
Yasmin merutuki Ansell dalam hati, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Ansell memang sengaja membiarkan mereka hidup agar mereka semua tahu jika Yasmin mengkhianati Aliansi Axie. Dengan begitu, Yasmin tidak akan punya sandaran lain selain Ansell.
"Mengapa kau tega melakukan itu? Padahal kau bisa saja membunuh mereka. Bukankah kita sudah bekerjasama?" tanya Yasmin merasa tidak terima.
Sekarang, usahanya ingin memanfaatkan Ansell sudah gagal total. Malahan hal ini menjadi boomerang untuknya. Yasmin lah yang harus bergantung pada Ansell.
"Membunuh mereka tidak menguntungkanku. Aku tidak ingin melakukan hal yang merugikan," jawab Ansell santai. Ia mengecek ponselnya dan sedikit terkejut.
Namun, Yasmin tidak memerhatikan wajah terkejut Ansell.
"Tentu saja itu menguntungkan. Jika kau membunuh mereka, kau tidak akan bermusuhan secara langsung dengan Aliansi Axie dan Bivv Group. Kita tetap bisa melakukan rencana tanpa harus turun tangan," Yasmin tetap mencoba membujuk Ansell untuk membunuh mereka. Mungkin saja Kenya dan Hans belum jauh.
Ansell sibuk mengetik di ponselnya dan menjawab tanpa melihat Yasmin, "Aku bukan pecundang sepertimu yang tidak berani bermain di depan. Aku tidak lemah sepertimu. Kekuatanku cukup untuk menghadapi mereka secara langsung."
Yasmin merasa malu sekarang.
Ia memang tahu dirinya lemah. Yasmin hanya bisa memanfaatkan orang-orang kuat untuk membantu menyelesaikan misinya.
Yasmin tidak pernah melakukan semua hal sendiri. Ia selalu butuh seseorang untuk bersandar atau bertahan.
__ADS_1
"Kalau kau siap melawan mereka, maka aku tak bisa melakukan apa pun lagi. Sekarang Aliansi Axie dan Bivv Group sudah menjadi musuh. Sebentar lagi pasti mereka akan menyatakan perang. Karena kau sangat percaya dengan kekuatanmu, aku tak akan mengatakan apa-apa lagi," kata Yasmin pasrah.
Ia tahu dirinya tidak penting bagi Ansell. Sekarang ia lah yang membutuhkan Ansell. Ia harus ikut ke mana pun atau apa pun keputusan Ansell.
Bukan Yasmin yang memegang stir saat ini.
Ansell selesai dengan ponselnya. Ia mengangkat kepala dan menjawab Yasmin, "Benar! Aku bisa mengandalkan kekuatanku. Lagipula, aku suka berurusan dengan orang pintar."
Yasmin tak menjawab. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Memaksa Ansell tidak akan berguna. Mengatur dirinya lebih tidak berguna lagi.
"Aku harus pergi sekarang. Wanitaku sudah menungguku," ucap Ansell. Ia mengambil tisu dan menyeka bekas anggur di bibirnya. Setelah itu, ia meninggalkan ruangan.
Yasmin sendirian sekarang. Ia merasa iri dengan wanita beruntung yang mendapatkan cinta Ansell. Sedangkan Yasmin hanya wanita yang selalu dimanfaatkan lelaki.
*
Nichole yang tadi sudah pulang, beberapa saat kemudian ia kembali lagi di restoran. Ia memiliki firasat buruk dengan pertemuan Ansell dan kliennya.
Buru-buru, Nichole mencari taksi dan meluncur ke restoran.
Saat ia tiba, benar saja, firasatnya tidak salah. Nichole melihat dua orang berjalan tertatih. Satu orang dengan wajah terluka dan satu orang lain memapah rekannya yang terluka itu.
__ADS_1
Nichole semakin takut sesuatu terjadi pada Ansell. Ia segera masuk dan menunggu di ruang tunggu restoran.
Sambil berjalan, Nichole mengirim pesan kepada Ansell, menanyakan di mana keberadaannya. Ia juga mengatakan jika sudah menunggu di restoran.
Ansell membalas dengan cepat, mengatakan ia akan segera menemui Nichole.
Nichole dengan cemas memegang ponselnya, "Ansell, semoga kau baik-baik saja."
Tidak lama setelah ia mengatakan itu, ia melihat Ansell dari jauh. Ia refleks berdiri dan menghampiri Ansell.
Nichole langsung menghujani Ansell dengan banyak pertanyaan, "Apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan klienmu? Aku melihat seseorang yang terluka baru saja keluar dari restoran. Itu tidak ada hubungannya denganmu, kan? Apa kau terluka?"
Nichole memutari tubuh Ansell untuk mengecek.
Ansell mengangkat kedua tangannya dan menjawab, "Sayang, aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku."
"Syukurlah," Nichole bisa menghela napas lega. Wajahnya sedikit memerah karena Ansell memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Ayo masuk ke dalam mobil," ucap Ansell merangkul Nichole. Mereka berjalan bersama, dengan wajah Nichole yang masih tertunduk malu.
"Nichole, aku punya keinginan. Apa kau ingin mendengarnya?" tanya Ansell sambil berjalan.
__ADS_1
"Tentu saja. Katakan," jawab Nichole. Ia balas merangkul pinggang Ansell.
"Aku ingin perusahanku dan perusahaanmu digabung. Aku juga ingin kau yang mengelola bisnis itu. Aku akan menyerahkan semua aset perusahaan padamu," ungkap Ansell.