Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 66. (End)


__ADS_3

"Opa, Oma," Ucap Khenin merasa takut.


"Nin, bawa Steve masuk ke dalam," Perintah Syarif.


"Tapi Opa,"


"Bawa masuk Steve," Ulang Syarif.


"Nin, bawa anak kita masuk," Lirih Elang menatap Khenin.


Dengan berat hati Khenin mengangguk dan membawa Steve masuk ke dalam kamar. Khenin segera menidurkan Steve di kamar dan segera kembali melangkah menuju ruang tamu namun pada anak tangga terakhir langkah kakinya terhenti seketika....


Plaaak.....


Sebuah tamparan di layangkan Syarif pada Elang.


Elang tak bergeming seperti tidak merasakan sakit sedikitpun. "Tuan saya adalah Elang Pradana ayah kandung Steve dan saya sangat mencintai Khenin," Ucap Elang.


Bugh.....


Bugh....


Kini bukan lagi tamparan tapi sebuah pukulan bertubi-tubi di layangkan di perut Elang membuat pria itu terjatuh. Khenin membekap mulutnya agar tidak menjerit karena tatapan mata Elang seolah melarangnya. "Kau pikir aku tidak tahu, kau juga adalah penyebab kematian anakku Diana hah," Ucap Syarif memberi pukulan lagi pada Elang.


"Bangun kau," Teriak Syarif. Syarif diam-diam menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki tentang kecelakaan yang mengakibatkan kematian Diana, ia begitu marah mengetahui Elang adalah penyebabnya apalagi beberapa hari ini anak buahnya memberikan laporan jika Khenin dekat dengan Elang. Syarif ingin memutuskan hubungan Elang dan Khenin dengan menjodohkan cucunya itu pada Bram.


Elang pun bangun dan kembali berdiri di hadapan Syarif. "Saya memang bersalah tuan, saya memang tidak pantas untuk di maafkan tapi saya sungguh sangat mencintai Khenin," Hanya itu kata yang dapat di ucapkan Elang sebagai penyesalannya yang terdalam karena ia tahu bahkan nyawa yang ia miliki pun mungkin tidak akan cukup untuk menebus atas semua kesalahan-kesalahannya.


Syarif yang masih di kuasai emosi pun mengeluarkan sebuah senjata api, membuat Khenin refleks berteriak dan berlari. "Jangan Opa, hiks.....hiks..." Tangis Khenin kini berada di hadapan Syarif melindungi Elang dengan tubuhnya, menggantikan posisi pistol yang semula terarah pada Elang kini berada tepat di depan wajahnya.


"Nin," Lirih Elang ingin menggeser tubuh Khenin agar beralih ke belakang tubuhnya namun Khenin menolak.


"Pa jangan," Teriak Nany namun tak di hiraukan oleh Syarif.


"Minggir kau," Teriak Syarif pada Khenin.


"Tidak Opa, jika ingin menembak, tembak aku dulu," Ucap Khenin terisak.


"Kau...!!" Bentak Syarif.


"Khenin sangat mencintai kak Elang Opa,"


"Kau tahu, dia adalah pembunuh kedua orang tuamu,"


"Kak Elang bukan pembunuh Opa, kematian Papa dan Mama sudah takdir, kak Elang tidak sengaja saat itu,"

__ADS_1


"Kau tahu apa hah, kau di butakan oleh cinta bodohmu itu," Teriak Syarif masih tak terima.


"Khenin tahu Opa, karena saat kecelakaan itu terjadi Khenin ada di sana, kak Elang tidak sengaja saat itu," Histeris Khenin meluapkan perasaannya hingga ingatan itu kembali berputar di pikirannya.


"Kak Elang masih di bawa umur saat itu dan ia harus mendapat hukuman, hukuman yang lebih menyakitkan dari pada di penjara. Kak Elang selama ini hidup dalam rasa bersalah, selama bertahun-tahun kak Elang mengalami depresi akibat rasa penyesalannya, hiks....hiks....." Khenin mendekap kepalanya yang mulai berdenyut, depresi yang juga sering Khenin alami ketika mengingat kecelakaan itu mulai menjalar kembali.


"Nin," Elang memegang bahu Khenin, ia mulai Khawatir melihat Khenin.


"Jika Opa menyalahkan kak Elang, apakah Opa juga tidak merasa bersalah? Waktu kecil Khenin sering melihat mama menangis, menangis karena merindukan kalian....hiks....hiks...." Tangis Khenin meluapkan semua apa yang ia rasakan.


"Dimana kalian saat itu, Opa aku sedari kecil sudah hidup tanpa Mama, Papa dan aku tidak ingin Steve juga mengalami nasib yang sama sepertiku, restui kami Opa, Oma, berikan restu itu yang tidak kalian berikan pada Mama dan Papa ku dulu," Teriak Khenin semakin memegang erat kepalanya mencoba bertahan,


Elang mendekap erat tubuh Khenin takut depresi yang juga di alami Khenin kambuh.


"Cukup Pa, Ma.....biarkanlah ponakanku memilih kebahagiannya sendiri jangan hakimi lagi mereka seperti pada kak Diana dulu," Ucap Darrel yang tiba-tiba datang.


Syarif perlahan melepas senjata apinya, begitu juga Oma Khenin yang seketika menangis mengingat Diana, keduanya mulai sadar bahwa mereka juga bersalah dan tidak berhak menghakimi Elang atau memaksa kehendaknya lagi seperti pada Diana.


Syarif tidak ingin kehilangan lagi seperti kehilangan Diana.


"Maafkan kami nak," Tangis Syarif dan Nany segera memeluk Khenin.


******


Seminggu sudah berlalu dan seminggu itu pula Elang dan Khenin sama sekali tidak bertemu. Kini di depan rumah Khenin tampak terpasang berbagai hiasan dekorasi pengantin sederhana namun terkesan mewah.



Anggap saja model gaun kebaya Khenin seperti itu πŸ‘† karena author nggak tahu banyak tentang gaun atau kebaya pengantin.....author cuman tahu model daster emaknya author di pasar..πŸ˜…


Khenin tersenyum menanggapi ucapan perias itu.


"Mommy kapan Papi datang Steve sudah kangen Papi," Ucap Steve yang tampak tampan dengan setelan jas yang nantinya akan sama dengan setelan jas yang di kenakan oleh Elang.


"Sebentar lagi sayang," Ucap Khenin.


Di sisi lain tampak mobil Elang yang di kemudikan Satya kini sudah terparkir di depan rumah Khenin, Elang tampak gagah keluar dari mobilnya bersama Henry dan Nisa di sampingnya.


Tak banyak tamu yang hadir hanya kerabat dekat dari keluarga kedua belah pihak yang datang untuk turut menyaksikan acara pernikahan Elang dan Khenin. Sedangkan Siren sebagai mama Kecil Khenin dan suaminya tidak bisa turut hadir karena harus mendapatkan perawatan di rumah sakit setelah melahirkan.


Elang sebenarnya ingin mengadakan pernikahan secara meriah agar semua tahu bahwa Khenin adalah istrinya yang sah namun Khenin menolak, Khenin ingin pernikahan yang sederhana yang hanya di saksikan oleh keluarga. Elang tak bisa untuk tidak menuruti permintaan Khenin karena biar bagaimana pun yang terpenting bagi dirinya adalah Khenin menjadi miliknya menjadi pendamping seumur hidupnya.


"Tuan Syarif, tuan Darrel," Sapa Henry menjabat tangan Syarif dan Darrel yang menyambut kedatangan mereka bergantian dengan Nisa.


"Silahkan," Ucap Syarif, ia sudah mengenal Henry dan Nisa sebagai teman baik Diana.

__ADS_1


"Opa," Elang mencium punggung tangan Syarif dan menjabat tangan Darrel paman kecil Khenin.


Elang perlahan mengedarkan pandangan mencari keradaan belahan jiwanya, jujur ia sangat merindukan Khenin dan anaknya Steve.


Beberapa saat akhirnya pak penghulu datang dan kini sudah berhadapan dengan Elang yang di temani Henry.


Darrel terlihat mepersilahkan seorang pria paruh baya, untuk duduk di dekat penghulu, ya kemarin Darrel sudah menjemput saudara laki-laki dari kakek Khenin yaitu tepatnya Paman dari Doni ayah Khenin yang nantinya akan menjadi wali untuk pernikahan Khenin dan Elang.


"Silahkan pengantin wanitanya untuk di persilahkan hadir," Ucap penghulu.


"Baik Pak," Ucap Darrel beranjak hendak menjeput Khenin namun urung ketika semua mata menatap sang penganting wanita sudah menuruni tangga bersama Nany di sampingnya dan juga si tampan Steve. Nisa segera menghampiri Khenin dan menggedong Steve cucunya.


Semua mata memandang pengantin wanita itu, terutama mata tajam Elang tak berkedip sedikitpun melihat calon istrinya yang begitu cantik seperti bidadari.


Henry menyenggol lengan Elang ketika pria bermata tajam itu tak melepas pandangan sedikitpun pada Khenin. "Fokus Lang, jangan sampai kamu melupakan kalimat ijab kabul nanti," Goda Henry membuat Elang tersenyum malu.


Khenin kini sudah duduk di samping Elang di hadapan penghulu.


Acara proses ijab kabul pun berlangsung, Elang dapat mengucapkan kalimat ijab kabul sekali tarikan nafas dengan benar dan jelas hingga terdengar kata "SAH" dari semua pihak.


Khenin mencium punggung tangan Elang yang saat ini sudah menjadi suaminya, Elang pun mencium Kening Khenin dan kini Steve juga sudah duduk di antara keduanya. Keduanya mencium pipi Steve secara bersamaan, akhirnya keduanya sudah resmi menikah dan hidup bahagia selamanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


--__ The End__---


Terima kasih buat para readers tercinta sudah mengikuti cerita author dari awal hingga akhir meskipun sering kesal karena menunggu lama author up date🀭....Maafin author yaπŸ™πŸ™ Semoga kalian semua terhibur. Jaga kesehatan selalu... Love you all😍😍.

__ADS_1


(Buat yg ingin bonchap, komen ya. Semakin banyak komen & Like kalian semakin semangat author nulis kemesraan rumah tangga Khenin dan Elang)


__ADS_2