Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 41


__ADS_3

Khenin begitu menikmati kue-kue yang ia pilih yang kini berada di tangannya, Elang tersenyum menatap gemas gadis yang di cintainya itu hingga tatapan matanya melihat seorang pria tampan nan gagah dan seorang anak laki-laki balita memakai masker mendekati Khenin berada,


"Mommy.....Mommy....." Ucap Anak balita itu berlari memeluk Khenin.


Khenin begitu kaget mendengar suara yang selama ini ia rindukan hingga menjatuhkan kue yang berada di tangannya, ia segera meraih dan menggedong anak balita yang memeluk kakinya. "Steve anakku sayang," Teriak Khenin.


Khenin memeluk dan menciumi Steve, ia begitu senang akhirnya bisa bersama Steve kembali, buah hatinya dengan Elang. Darrel tersenyum melihat kebahagiaan Khenin dan Steve, dirinya sedari tadi bertukar pesan dengan Bella menanyakan keberadaan Khenin untuk memberi kejutan.


Sedangkan Elang yang berada tidak jauh dari tempat Khenin seketika berdiri membuat tangan Devi yang berada di sampingnya terhempas.


Tangan Elang mengepal rahangnya mengeras melihat dan mendengar semua, apalagi saat ini di depan matanya terlihat dengan jelas Darrel mendekati Khenin dan anak balita yang berada dalam gendongan Khenin.


"Honney," Ucap Darrel mendekati Khenin dan.....


Cup....


Laki-laki itu seperti biasa mencium kening Khenin dan memeluk keduanya yang sudah dianggap nya seperti anak dan cucu padahal siapapun yang melihat pemandangan itu sungguh terlihat seperti sepasang keluarga kecil yang sangat bahagia.


Elang seperti ingin meledak karena kecemburuannya, ia tidak rela dengan itu semua.


Jadi Steve yang di panggil Khenin dalam igaunya, Steve yang di katakan Khenin segalanya dan penyemangat hidupnya adalah buah hati Khenin dengan Darrel....pikir Elang hatinya merasa panas.


Elang ingin melangkah cepat mendekati Khenin berada namun dengan cepat Satya mencegah.


"Loe, mau ngapain?" Ucap Satya menahan tubuh Elang yang benar-benar sudah di kuasai rasa cemburu.


"Khenin hanya milik gue, gue nggak mau siapapun medekatinya termasuk laki-laki itu," Ucap Elang mengertakkan gigi.


"Lalu bagaimana jika dia adalah suaminya?" Tanya Satya membuat Elang seketika terdiam, entahlah dirinya tidak tahu harus bagaimana yang jelas meskipun Darrel adalah suami Khenin sekali pun dirinya tidak akan rela dan akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan hati Khenin bahkan ia juga akan menerima anak Khenin sebagai anaknya asal Khenin bisa bersama dirinya. Pikiran jahat Elang.


"Gue nggak perduli.," Ucap Elang ingin kembali melangkah namun segera di tarik Satya pergi.


PRAAANG......


Sebuah hantaman kepalan tangan membuat kaca yang berada di kamar mandi pecah berurai dengan darah segar menetes.


"Lang, loe gila," Teriak Satya menghentikan aksi Elang yang ingin kembali nenghantamkan tangannya pada kaca di dinding yang sudah remuk itu. Beruntung kamar mandi itu berada pada kamar hotel YY yang di sewa Satya hingga tidak akan ada siapapun yang mendengar.

__ADS_1


"Ya, gue memang sudah gila," Jawab Elang tersenyum getir. Elang kini terduduk dengan tangan masih terus meneteskan darah segar. Laki-laki itu tampak kacau.


"Gue tahu perasaan loe tapi loe harus ikhlas jika memang Khenin sudah memiliki kehidupan sendiri bersama keluarganya," Ucap Satya yang mendaratkan tubuhnya di lantai ikut duduk di sebelah Elang.


"Gue nggak bisa, Khenin hanya milik gue," Kekeh Elang. "Gue nggak tahu semenjak bertemu dengan Khenin, hati gue seperti terikat dengan dirinya. Gue nggak bisa melepas perasaan ini terutama dirinya, gue bisa mati Sat," Ucap Elang terlihat gurat kesedihan dan ketakutan kehilangan Khenin di wajah pria tampan itu.


"Lang, loe nggak bisa paksain semuanya sesuai dengan keinginan loe, loe harus terima kenyataan kalau Khenin mungkin bukan jodoh loe," Tutur Satya, Elang hanya terdiam.


Persetan dengan jodoh. Pikir Elang yang ia inginkan hanya Khenin.


**


Didepan kediaman rumah Darrel yang kini menjadi rumah Khenin terlihat Steve sedang berlari-lari kecil dengan Khenin di belakangnya. "Steve ayo cepat makan dulu sayuran wotelnya," Ucap Khenin mengejar Steve dengan sebuah piring di tangannya. Anak itu sungguh mirip dengan Elang, tidak pernah menyukai sayuran wortel.


"Steve tidak mau Mom," Tolak Steve yang masih betah berlari dengan tawa kecil.


"Baiklah kalau tidak mau, Mommy nanti tidak akan ngajak Steve jalan-jalan." Ucap Khenin membuat Steve seketika menghentikan gerakan lari kakinya. Bocah balita itu kini mendekati Khenin dengan tampang cemberut.


"Mommy culang, Steve ingin jalan-jalan," Ucap Steve merengek menarik narik drees yang di kenakan Khenin.


Steve membuka mulut dan menutup mata serta tangan kecilnya menjapit hidung agar aroma dari wortel tidak menyeruak sampai ke hidung. Wajah nyengir Steve yang mengunyah wortel telihat sangat lucu dan menggemaskan hingga membuat Khenin tertawa lepas.


Pemandangan itu mengundang senyum seorang pria bermata tajam yang saat ini sedang berdiri di depan pagar kediaman rumah Khenin.


Melalui sela-sela pagar besi kokoh itu, Elang yang berdiri bersandar pada cap mobil dapat melihat jelas tawa dan senyum lepas Khenin yang tidak pernah di suguhkan untuk dirinya.


Andai anak itu anak kita Nin, aku pasti akan sangat bahagia tapi meskipun begitu aku akan menerimanya seperti anak kandungku asal kau mau bersamaku. Lirih Elang yang sudah bucin akut pada Khenin. Laki-laki itu sama sekali tak memperhatikan wajah Steve yang begitu mirip dengan dirinya.


Elang masih tersenyum, tatapan nya tak beralih sedikitpun dari Khenin hingga senyum itu seketika memudar ketika melihat Darrel mendekati keduanya. "Didi.....didi.....," Teriak Steve berlari kecil meraih tubuh Darrel yang menggendongnya.


Elang mengepalkan tangan, entahlah sudah sebesar apa rasa cemburu yang di rasakan pria tampan itu hingga ia memutuskan masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi hingga sampai di perusahaan.


"Honney," Ucap Darrel mendekati Khenin yang duduk di punggiran ranjang setelah menidurkan Steve. Khenin menoleh pada Darrel yang ikut mendudukkan dirinya di samping Khenin.


"Ada apa kak?" Tanya Khenin menatap Darrel.


"Boleh aku bertanya?"

__ADS_1


"Tentu kak,"


Darrel memegang tangan Khenin, "Siapa ayah Steve, laki-laki yang sudah merenggut kesucianmu?" Tanya Darrel membuat wajah ceria Khenin seketika memudar, gadis itu terdiam dan menunduk dengan tetesan air sudah jatuh dari pelupuk manik mata indahnya.


Pertanyaan itu sudah berulang kali di tanyakan Syarif dan Darrel yang merasa geram, namun Khenin memilih untuk bungkam bahkan dirinya juga meminta Mamanya Siren untuk berjanji tidak memberitahu siapapun pelaku permerkosa dirinya.


"Apa dia Elang Pradana?" Tanya Darrel membuat Khenin yang menunduk seketika mendongak menatap dirinya.


"Apa maksud kakak?" Tanya khenin bingung dari mana paman kecilnya itu tahu.


"Jawab kakak," Ucap Darrel.


"Kak, itu tidak benar," Lirih Khenin berbohong ingin melindungi Elang agar Darrel tidak menyakiti pria bemata tajam itu.


"Jika itu tidak benar lalu kebetulan apa ini Honney?" Darrel mengeluarkan dua buah Foto dan menunjukkan pada Khenin.


Khenin menatap Foto itu, foto Elang dan steve. Wajah Steve terlihat jelas seperti fotokopi dari wajah Elang membuat Khenin tak bisa mengelak lagi, ia sudah tidak bisa menutupi semuanya dari Darrel.


"Hiks.....hiks...," Khenin menangis dan memeluk Darrel, "Jangan sakiti dia kak, aku mencintainya," Ucap Khenin di sela tangis semakin mengeratkan pelukan pada paman kecilnya yang tampan itu.


Sedangkan Darrel tampak mengertakkan gigi dan tangannya mengepal.......


ELANG PRADANA.......


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2