
Aroma bahan herbal menyeruak ke hidung Ansell dan membuat pikirannya lebih tenang. Sudah lama ia tak bermeditasi untuk mengembalikan ketenangan setelah begitu banyaknya masalah yang harus ia hadapi.
Toko kecil itu tersusun dari kayu-kayu yang hampir lapuk. Namun sebenarnya, itu adalah kayu kokoh yang dimanipulasi agar terlihat lapuk.
Ansell benar-benar menyembunyikan laboratorium itu. Jangan sampai ada yang tahu jika ia membuat senjata rahasia. Jika tidak, ia akan dianggap pemberontak.
Ansell masuk dan menyusuri ruangan kayu.
Ketika mereka sudah mentok di ujung ruangan, penjaga toko mengambil beberapa batu yang merupakan mekanisme ruang bawah tanah.
Setelah itu, terdengar suara derit kayu di bawah kaki Ansell. Lantai kayu mulai terbuka, memperlihatkan anak tangga yang menuju laboratorium bawah tanah.
"Silahkan, Tuan. Akar kehidupan ada di dalam sana," ucap penjaga toko tersenyum sopan.
Ansell mengangguk lembut dan membalas senyumnya. Ia melangkahkan kaki satu persatu ke anak tangga kayu itu. Di ruangan yang senyap, kakinya yang beradu dengan tangga kayu menggema.
Setelah melewati beberapa anak tangga yang lusuh, pemandangan mulai berganti. Tidak ada lagi kayu-kayu lapuk dan sarang laba-laba di dinding.
Seolah masuk ke pintu dimensi, di ruangan Ansell berada sekarang, sekitar dindingnya berlapis besi berkilau yang tampak kokoh. Suara deru mesin dan bisingnya manusia mulai terdengar. Aroma-aroma khas biokimia mulai tercium.
Di laboratorium ini, tidak hanya membuat senjata biokimia, tapi juga senjata tajam lain seperti pedang dan sebagainya. Namun, tetap saja pembuatannya memanfaatkan teknologi mesin.
Ansell tersenyum simpul.
"Ansell! Kau akhirnya datang!" teriak Thalia bersemangat. Para ilmuwan yang tadinya sibuk dan tidak menyadari kehadiran Ansell, sekarang mereka semua menatapnya dengan rasa ingin tahu.
Beberapa ilmuwan senior mulai menghampiri dan berjalan di belakang senior.
Para ilmuwan memakai jas laboratorium dan ada juga yang memakai alat pelindung diri. Pembuatan senjata kimia bukanlah hal mudah. Terkadang, nyawa juga perlu dipertaruhkan. Oleh karena itu, hanya orang-orang khusus yang bisa bergabung di laboratorium.
"Tuan, selamat datang kembali di laboratorium," ucap salah satu ilmuwan dengan senyum hangat.
__ADS_1
"Tuan, apakah perjalanan Anda lancar?" tanya yang lain mencoba ramah dengan Ansell.
"Terima kasih. Perjalananku sangat lancar. Aku datang ke sini hanya untuk melihat-lihat senjata yang sudah dihasilkan laboratorium," ucap Ansell berterus terang dengan tujuannya.
"Kalau begitu, Tuan Ansell datang di waktu yang tepat. Kami sudah menyiapkan senjata-senjata terbaik yang sudah dihasilkan laboratorium," jawab salah satu ilmuwan yang berada di samping Thalia.
Dia adalah Ethan, asisten laboratorium senior yang merupakan orang kepercayaan Victor. Sikap Ethan sedikit sombong karena ia merasa dia adalah senior dan ilmunya lebih tinggi.
Ansell tahu hal ini dari cerita Thalia.
"Kalau begitu, aku harus merepotkan Tuan Ethan untuk memandu jalan," jawab Ansell tersenyum.
Orang seperti Ethan kebanyakan egois. Sebagai orang bijak, Ansell hanya ingin memberi makan egonya, agar ia terperangkap dengan keegoisannya sendiri.
"Tentu saja, Tuan. Mari ikuti aku," ucap Ethan bangga dengan membusungkan dada, seolah mengatakan dialah orang yang berkuasa di sini.
Ansell berjalan di belakang Ethan, sedangkan Thalia mengikutinya di samping. Para ilmuwan lain yang ingin lebih dekat dengan Ansell juga ikut. Sedangkan ilmuwan lain yang tidak tertarik kembali ke tempat dan menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Mengapa kau malah membiarkannya menyombongkan diri?" bisik Thalia. Sebenarnya ia juga tidak terlalu menyukai Ethan. Namun, ia harus mengakui jika Ethan benar-benar memiliki kemampuan. Kebanyakan ilmuwan di sini adalah hasil didikannya.
Setelah berjalan sebentar, mereka tiba di sebuah ruangan dengan pintu polos. Ethan membalikkan badan dan menatap Ansell yang berada di depannya, "Tuan, pasokan senjata ada di dalam. Silahkan masuk."
Ia mempersilahkan Ansell masuk dengan hormat.
Ansell memasuki ruangan tanpa ragu, diikuti orang-orang di belakangnya.
Pemandangan di depannya saat ini sangat menakjubkan. Banyak senjata-senjata yang bisa diketahui kualitasnya dalam satu pandangan.
Senjata lain juga tak kalah hebatnya.
Ansell berjalan ke arah senjata-senjata itu dan memeriksanya satu per satu. Ia juga mengambil beberapa senjata yang ia rasa cocok untuk dibawa ke Pulau Samudera.
__ADS_1
"Kalian semua sudah bekerjakeras. Aku ingin berterima kasih pada kalian," ucap Ansell membungkukkan tubuhnya.
"Tidak, tidak. Tidak ada hal seperti itu, Tuan. Kami bekerja dengan tulus," jawab ilmuwan.
"Benar, Tuan. Kami yang seharusnya berterima kasih padamu karena sudah mau menerima kami," jawab yang lainnya. Mereka merasa sungkan menerima ucapan terima kasih Ansell, walau sebenarnya mereka semua lebih tua daripada Ansell.
Namun, Ethan berbeda. Ia berkata, "Apa-apaan kalian? Tuan Ansell memang harus berterima kasih pada kita. Kita sudah bersusah payah membuatnya, tentu saja harus menerima ucapan terima kasih ini. Apalagi kebanyakan senjata ini adalah buatanku. Memang aku yang paling pantas menerima ucapan terima kasih ini daripada kalian."
Ansell tersenyum melihat sikap terus terang Ethan. Ia tak mempermasalahkannya sama sekali, selagi Ethan tak melakukan hal di luar batas. Untuk kata-kata tajam masih bisa Ansell tampung dengan santai.
"Tuan Ethan, benar. Setiap kerja keras harus diapresiasi, setiap kontribusi harus dihargai," jawab Ansell. Ia kembali berjalan menyusuri senjata-senjata lain.
Sedangkan para ilmuwan lain terlihat sudah kesal dengan sikap Ethan. Walau mereka sudah sering menghadapinya, tetap saja mereka lebih memilih menghindar daripada melawan.
Ethan sulit dikalahkan.
"Tuan Ansell, begitu banyak senjata yang sudah kita buat. Anda juga datang hari ini. Apakah sebentar lagi akan ada peperangan?" tanya salah satu ilmuwan senior yang terlihat sudah tua.
Ansell berhenti di rak tombak dan pedang.
Ia menjawab dengan singkat, "Mungkin."
Keadaan menjadi hening. Para ilmuwan tak lagi bicara. Ansell juga masih berdiri di depan rak senjata itu.
Peperangan adalah kata yang sensitif untuk beberapa orang. Mereka yang sudah pernah kehilangan saat ada peperangan, pasti akan merasa terpukul karena hal ini.
Namun, hal itu sepertinya tak bisa dihindari. Ansell harus berhadapan dengan negara pulau dan Bivv Group. Mereka bukan musuh yang mudah ditaklukkan.
Ethan yang sangat benci keadaan hening, mulai membuka suara, "Tuan, senjata-senjata itu sudah diasah sedemikian rupa sehingga ujungnya tajam. Pegangannya juga terbuat dari kayu ek yang tahan terhadap air dan cuaca yang berubah-ubah. Sangat cocok digunakan dalam keadaan apa pun."
Setelah sejak tadi terdiam, Ansell akhirnya bergerak dan menyentuh tombak.
__ADS_1
Ekspresinya yang tadi datar, sekarang agak menegang. Namun, tidak ada yang menyadari hal ini, termasuk Thalia dan Ethan.
Senjata ini palsu, batin Ansell geram.