
Hari semakin malam tapi tak menyurutkan meriahnya pesta itu, hanya saja terlihat Khenin merasa tidak nyaman dengan tatapan Elang hingga saat Nisa mendekatinya pun, Khenin meminta ijin untuk pulang lebih dulu. "Ma, Khenin boleh pulang duluan nggak," Ucap Khenin pada Nisa.
"Kenapa sayang, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Nisa Khawatir.
"Tidak apa-apa ma, Khenin cuman sedikit pusing," Jawab Khenin.
"Ya sudah, biar kamu pulang bareng kak Elang ya soalnya mama sama om Henry masih belum bisa pulang," Ucap Nisa membuat Khenin terdiam terlihat semakin tidak nyaman, tujuannya ingin pulang agar bisa menghindari Elang tapi ini malah harus berduaan sama Elang di perjalanan nanti."Nggak apa-apa kan sayang," Tepukan tangan Nisa di bahu Khenin menyadarkannya dari lamunan.
"Ah iya ma," Ucap gugup Khenin.
**
Khenin terlihat berlari kecil mengikuti langkah kaki Elang menuju parkiran mobil. Saat sampai di mobil, Khenin yang merasa takut dengan Elang pun lebih memilih membuka pintu belakang dan masuk kedalamnya.
Sesaat hening, detak jantung Khenin mulai bertalu-talu terdengar oleh telinganya sendiri. Ia merasa takut karena Elang masih belum juga melajukan mobilnya. "Turun," Ucap Elang akhirnya bersuara.
"Kenapa kak, kan belum sampai," Ucap Khenin takut.
"Loe pikir gue supir apa...!!" Bentak Elang membuat Khenin tersentak. Gadis itu segera turun dari mobil dan pindah ke kursi depan, duduk disamping Elang yang berada di balik kemudi.
"Maaf kak," Lirih Khenin. Jujur saat ini dia tidak bisa menanggapi Elang dengan candaan seperti biasa karena dirinya akhir-akhir ini benar-benar merasa takut di lecehkan lagi oleh Elang.
Sebelum menyalakan mesin mobil, Elang membuka jas di tubuhnya kemudian melemparkan ke jok belakang. Elang mengendorkan dasi, menyikap lengan bajunya sampai batas siku hingga memperlihatkan urat-urat yang menonjol pada lengannya menggambarkan betapa gagahnya pria itu."Pasang sabuk pengaman loe," Ucap Elang dingin membuat Khenin segera menarik sabuk pengaman kemudian memasang di tubuhnya.
Perjalanan cukup lama membuat Khenin sedikit ngantuk tapi ia tahan takut Elang berbuat sesuatu pada dirinya. Mata Khenin yang tadinya menahan kantuk kini terbuka lebar saat mobil Elang tiba-tiba menepi di sebuah jalan yang sepi di bawah pepohonan. "Kenapa berhenti kak," Ucap Khenin takut sedikit beringsut dari duduknya.
"Loe sekarang ngaku, ada hubungan apa loe sama wanita bernama Siren itu," Tanya Elang dengan suara meninggi melepas seat belt kemudian mencondongkan tubuhnya semakin mendekat pada Khenin.
Khenin semakin beringsut dari tempat duduknya hingga tubuhnya membentur pintu mobil. "Maksud kak Elang, mama," Sontak sebutan Khenin mama pada Siren membuat Elang semakin tersulut amarahnya dan bukan hanya itu pikiran mesumnya kembali menjalar apalagi ia melihat bibir ranum Khenin.
"Jadi benar dia mama loe, gue tanya sekali lagi apa tujuan kalian pada keluarga gue," Tangan Elang terangkat memengang tengkuk leher Khenin tatapan mata tajam Elang tertuju pada bibir gadis itu.
"Khenin tidak tahu apa yang kak Elang maksud," Wajah Khenin terlihat semakin pucat benar-benar ketakutan.
"Masih juga loe nggak nggaku kalau mama loe itu simpanan bokap gue," Emosi Elang tangannya kini sudah menarik tengkuk leher Khenin hingga bibir Elang bisa leluasa mencium bibir Khenin. Elang benar-benar tidak bisa mengendalikan diri, ia terbawa oleh gairahnya sendiri melebihi amarahnya hingga ciuman itu beralih pada ceruk leher Khenin.
"Jangan Kak....hiks....hiks..." Teriak Khenin menangis apalagi ketika ia merasakan tangan Elang mulai meraba paha mulusnya. Dengan sekuat tenaga Khenin mendorong tubuh kekar Elang. Satu tangan Khenin terangkat dan refleks menampar pipi Elang membuat Elang seketika tersadar.
"Sial..."Umpat Elang meraup wajahnya kasar mencoba menetralisir mengendalikan dirinya yang lagi-lagi hampir melewati batas.
__ADS_1
"Kak Elang jangan seperti itu, Khenin takut," Ucap Khenin masih menangis ketakutan.
"Gue nggak akan bersikap seperti itu kalau loe sama mama loe nggak mengusik keluarga gue," Ucap Elang masih tetap membuat Khenin bingung dan tidak mengerti harus menjawab apa ucapan Elang.
Saat itu Elang pernah memergoki papanya sedang memeluk Siren di dalam kantor papanya. Elang mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menyaksikan itu semua, ia tidak terima penghianatan Henry pada mamanya. Ia berusaha mencari keberadaan Siren yang ternyata tidak menetap di kota ini hingga akhirnya ia memergoki Siren bersama Khenin saat Khenin belum tinggal di rumahnya dan hal itu yang membuat Elang mencurigai Khenin hingga saat ini kecurigaannya benar ketika Khenin menyebut mama pada wanita bernama Siren itu.
"Khenin benar-benar nggak ada maksud jahat Kak," Lirih Khenin membuyarkan lamunan Elang. Elang kemudian menoleh pada Khenin dengan mata tajamnya.
"Keluar," Ucap Elang yang masih merasa emosi dan jujur jika membiarkan Khenin di dekatnya, ia merasa dirinya seperti hewan buas yang tidak bisa mengendalikan diri.
Pernyataan Elang membuat rasa takut Khenin semakin jadi apalagi ketika ia menolehkan pandangannya pada arah luar, tampak sepi dan menyeramkan. Gadis itupun menggeleng. "Jangan kak, Khenin takut di luar sendirian," Ucap Khenin memelas dan memohon.
Elang menyeringai, ia masih sedikit merasakan kebas pada pipinya yang di tampar Khenin. "Bukannya loe lebih takut kalau sama gue," Elang membuka pintu mobil samping Khenin. "Turun!" Bentak Elang pada Khenin.
Gadis itu masih menangis perlahan melepas seat belt yang terpasang di tubuhnya. "Kak, aku takut. Aku ingin pulang," Ucap gadis itu lagi dengan isak tangis turun dari mobil.
Elang hanya terdiam, berusaha bersikap tenang tak menatap gadis itu seoalah apa yang dia lakukan tidak akan menimbulkan masalah dan ia tidak perduli jika nanti kedua orang tuanya menanyakan keberadaan Khenin.
"Kak....kak.....aku takut," Ucap Khenin mengetuk-ngetuk pintu mobil yang sudah di tutup Elang. Mobil Elang melaju meninggalkan Khenin yang mengejar hingga terjatuh di aspal dan lututnya berdarah. "Kak aku takut.....hiks.....hiks..." Tangis Khenin tak henti, perlahan ia menatap sekitar banyak suara-suara aneh yang membuatnya semakin ketakutan.
Khenin pun berdiri dan mulai melangkah, ia terus berjalan dengan kaki gemetar di jalan aspal itu. Jalan itu sangat gelap, tak ada satupun kendaraan yang lewat. Bukan hanya hantu yang ia takutkan tapi ia takut ada orang jahat yang akan menyakitinya. Ia berharap Elang berbelas kasih dan kembali menolongnya.
Kedua pemuda itu turun dari kendaraanya, "Hai cantik...kok sendirian aja? bagaimana kalau kami temani," Ucap salah satu pemuda itu.
Khenin mundur ketakutan. "Maaf, tolong jangan ganggu saya," Ucap Khenin gemetar.
Bukannya menurut ketiga cowok itu malah semakin tertarik pada Khenin, mana mungkin mereka membiarkan gadis secantik itu.
"Pergi!! atau aku teriak..."
"Teriak saja sayang, daerah sini sepi tidak ada yang dengar. Sini sama mas ya kita senang-senang," Kata itu sontak membuat Khenin menangis.
"Jangan mendekat, aku ingin pulang....hiks....hiks..." Tangis Khenin sama sekali tak membuat ketiga pemuda itu iba.
"Kita senang-senang dulu nanti baru kami antar pulang,"
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
(Author : 🤔🤔
Khenin : Lagi mikirin apa thor?
Author : Sekarang novel-novel yang lagi banyak di minati yang banyak adegan ranjangnya, author jadi kepikiran gimana kalau author juga bikin novel yang ada ranjang-ranjangnya.
Khenin : Emang berani thor.....
Author : Ya beranilah....
PLAAAK.....
Author : Adooh.....Siapa yang berani mukul author pake sapu😤
Khenin : bukan aku thor tp noh👇
Emak author : Coba ulangin tadi mau bikin novel apa...😠
Author : Ah kagak mak😁 aku cuman mau bikin novel yang judulnya "KASIHAN RANJANGNYA JADI RUSAK" gitu, bukan adegan ranjang mak....😅😅)
__ADS_1