
Senjata palsu sudah menjadi permasalahan umum bagi pembuat senjata. Sering terjadi pemalsuan untuk keuntungan pribadi. Orang yang memalsukan senjata benar-benar teliti saat membuat tiruannya.
Namun, senjata palsu itu tak bisa lepas dari mata Ansell.
Sebagus dan semirip apapun tiruan yang mereka buat, Ansell tetap bisa melihat celahnya. Senjata palsu tetap memiliki perbedaan walau kecil.
Senjata palsu yang dilihat Ansell begitu mirip. Bahkan, Ansell bisa menjamin tingkat kemiripan luarnya sampai 95%. Hanya ahli senjata senior yang mampu membuat hal sedetail itu.
Sayangnya, orang yang memalsukan senjata tak memiliki kemampuan membuat senjata. Mereka hanya tukang kayu atau pandai besi yang mampu membuat tiruan. Meskipun mirip, tapi kekuatan senjata itu turun drastis menjadi 25% dari kekuatan aslinya.
Tentu saja hal ini sangat merugikan pemakai senjata. Jika senjata seperti itu dipakai saat bertarung, maka pemiliknya tak mungkin bisa bertahan dalam 5 menit.
Ansell mengusir para ilmuwan dengan halus. Bahkan, ia tak membiarkan Thalia melihat apa yang akan dia lakukan. Ansell ingin sendiri di dalam gudang senjata.
Setelah memastikan tidak ada lagi orang, Ansell mengambil salah satu tombak palsu dan menggenggamnya dengan erat.
Krak!
Baru saja digenggam, tombak itu sudah patah. Padahal, tadi Ethan berkata jika pegangan tombak berasal dari kayu ek yang kuat. Padahal, kayu tombak ini adalah kayu albasia yang mudah patah.
Orang yang memalsukan senjata tidak pernah mau rugi. Mereka mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dan mengeluarkan modal sekecil-kecilnya. Mereka memilih kayu albasia yang murah dan gampang didapat. Untuk membuatnya mirip dengan kayu ek, mereka mengecatnya dengan sangat baik.
"Aku perlu mengapresiasi pemalsu senjata ini," cibir Ansell.
Ansell kembali berjalan mengelilingi senjata. Selain tombak, pedang di sini juga sudah pasti palsu. Ia ingin melihat lagi senjata mana yang palsu.
"Bagaimana mereka bisa membuat senjata palsu sebanyak ini? Siapa yang bisa melakukan ini dengan bebas sehingga lepas dari pengawasanku," gumam Ansell yang masih berjalan mengelilingi senjata.
Tak lama, ia berhenti di salah satu rak berisikan granat.
__ADS_1
Granat yang ingin dihasilkan Ansell di laboratorium adalah granat jenis petasan. Granat ini menghasilkan ledakan keras dan kilatan cahaya yang sangat terang dan dapat membutakan sementara pandangan.
Namun, Ansell curiga granat ini palsu.
Biasanya, granat petasan berukuran lebih kecil daripada granat peledak. Warnanya juga merah cerah sebagai identitas.
Namun granat yang ditangan Ansell sekarang berwarna merah pudar dan lembek. Ukurannya juga besar, tidak efisien untuk dijadikan senjata mematikan.
Ansell sekarang yakin, granat ini palsu.
Namun, Ansell tak punya waktu banyak untuk mengurus hal ini lebih jauh. Ia harus segera pergi ke Pulau Samudera.
"Aku hanya perlu beberapa senjata yang sekiranya bisa melindungiku. Aku harus memprioritaskan masalah Pulau Samudera sekarang," gumam Ansell.
Ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada seseorang.
"Aku butuh pemancar sinyal yang bisa digunakan di Pulau Samudera. Aku juga perlu barang-barang kecil yang mudah di bawa," gumam Ansell. Kemudian, Ansell berjalan ke ruangan ketua laboratorium. Di sana, ia menemui Tuan Edmund.
"Tuan Edmund, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Anda?" tanya Ansell berbasa-basi.
"Hahaha Tuan Ansell terlalu sungkan. Tentu saja aku sehat seperti biasa. Urusan laboratorium bukanlah hal yang susah," jawab Edmund sambil tertawa renyah.
Ia sudah menjadi ketua laboratorium sejak awal. Ia lah yang bertanggungjawab untuk membuat laporan dan mengawasi pekerjaan di laboratorium.
"Tuan, aku perlu sesuatu dari laboratorium. Aku harap laboratorium bisa membuatnya," Ansell mengatakan tujuannya dan menceritakan apa yang akan dia lakukan pada Edmund.
"Pulau Samudera? Bukankah tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana?" Edmund terkejut.
"Memang benar. Hanya saja aku percaya pada keberuntunganku. Aku pasti bisa memasukinya," jawab Ansell yakin.
__ADS_1
"Karena Tuan Ansell berkata begitu, aku tak bisa menyangkal lagi. Baiklah, laboratorium akan mencoba membuatnya untuk Tuan," jawab Edmund, tidak terlihat keberatan sama sekali.
Ansell tersenyum puas, "Terima kasih, Tuan Edmund. Kalian memang bisa diandalkan."
*
Setelah pergi dari laboratorium, Ansell menemui orang yang sebelumnya ia kirimkan pesan. Mereka bertemu di sebuah gedung tua, di pinggiran kota.
"Kau tidak berubah," ucap Ansell menatap pria bertubuh besar yang tak jauh darinya. Pria itu memegang sebatang rokok yang sudah hampir habis.
Pria itu membalikkan badan dan menghembuskan asap rokok. Ia lanjut menyesapnya semakin dalam, kemudian membuang sisanya.
"Kau terlalu tepat waktu," ucap pria itu.
"Lebih baik daripada terlambat," jawab Ansell, mulai duduk di sampingnya.
Pria itu mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkannya ke Ansell. Namun, Ansell berpura-pura tak melihatnya.
"Kau tetap cupu," ucap pria itu.
Ansell terkekeh menanggapinya.
"Aku tak punya banyak waktu. Aku akan langsung ke intinya," ucap Ansell.
"Katakan," ucap pria itu santai.
"Temukan pengkhianat di laboratoriumku dan siksa dia. Biarkan dia merasakan sakitnya hidup daripada mati," Ansell menjelaskan keinginannya.
"Gampang," pria itu langsung setuju tanpa ragu.
__ADS_1
"Deal," ucap Ansell.
Ia mengambil sebatang rokok yang tadi dia abaikan.