James tertusuk.
Orang-orang di bar yang masih menonton merasa prihatin dengan James. Ia yang biasanya sombong dan angkuh, sekarang harus diinjak dan dihina berkali-kali.
"Inilah karmanya karena sering meremehkan orang. Biarkan dia tau rasa," imbuh seseorang yang tidak suka dengan James.
James mengepalkan tangan erat. Harga dirinya sudah tidak ada lagi sekarang.
"Aku akan melaporkan kalian! Aku memiliki bukti kalau kalian sudah melukai orang lain! Jika kalian tidak mendengarkanku, maka habislah kalian!" ancam James.
"Jadi, dengarkan aku sekarang! Lepaskan aku dan aku tidak akan melaporkan kalian," ucap James lagi dengan harapan Thalia akan mempertimbangkannya.
__ADS_1
Namun, Thalia mengabaikan James dan langsung menyerang para pengawal James. Ia tak lagi menggunakan botol anggur.
Bugh!
Brak!
Hanya dengan tangan kosong, Thalia menyerang pengawal yang tersisa. Pengawal yang tidak bersiap langsung mendapat pukulan keras dan terjatuh.
Pengawal lain yang tersadar segera mengambil kuda-kuda.
"Nona Thalia, jangan salahkan kami karena Anda yang memintanya," ucap pemimpin pengawal.
Ia maju menyerang Thalia diikuti para anggotanya.
Thalia menyeringai. Jiwa bertarungnya semakin berapi-api. Thalia meregangkan tubuh dan mengumpulkan kekuatan.
Para pengawal berpencar dan menyerang dari berbagai arah. Thalia mundur selangkah, kemudian berlari menyerang mereka secara memutar. Kaki jenjangnya yang mulus bagaikan pedang tajam yang menjatuhkan pria kekar.
Semua pengawal tumbang. Thalia sedikit berkeringat, "Ah, pemanasan ini lumayan. Tubuhku sudah tidak kaku lagi."
James tercengang. Tidak ada pengawal yang tersisa. Ia ingin kabur, tapi Thalia pasti akan menangkapnya.
__ADS_1
"Ansell, bagaimana aku harus menghadapi James?" tanya Thalia, menatap James seolah akan menerkamnya.
"Biarkan saja dia berjuang sendiri," jawab Ansell santai, puas dengan kinerja Thalia.