
Pagi hari, tampak Khenin sudah keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Khenin menatap ke arah sofa tampaknya Elang masih betah dengan tidurnya.
Khenin melangkah mendekati Elang dan duduk di pinggiran sofa secara perlahan, ada rasa bersalah yang terpancar dari wajahnya melihat suaminya.
"Maafkan aku kak, aku akan berusaha untuk menjadi istri seutuhnya buat kakak." Lirih Khenin mendekatkan wajahnya sembari menutup mata hendak mencium kening Elang namun tampaknya pria bermata tajam itu tidak benar-benar tidur hingga bukan kening yang Khenin rasakan dalam ciumannya melainkan lembutnya bibir Elang.
Khenin segera membuka mata dan melepas ciuman itu namun Elang segera mengalungkan tangannya pada tubuh Khenin hingga jatuh ke atas tubuhnya. "Kak," Lirih Khenin.
Elang menarik tubuh Khenin hingga bergeser di sampingnya. "Tenanglah sayang, aku tidak akan melakukan lebih selagi kamu belum siap. Aku cuman ingin tidur sambil meluk kamu seperti ini." Ucap Elang kembali memejamkan mata memeluk erat, merasakan aroma wangi tubuh Khenin di sampingnya.
"Maaf semalam aku," Ucap Khenin segera di sela Elang.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap, semua memang salahku sayang," Ucap Elang.
Tok....
Tok.....
Suara ketukan pintu kamar membuat Khenin segera melepas pelukan Elang dan bangun dari posisinya yang tidur di samping Elang. "Aku buka pintu kak," Ucap Khenin melangkah mendekati pintu kamar. Elang ikut membangunkan tubuhnya duduk di pinggiran sofa.
Ceklek......
Pintu kamar Khenin terbuka, tampak Steve mencebikkan bibir dengan tangan melipat di depan dada. "Mommy kenapa lama sekali buka pintu nya," Gerutu steve masih memakai piyama tidurnya.
"Iya sayang maaf," Ucap Khenin tersenyum. Steve melangkah menghampiri Elang, "Papi," Panggil Steve yang segera di bawa Elang ke dalam pangkuannya.
"Anak papi, sudah mandi belum?" Tanya Elang pada Steve.
Steve menggeleng. "Steve baru bangun, Didi masih tidur katanya ini hari libur," Jawab Steve.
"Steve, sekarang mandi dulu yuk sama mommy," Ajak Khenin.
"Biar aku yang mandiin sayang," Elang menggendong tubuh Steve. "Kamu mandi sama papi ya," Ucap Elang tersenyum pada Steve kemudian kembali menoleh pada Khenin. "Mommy mau Papi mandiin juga," Goda Elang segera membawa Steve masuk ke dalam kamar mandi, keduanya tertawa bahagia meninggalkan Khenin yang masih berdiri di dekat sofa.
"Dasar pria bermata tajam, aku sungguh mencintaimu," Lirih Khenin.
Hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Khenin sudah berada diruang makan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya. "Honney, Steve mana," Tanya Darrel baru turun dengan setelan baju kerja nya. Pria gagah sudah tampak rapi dan tampan.
__ADS_1
"Lagi mandi kak sama Papi nya." Jawab Khenin menaruh piring di depan Darrel yang sudah duduk di kursinya. Khenin menyajikan nasi goreng buatannya di piring Darrel, pria tampan itu segera mengambil sendok dan memakan nasi goreng buatan ponakannya itu.
Tak berapa lama tampak Elang dan Steve sudah segar dengan pakaian santai mereka menuruni tangga. Keduanya tampak tersenyum dan saling bercanda, sungguh ayah dan anak yang harmonis.
"Mommy, didi," Teriak Steve mendekati meja makan bersama Elang yang berada di belakangnya.
"Jagoan didi, tadi kenapa ninggalin didi di kamar sendirian?" Darrel mendudukan Steve di kursi dekat ia duduk kemudian melanjutkan makan.
"Didi tidur mendengkur, Steve kebangun," Ceplos Steve membuat Darrel hampir tersedak.
"Minum kak," Khenin menahan tawa menyodorkan segelas air sedangkan Elang sudah tertawa sembari ikut duduk di samping Steve.
"Eh siapa bilang Didi mendengkur," Elak Darrel tak terima.
"Aku yang bilang, pantas saja Didi tidak punya pacar," Ceplos Steve membuat Darrel tertawa ia sama sekali tak tersinggung dengan ucapan Steve.
"Kamu masih kecil, tahu apa tentang pacar," Steve mengusap-usap gemas rambut Steve.
"Ya sudah kamu makan dulu sayang," Ucap Khenin memberikan piring berisi nasi goreng pada Steve dan Elang. "Oh ya, Kak Darrel mau kemana? Katanya libur." Tanya Khenin.
"Tidak jadi, hari ini kakak akan ke perancis, Opa di sana butuh kakak apalagi kak Siren juga habis melahirkan dan kak Denis pasti akan sibuk dengan bayinya." Jawab Darrel.
"Dan untuk kamu Elang, sekarang mereka berdua tanggung jawab kamu. Jaga keduanya baik-baik," Ucap tegas Darrel menatap Elang.
"Tentu, aku pasti menjaga mereka dengan nyawaku dan aku pastikan anak dan istriku akan bahagia," Ucap Elang tulus pada Darrel.
*****
Darrel sudah kembali ke perancis, Khenin dan Steve kini sudah berada di mobil yang di kemudikan Elang. Ketiganya ingin jalan-jalan atau lebih tepatnya berbelanja ke Mall karena Steve merengek ingin sekali berkemah di taman depan rumah seperti cerita teman-temannya di sekolah.
Elang sudah memarkirkan mobilnya di parkiran yang berada di Mall.
Blaak....
Pintu mobil sudah tertutup, khenin menghentikan langkahnya yang menggandeng Steve, ia mencari keberadaan Elang yang terdiam setelah membukakan pintu mobil untuk nya dan Steve.
Elang terlihat tersenyum bahagia di sana masih berdiri di samping pintu mobil. "Kenapa kak," Tanya Khenin mendekati Elang.
__ADS_1
"Aku bahagia sayang memiliki kalian," Ucap Elang menggandeng tangan Khenin setelah menggendong Steve. Ketiganya memasuki Mall besar itu yang berada di pusat kota YY.
Tempat pertama yang menjadi tujuan mereka adalah sebuah store yang menjual perlengkapan untuk berkemah. "Kalian yakin ingin berkemah di depan rumah atau papi ajak kalian ke puncak dan kita menyewa Vila," Tawar Elang pada Steve dan Khenin.
"Sure Pi, Steve ingin di depan rumah seperti teman-teman Steve," Jawab Steve.
"Lagian besok juga Steve harus kembali sekolah kak, sebentar lagi ujian." Imbuh Khenin.
Elang menghela nafas, ada benarnya juga yang di katakan anak dan istrinya namun sebenarnya pria bermata tajam itu ingin sekali meluangkan waktu untuk keduanya apalagi mereka baru saja menikah dan Elang ingin berencana liburan anggap saja sekalian bulan madu bersama istri dan anaknya.
"Ya sudah kita pesan perlengkapan untuk kemah kita nanti malam," Ucap Elang.
Setelah memesan semua perlengkapan untuk berkemah agar di kirim ke alamat rumah, kini Elang beralih mengajak anak dan istrinya untuk melangkah menuju Clothing Store. Elang masih setia mendapingi Khenin dan Steve untuk memilih-milih pakaian.
"Sayang aku angkat telp dulu ya," Pamit Elang sedikit menjauh dari Khenin dan Steve yang sedang memilih baju.
Khenin masih memilih baju hingga tanpa sadar ada seorang wanita cantik seusia dengan Elang memakai baju seksi mendekati keberadaan pria bermata tajam itu.
"Elang, hei apa kabar," Sapa perempuan itu tanpa basa basi memeluk Elang membuat Khenin menoleh pada keberadaan Elang, wanita muda itu seketika kaget dan ada rasa cemburu kini yang memanas di hati nya melihat pemandangan itu.
"Sonya, Loe kenapa di sini?" Tanya Elang tak menolak tapi tak juga membalas pelukan wanita itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut ke BONCHAP tiga ya.....