Kemunculan Master Terhebat

Kemunculan Master Terhebat
Berani Bicara di Belakang


__ADS_3

Ucapan Thalia di dengar semua orang. Mereka tercengang dan tidak percaya. Thalia mengakui perasaannya secara terbuka? Apakah Thalia benar-benar menyukai Ansell?


Tapi, mengapa Thalia menyukai pria yang sudah memiliki wanita?


"Murahan tetaplah murahan. Berani sekali menyatakan perasaan pada pria yang sudah memiliki kekasih. Seperti tidak ada pria lain saja," sindir Vony, ingin membuat Thalia malu di depan para tamunya.


"Benar. Padahal Tuan Muda James mengejarnya. Tapi ia lebih memilih pria milik orang lain," imbuh yang lain mendengar ucapan Vony.


"Memang begitu. Milik orang lain terkadang lebih menarik," sambung orang lainnya, tidak percaya dengan pilihan Thalia.


Vony tersenyum puas karena berhasil membuat orang-orang membenci Thalia. Apalagi para wanita, pasti mereka takut Thalia juga akan merebut pasangannya.


Dengan begitu pelanggan bar Thalia akan berkurang.


Namun, Thalia mengabaikan bisik-bisik itu. Walau ia memang sedikit kecewa karena Ansell benar-benar sudah bertunangan, tapi hati kecilnya tetap menginginkan Ansell.


Ia berkata pada Ansell, "Aku akan menunggu kalian berpisah. Perasaanku akan tetap sama sampai saat itu tiba."


James semakin terkejut mendengar hal itu.


Sekarang ia mengerti mengapa Thalia tidak ingin memiliki hubungan dengannya. Ternyata Thalia memiliki seseorang di hatinya. Selain itu, Thalia juga tidak keberatan jika pria itu sudah bertunangan.


Ansell tersenyum malu mendengar ucapan Thalia. Tidak ada yang berubah dari Thalia. Ia tetap menyukai Ansell walau Ansell sudah menolaknya.


Ia menjawab, "Thalia, kau jangan bercanda. Kita ini hanya saudara, tidak lebih. Lain kali kau akan ku kenalkan pada tunanganku."

__ADS_1


Baru saja Thalia membuka mulut ingin membalas, tapi Ansell lebih dulu bicara.


"Untuk sekarang jangan membahas hal itu. Aku datang ke sini karena ada urusan penting yang harus kita bicarakan," ucap Ansell lagi, ingin langsung menyelesaikan urusannya. Selain itu, Thalia pasti tidak akan menyerah untuk membahas tentang perasaannya.


Thalia adalah bawahan Ansell. Karena mereka sering bersama, mungkin karena hal itu ia menyukai Ansell. Tidak mudah menghadapi orang seperti Thalia.


Namun, semoga ia akan mengerti setelah bertemu Nichole.


Dua tahun lalu, Ansell mengirim Thalia ke sini untuk mengambil alih jaringan intelejen domestik. Ia juga menggunakan identitas palsu agar tidak ada yang mencurigainya.


Mengelola bar adalah salah satu cara untuk menyembunyikan identitasnya.


Dengan identitas palsunya, Thalia bisa lebih bebas bergerak. Ia dapat menyelesaikan misi dengan mudah. Apalagi bar adalah tempat paling gampang untuk memeroleh informasi.


Nichole menyapu pandangan tajamnya ke seluruh orang yang ada di bar. Orang-orang yang tadi mengejek Thalia langsung memalingkan wajah, masih takut pada Thalia.


Mereka hanya berani membicarakan dari belakang.


Setelah itu, Thalia pun membawa Ansell ke salah satu meja di bar agar obrolan mereka lebih aman.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Thalia saat mereka sudah sampai di meja itu. Ia menuang anggur yang sudah disediakan pelayan.


"Aku sedikit tertarik dengan Bivv Group. Apa kau tahu tentang mereka? Aku ingin beberapa informasi tentang mereka," tanya Ansell langsung, tidak berbasa-basi lagi.


"Apa? Bivv Group? Apa kau menyinggung mereka?" Thalia terkejut dan bertanya balik. Ia tahu tentang mereka. Bivv Group mungkin sedikit susah ditangani.

__ADS_1


Sebelum Ansell menjawab, James menghampiri mereka. Ia berjalan dengan hentakan kaki yang keras, diikuti para pengawalnya.


Ia langsung bertanya pada Thalia, "Thalia, siapa dia? Mengapa kau lebih memilih bicara dengannya dan meninggalkanku begitu saja? Apa identitasnya? Aku rasa ia hanya gembel."


Orang yang menonton dari jauh menyaksikan dengan antusias, menantikan reaksi Thalia. James sudah membawa banyak pengawal. Sepertinya ia sudah siap untuk menyerang Ansell.


Vony menonton dengan senang. James lah yang akan membalaskan dendamnya. Ia tinggal duduk manis sambil minum anggur.


Thalia mencoba menahan emosi. James benar-benar tidak tahu tempat. Thalia menjawab James dengan sopan, "Maaf, aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu hari ini. Mungkin kita bisa bicara lagi besok. Aku ada beberapa urusan."


Namun, James mengabaikan sikap sopan Thalia. Ia tetap tidak terima ditinggal begitu saja oleh Thalia. Apalagi, Thalia terlihat sangat nyaman dengannya.


James takut rencananya memiliki Thalia akan gagal.


"Aku tidak peduli dengan urusan kalian. Jawab aku, Thalia. Siapa dia? Apa dia begitu penting untukmu? Apa kau tidak bisa melihat siapa yang menyukaimu?" James bertanya lagi dengan wajah semakin muram. Thalia sepertinya akan membela Ansell lagi.


"Aku sudah mencoba sopan padamu, tapi kau tetap tak memiliki etika. Apa perkataanku kurang jelas? Apa kau hanya menerima ucapan kasar agar mengerti?" tanya Thalia bertubi-tubi.


Ia melanjutkan dengan cepat dan menekan setiap ucapannya, "Jangan ganggu kami hari ini. Pergi!"


James tercengang. Thalia tidak pernah memperlakukannya seperti ini sebelumnya. Ia tak pernah membentak apalagi mengusirnya.


Ini semua pasti karena Ansell.


James menatap Ansell dengan tajam dan berkata, "Apa kau tahu kau menggoda wanita milik siapa?"

__ADS_1


__ADS_2