Kemunculan Master Terhebat

Kemunculan Master Terhebat
Penyerangan dimulai


__ADS_3

Thalia merasa geram dan emosi.


"Bukankah orang dari Bivv Group kebanyakan dari wilayah ini? Apakah mereka tidak sadar jika hanya dimanfaatkan?" tanya Thalia.


Ansell tersenyum ringan dan menjawab, "Memang benar. Walaupun ingin memanfaatkan mereka, negara pulau tetap memberi mereka sumber daya yang mereka butuhkan. Karena itu, yang mereka tahu mereka harus mengabdi pada Bivv Group dan memilih menjadi anjing negara pulau."


"Sialan! Negara pulau sangat pandai memberi makan peliharaan mereka," ucap Thalia semakin geram. Tadinya, ia merasa sedikit iba dengan master-master yang dimanfaatkan itu. Namun, ternyata mereka layak mendapatkannya.


"Itulah mengapa banyak sekali master yang mereka miliki. Selain mengambil yang kuat, mereka juga mengambil yang berbakat. Jadi, saat mereka memberi banyak sumber daya, mereka tidak akan rugi karena hal itu pasti akan dimanfaatkan dengan maksimal oleh para master," Ansell lanjut menjelaskan.


Thalia mengangguk mengerti. Pengetahuannya memang lebih sedikit daripada Ansell. Karena itu, ia sebenarnya sangat senang mengobrol dengan Ansell, selain memang karena dia menyukainya.


"Selanjutnya, apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" tanya Thalia, tetap ingin mendapatkan tugas.


Ansell berpikir sejenak.


Melawan Bivv Group kali ini memang masih bisa ia tangani sendiri. Namun, melawan negara pulau agak merepotkan. Sepertinya Ansell harus mempersiapkan dari sekarang.


"Kalau begitu, kau bisa pergi ke laboratorium dan katakan pada mereka untuk menyiapkan senjata. Katakan juga pada para master agar bersiap. Namun, ingatkan mereka jangan gegabah. Mereka harus menunggu sampai mendapat perintah selanjutnya dariku," ucap Ansell menjabarkan tugas-tugas yang harus dilakukan Thalia.


Thalia tersenyum puas mendengar hal itu. Ia menjawab dengan antusias, "Baik, Tuan! Aku akan melakukan tugas dengan baik!"


"Terima kasih atas jamuanmu malam ini. Aku kembali dulu," ucap Ansell. Setelah beberapa obrolan itu, Ansell pun memilih pulang.


*


Keesokan harinya.


Ansell sudah memberitahu Nichole kalau ia akan mengantarnya ke kantor hari ini. Jadi, pagi-pagi begini Ansell sudah berada di depan rumah Nichole.


"Selamat pagi, sayang," ucap Ansell mengecup kening Nichole. Ia membukakan pintu dan mempersilahkan Nichole masuk.


"Selamat pagi, Ansell. Apa kau sudah sarapan? Aku sudah menyiapkan roti untukmu," ucap Nichole mengeluarkan tempat bekalnya.


"Belum. Aku ingin kau menyuapiku," ucap Ansell.


Nichole dengan senang hati menuruti permintaan Ansell. Ia mendekatkan sepotong roti ke mulut Ansell.


Ansell melahapnya dengan bahagia.


"Ini adalah roti coklat kesukaanmu. Aku bangun pagi sekali untuk menyiapkan ini," ucap Nichole masih tetap memberi suapan roti pada Ansell.


"Ah, maaf aku merepotkanmu. Tapi terima kasih. Roti ini sangat enak. Kau memang calon istri yang baik," ucap Ansell.


Nichole tersenyum malu.


Setelah roti habis, Ansell meminum teh buatan Nichole. Ia tidak terbiasa minum kopi, apalagi susu. Dan Nichole juga tahu hal itu dengan baik.


"Bagaimana pekerjaanmu? Apakah terasa berat? Apa ada masalah serius?" tanya Ansell.


Sambil menutup dan menyimpan tempat bekalnya, Nichole menjawab, "Pekerjaanku cukup lancar. Aku hanya sedikit kewalahan karena ini merupakan perusahaan gabungan. Ada beberapa kepala yang tidak sejalan denganku. Namun, aku sudah menanganinya."


Ansell mengangguk, "Baguslah. Tapi jangan terlalu memaksa dirimu. Aku sudah di sampingmu sekarang."


"Tentu saja," jawab Nichole tersenyum simpul.


Kemudian, Nichole teringat sesuatu, "Ah, iya. Ada seseorang yang pernah mengirim begitu banyak barang ke rumah dan kantorku. Selain itu, saham perusahaan kita seketika naik saat itu. Aku tidak tahu siapa mereka. Aku takut itu jebakan."

__ADS_1


Ansell tersenyum. Sepertinya itu adalah ulah Teo. Ia benar-benar menyerahkan seluruh yang dia miliki. Namun, Ansell tidak ingin memberitahu Nichole jika itu dari musuh.


"Itu bukan jebakan. Terima saja semua itu. Lagipula, perusahaan kita sedang butuh dana, kan? Manfaatkan semua hal itu untuk mengembangkan perusahaan kita," Ansell menjelaskan.


Nichole mengangguk mengerti. Ia percaya begitu saja dengan Ansell, "Baiklah. Karena kau sudah berkata begitu, maka aku akan menerimanya."


Tak lama setelah itu, mereka tiba di perusahaan. Ansell mengantar Nichole sampai ke dalam ruangannya.


"Apa kau ada waktu nanti malam?" tanya Ansell.


"Aku tidak memiliki pekerjaan apapun nanti malam," jawab Nichole.


"Kalau begitu, ayo kita makan malam," ucap Ansell.


Nichole langsung mengangguk. Momen inilah yang selalu ia tunggu-tunggu. Ia tak sabar menunggu malam tiba.


*


Setelah Ansell mengantar Nichole, Ansell turun ke bawah. Ia melihat Sam berada di sana dan menghampirinya.


"Tuan," ucap Sam sopan, langsung membungkuk begitu menyadari kehadiran Ansell.


"Bagaimana kabarmu? Apa kau betah bekerja di perusahaan baru ini?" tanya Ansell berbasa-basi.


"Tentu saja, Tuan. Perusahaan ini menjadi lebih hebat dari sebelumnya. Anda dan Nona Nichole benar-benar bekerja keras," jawab Sam sopan.


"Aku tidak berkontribusi apapun. Nicholelah yang bekerja sangat keras. Apa kau pernah melihat Nichole tertekan atau semacamnya? Aku mengkhawatirkannya," ucap Ansell.


Sam menggeleng, "Tidak, Tuan. Nona Nichole malah terlihat lebih ceria setelah perusahaan baru ini diresmikan."


Ansell mengangguk.


Sam menggeleng lagi, "Tidak ada juga, Tuan. Perusahaan tetap tenang beberapa hari ini. Tidak ada hal yang mencurigakan. Aku selalu berpatroli ke seluruh perusahaan."


Ansell mengangguk. Sepertinya Bivv Group belum bergerak. Atau mungkin Bivv Group tidak akan menyerang Majesty Company tapi langsung ke dirinya.


Semoga saja seperti yang diinginkan Ansell.


"Baiklah. Kalau begitu tetaplah waspada. Selalu bersiaga kapanpun. Musuh tidak pernah melihat waktu. Sepertinya akan ada kekacauan dalam waktu dekat. Segera perketat keamanan mulai dari sekarang," ucap Ansell memberi peringatan.


Walau ia belum tahu kapan dan ke mana Bivv Group harus bergerak, ia tetap harus mempersiapkan. Jika tidak, hal itu akan fatal.


"Baik, Tuan," jawab Sam patuh tanpa bertanya lebih lanjut. Padahal, ia sangat penasaran dengan apa yang dimaksud Ansell. Namun, ia tetap melakukan tugas sesuai perintah Ansell.


*


Seperti apa yang dijanjikan Ansell, malam ini Ansell dan Nichole pergi makan malam. Mereka pergi ke restoran yang belum pernah mereka coba. Ansell juga sudah memilih restoran yang paling sering didatangi pasangan.


Ansell dan Nichole tiba di salah satu restoran yang berada di hotel bintang lima. Gemerlap cahaya hotel menghiasi pekatnya malam ini.


Ansell dan Nichole saling bergandeng dan memasuki restoran.


"Silahkan duduk, Tuan Putri," ucap Ansell menarik kursi untuk Nichole.


"Terima kasih, Pangeranku," jawab Nichole yang membuat Ansell sedikit terkejut. Namun, ia buru-buru menyembunyikan rasa terkejutnya.


Beberapa makanan datang. Mereka pun langsung makan diiringi musik romantis. Banyak juga pasangan lain yang berada di sini.

__ADS_1


"Bagaimana harimu?" tanya Ansell.


Pertanyaan itu sangat sederhana, tapi membuat Nichole begitu tersentuh, "Sangat indah. Pagi bertemu denganmu dan malam bertemu lagi denganmu. Bebanku selama bekerja tadi hilang seketika."


Ansell tersenyum lebar. Ia sangat bahagia melihat Nichole bahagia. Nichole adalah wanita yang sangat beruntung ia miliki.


"Ansell, bagaimana denganmu?" tanya Nichole.


"Tentu saja hariku sangat indah. Aku menyiapkan kencan romantis untuk calon istriku," jawab Ansell masih dengan senyum lebarnya.


Setelah percakapan ringan itu, mereka kembali melanjutkan makan malam sampai pelayan menyajikan makanan terakhir ke meja mereka.


"Apakah setelah ini kita langsung pulang?" tanya Ansell.


"Aku harus kembali ke perusahaan dulu. Ada beberapa dokumen yang harus ku tandatangani," jawab Nichole.


"Bukankah sudah malam? Mengapa tidak besok saja?" tanya Ansell, tidak ingin Nichole bekerja terlalu keras.


"Tidak, Ansell. Ini sudah tanggung jawabku. Aku harus menyelesaikannya malam ini juga," jawab Nichole bersikeras.


"Baiklah," Ansell memilih mengalah. Setelah ini, mereka akan kembali ke perusahaan.


*


Di perusahaan.


Banyak karyawan yang lembur berkumpul di satu titik. Mereka seperti sedang menonton sesuatu.


Ansell dan Nichole yang baru saja tiba merasa penasaran. Mereka pun langsung bergabung ke kerumunan itu.


Di depan mereka, ada empat orang yang terkapar dengan wajah penuh darah. Namun, luka mereka tidak terlalu fatal dan mereka masih sadarkan diri.


Ansell dan Nichole tercengang.


Ternyata mereka adalah penjaga perusahaan baru, yaitu para elit.


"A-Ansell, apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Nichole yang syok. Ia tak pernah berpikir akan ada kejadian seperti ini di perusahaannya. Apalagi mereka adalah pekerja di perusahaannya.


Wajah Ansell juga muram. Ia berkata pada Nichole, "Naiklah lebih dulu. Aku akan menangani hal ini."


"Ta-tapi," Nichole ingin menolak.


"Nichole, tolong dengarkan aku," ucap Ansell.


Nichole yang masih syok manggut-manggut. Ia berkata pada para karyawan lain, "Kalian juga kembalilah bekerja. Jangan membuat kerumunan di sini."


Para karyawan mau tidak mau masuk ke perusahaan. Agak mengerikan juga jika orang yang membuat kekacauan ini menyerang mereka.


Ansell menghampiri Sam. Ternyata Sam juga terluka cukup parah. Ia pun membantu Sam duduk dan memberinya sebotol obat. Sam menerima obat itu dan langsung meminumnya.


"Sam, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang menyerang kalian?" tanya Ansell, menahan emosinya.


Setelah menghabiskan obat itu, Sam bernapas sebentar dan menjawab, "Tuan, ada beberapa orang yang datang. Mereka mencarimu. Namun, saat kami bilang Anda sedang di luar, mereka malah menyerang kami. Mereka benar-benar memiliki kekuatan. Kami kewalahan menghadapi mereka dan harus terluka parah."


Ansell tahu orang-orang itu pasti dari Bivv Group. Ternyata mereka sudah bergerak sekarang.


"Mereka hanya berani saat aku tidak ada," ucap Ansell geram.

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar suara provokasi dari luar.


__ADS_2