
Alexia memegangi pipinya yang terasa panas. Ia membeku sejenak. Otaknya tidak bisa mencerna dengan cepat.
Apakah ayahnya baru saja menamparnya?
Ia langsung merasa de javu. Rasa sakit ini sama seperti hari itu. Hari di mana ayahnya menampar dirinya karena membuat Ansell marah.
Kali ini, ayahnya melakukan hal itu lagi.
Dibandingkan pipinya yang panas, hatinya terasa lebih panas. Padahal ia membela ayahnya, tapi ayahnya malah membela Ansell.
"Ayah, apa maksud semua ini? Apa maksud tamparan ini? Mengapa ayah tega melakukannya? Aku putrimu! Mengapa ayah lebih membela orang asing?" tanya Alexia dengan mata berkaca-kaca.
"Jika kau berani berbicara omong kosong lagi, aku tak akan segan-segan memukulmu lebih keras dari tamparan ini," ucap Harry dingin. Ia tak peduli jika itu putri atau siapa pun, selagi orang itu menghina Ansell, maka Harry tidak akan tinggal diam.
Tidak hanya Alexia yang terkejut, tapi Teo juga terkejut dengan jawaban Harry. Teo tahu bagaimana Harry menyayangi Alexia, apalagi Alexia adalah putrinya satu-satunya. Namun, ia tega menampar Alexia demi Ansell.
__ADS_1
Situasi ini sangat tidak masuk akal bagi Teo.
"Ayah, aku hanya membela ayah. Dia lah yang menghina ayah. Aku tidak ingin ayah direndahkan oleh dia. Mengapa ayah tidak melihat dari sudut pandangku?" tanya Alexia masih mencoba mempertahankan dirinya yang benar.
"Bukankah aku sudah pernah bilang jangan menyinggung Tuan Ansell? Mengapa kau tidak mengerti ucapanku? Jika kau memang ingin membelaku, maka kau lebih baik diam," jawab Harry acuh.
Alexia tidak berkata-kata lagi. Ia sudah menangis sekarang.
Teo yang merasa bingung dengan keadaan ini, bertanya pada Harry, "Apakah Anda sekarang memutuskan untuk berada di pihak dia? Nona Alexia adalah putri Anda. Seharusnya Anda berpikir lebih jauh."
Teo sedikit terkejut. Ia pikir Harry hanya kenal dengan Ansell. Ternyata, Harry adalah orangnya Ansell. Pantas saja ia terlihat begitu hormat dengan Ansell.
Sedangkan Ansell menyaksikan drama itu sambil meminum tehnya. Ia berkata pada Harry, "Tuan Harry, seharusnya Anda tidak perlu membelaku. Aku tak ingin Nona Alexia menjadi salah paham."
"Lagipula, ucapan sampah Nona Alexia tidak akan berpengaruh apa-apa untukku. Aku hanya menganggapnya angin lalu," lanjut Ansell lagi.
__ADS_1
"Kau ... jangan pikir aku tidak berani padamu karena ayahku membelamu!" teriak Alexia mulai emosi lagi.
"Diam!" bentak Harry pada Alexia.
"Aku tidak pernah mengajarimu untuk menghina orang lain. Mengapa kau tidak bisa menjaga ucapanmu di depan Tuan Ansell? Jika kau bicara lagi, aku tidak akan mengampunimu," ancam Harry. Ia benar-benar tak bisa mengontrol Alexia.
"Jangan khawatir, Tuan Harry. Walau mulut putrimu beracun, kau akan tetap menjadi orangku," ucap Ansell. Ia tahu Harry melakukan ini untuk kebaikan Alexia.
Harry begitu menyayangi Alexia. Ia pasti takut Ansell jadi tidak mau melindungi Alexia jika sikap Alexia seperti itu.
Sebenarnya, Ansell juga tak ambil pusing dengan sikap kekanak-kanakan Alexia. Melawan Alexia sama saja seperti bicara pada anak kecil.
Lebih baik, ia langsung menyelesaikan urusannya dengan Teo.
Setelah itu, Ansell menatap ke arah Teo. Ia bertanya dengan ringan, "Dan kau, Tuan Teo, apakah kau datang karena ingin menangkapku atas kejahatan yang sudah ku lakukan?"
__ADS_1