
Yasmin melanjutkan ucapannya tanpa melihat ekspresi Ansell. Ia terus mengatakan hal yang ia tahu tentang Ansell.
"Kau bebas dari penjara setelah 5 tahun. Kau melakukan kejahatan berat, tapi kau hanya mendapat hukuman 5 tahun. Bagiku itu belum setimpal untukmu. Untuk kejahatan yang telah kau lakukan, 5 tahun penjara saja tidak cukup. Apalagi, aku dengar kau juga berkomplot dengan banyak penjahat di dunia hitam. Sepertinya kau orang yang begitu mengerikan," Yasmin menjelaskan dengan panjang lebar.
"Jadi menurutmu hukumanku tidak setimpal?" tanya Ansell dengan suara dingin.
Tiba-tiba Yasmin tersentak. Yasmin tersadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Yasmin merasa agak cemas dengan situasi sekarang.
Dengan perlahan, Yasmin menoleh ke arah Ansell.
Atmosfer di sekitar mereka berubah drastis. Walau wajah Ansell masih setenang tadi, tapi tatapan matanya begitu tajam.
Ia menyeringai ke arah Yasmin, "Sepertinya kau ingin bermain api denganku."
Sebenarnya Ansell tidak peduli dengan beberapa ucapan Yasmin. Ia juga sudah biasa menerima hinaan, walau kebanyakan dari mereka hanya berani membicarakannya di belakang.
__ADS_1
Namun, Yasmin mengatakan langsung di depannya jika kesalahannya sangat berat. Padahal, selama ini Ansell dijebak hingga ia masuk penjara.
"Ma-maafkan aku. Aku ... aku tidak bermaksud," ucap Yasmin bergetar ketakutan. Tubuhnya merinding karena tatapan Ansell.
Baru kali ini ia merasakan tekanan sebesar ini.
Bahkan, di Aliansi Axie tidak ada orang yang ia takuti lebih dari Ansell. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu. Namun, rasa takut yang dirasakannya seperti akan terbawa seumur hidup.
Yasmin benar-benar merutuki dirinya sendiri.
"Sungguh, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Yasmin memohon. Ia merasa ini adalah hari tersialnya, membangunkan singa yang tidak mungkin dijinakkan.
Rencananya gagal total. Tadi ia ingin merayu Ansell menggunakan kecantikannya. Walau Ansell menolak untuk menjadi suaminya, tapi setidaknya ia tak menolak kehadiran Yasmin.
Sekarang, tidak hanya ditolak mentah-mentah, tapi Yasmin malah membuat Ansell marah.
__ADS_1
"Tuan, jangan menatapku seperti itu. Aku ketakutan," ucap Yasmin berpura-pura. Ia memikirkan hal lain untuk menggoda Ansell.
Yasmin mendekatkan diri ke Ansell dan menyentuhnya dengan tangan bergetar, "Tuan, aku sangat ketakutan. Jangan lakukan itu. Maafkan ucapanku. Anda bisa mengambil tubuhku sebagai permintaan maaf."
Yasmin semakin merapatkan dirinya ke Ansell. Sekarang tidak menggunakan kecantikannya lagi, tapi dengan berpura-pura ketakutan. Ia akan menjadi wanita lemah yang perlu rasa simpati.
"Cih, kau hanya membuang waktu," ucap Ansell menyingkirkan Yasmin. Wanita seperti Yasmin pasti tidak akan mudah menyerah.
"Kau pasti sudah sering melakukan ini, kan? Apa kau tidak berpikir sebelum melakukan ini? Apa kau sudah tidak punya harga diri?" tanya Ansell tajam.
Ucapannya sangat menusuk Yasmin.
Ansell menyandarkan diri ke kursi dan terkekeh kecil, "Aliansi Axie tidak sehebat itu. Untuk masuk ke sana juga mudah, apalagi bagi wanita sepertimu. Kau hanya perlu menunjukkan rayuanmu dan mereka akan menerimamu. Jangan merasa hebat karena memiliki aliansi. Aku bisa meratakan mereka dalam sekejap."
Yasmin tidak lagi membalas ucapan Ansell. Ia tak bisa berpikir jernih sekarang. Apa yang Ansell katakan tak terbantah.
__ADS_1
"Kau sudah sadar hal itu? Jika begitu, kau pasti memiliki tujuan lain di Aliansi Axie," ucap Ansell membaca semua pergerakan Yasmin.