
Hari sudah semakin sore dan hujan deras mengguyur ketika Elang dan Khenin meninggalkan panti asuhan itu. Khenin terdiam duduk di samping Elang yang berada di balik kemudi. Gadis itu tampak termenung mengingat Bagas yang menangis tidak mau ia tinggalkan. "Loe tunggu disini, jangan keluar," Ucap Elang keluar memeriksa mobilnya yang tiba-tiba terhenti.
Hujan semakin deras, kilatan petir membuat Khenin semakin ketakutan apalagi Elang tak kunjung kembali. Dari dalam mobil ia tak bisa melihat keberadaan Elang karena terhalang oleh kap mobil yang terbuka. "Kak Elang," Panggil Khenin, tapi suara gadis itu pasti sama sekali tak terdengar oleh Elang karena berisiknya suara deras air hujan yang beriringan dengan suara petir.
Khenin yang benar-benar merasa takut pun memutuskan keluar dari mobil memastikan keberadaan Elang hingga tubuhnya basah kuyup.
Bugh.....
Bugh......
Seketika mata Khenin membulat menyaksikan beberapa orang sedang baku hantam dengan Elang. Ia tidak tahu harus bagaimana, yang dapat ia lakukan hanyalah ingin berteriak minta tolong tapi urung ia lakukan karena beberapa orang yang melawan Elang terlihat sudah babak belur terbaring di aspal akibat di hajar oleh laki-laki tampan itu. "Siapa yang nyuruh loe?" Bentak Elang pada salah satu laki-laki yang sudah tak berdaya, laki-laki itu tengkurap di aspal dengan tangan di tekan di belakang punggungnya oleh Elang.
"Jawab siapa yang nyuruh loe bangsat!!!" Pertanyaan itu di lontarkan lagi oleh Elang bukan tanpa alasan, tapi karena sedari pagi saat ia berangkat keluar rumah dengan Khenin, mata tajam Elang sudah menangkap ada yang memperhatikan dan mengikuti pergerakannya hingga saat ini. Elang semakin menekan tangan orang itu dan satu pukulan kembali ia layangkan membuat laki-laki itu menyerah dan mengatakan siapa orang yang menyewa mereka untuk menghabisi Elang.
Khenin tidak dapat mendengar siapa nama yang di sebut laki-laki itu karena ucapannya bersamaan dengan gemuruh suara petir yang muncul. "Dasar pengecut," Umpat Elang melepas tangan laki-laki itu yang sudah tak berdaya dan terkapar di aspal dengan beberapa temannya. "Loe bego apa, gue suruh loe tunggu di dalam mobil," Marah Elang sembari meraup wajahnya menyingkirkan air hujan yang menghalangi pandangannya melangkah kemudian menutup kap mobilnya yang masih terbuka.
Tanpa berkata Khenin bergegas masuk ke dalam mobil meskipun dalam hati ia merasa penasaran dan bingung, kenapa ada yang ingin mencelakai Elang tapi dirinya tidak mungkin berani bertanya pada laki-laki itu.
Blaak.....
Elang sudah menutup pintu mobilnya, sebenarnya mobil yang ia kendarai tadi tidak bermasalah hanya saja ia sengaja menyuruh gadis itu tetap di dalam mobil agar bisa menghadapi beberapa orang tadi yang mengikuti dirinya tanpa Khenin ketahui. Elang sekilas menatap Khenin yang terlihat basah kuyup. "Sial..." Umpat Elang dalam hati segera memalingkan wajahnya sebelum pikiran mesum yang khusus spesial hanya untuk gadis itu seorang muncul kembali karena melihat baju putih seragam Khenin yang basah.
Elang segera meraih jaketnya di kursi belakang. "Pake..." Ucap Elang. Khenin menatap jaket Elang yang sudah beralih di tangannya.
"Kakak juga basah kuyup," Ucap Khenin hendak memberikan kembali jaket itu pada Elang.
"Pake.." Bentak Elang.
"Tapi kakak juga basah ku," Ucap gadis itu terhenti dan segera memundurkan tubuhnya karena Elang seketika mencondongkan tubuh kekarnya mendekati Khenin dengan tatapan tajam dan semakin lama semakin mendekat hingga Khenin bisa merasakan terpaan nafas Elang.
"Loe mau pake atau loe ingin gue hilang kendali lihat tubuh loe," Arah tatapan mata Elang menuntun manik mata Khenin untuk melihat bahwa baju seragam putih yang ia kenakan menjadi tembus pandang karena basah.
Menyadari itu Khenin seketika merasa takut. "Iya kak aku pake," Ia segera memakai jaket Elang.
__ADS_1
Elang menghela nafas setelah kembali ke posisi duduknya kemudian memegang setir melajukan mobilnya. Sungguh ia sama sekali tidak mengerti dengan dirinya, kenapa pikiran mesum itu selalu menjalar jika di dekat Khenin.
Setelah dalam perjalanan akhirnya mobil Elang sampai juga di rumahnya yang terlihat sepi hanya ada beberapa petugas keamanan yang berjaga di pos depan rumahnya. Khenin segera masuk ke dalam kamarnya di ikuti Elang yang juga masuk ke dalam kamarnya.
Khenin segera masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri kemudian menjalankan sholat setelahnya, sedangkan Elang saat ini masih di kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menjernihkan pikiran yang selalu di penuhi dengan Khenin.
Malam hari sekitar pukul setengah sepuluh malam Khenin terbangun ketika merasakan perutnya terasa sakit, ia pun merasakan ada yang aneh dengan dirinya hingga ia memutuskan ke kemar mandi dan ternyata dugaannya benar kalau dirinya sedang datang bulan. Khenin pun mencari obat untuk meringankan nyeri perutnya yang semakin terasa tapi obat itu ternyata sudah habis.
huh....untung persediaan pembalutku tadi masih ada banyak....Bathin Khenin
"Aduuh..." Lirih Khenin mengaduh merasakan nyeri di perutnya, ia pun masih dengan piyama tidur segera mengambil jaket memutuskan perlahan keluar dari kamarnya.
Cekleek.....
Khenin perlahan menutup pintu kamarnya, sejenak ia bersandar pada diding sembari meringis sakit memegangi perutnya, keringat dingin terlihat di wajahnya. "Kenapa loe?" Tanya Elang yang berjalan mendekat, membuat Khenin berjingat kaget. Elang tampak baru dari bawah dengan sebotol air mineral di tangan.
"Nggak kak..." Khenin mencoba memaksakan mengangkat kedua sudut bibirnya, menahan rasa nyeri yang ia rasa. Elang curiga menatap Khenin yang memakai jaket dan tangannya memegang dompet, terlihat seperti hendak keluar rumah.
"Tunggu," Elang menarik tangan Khenin yang hendak melangkah meninggalkannya. "Loe mau kemana?" Tanya Elang menghadap gadis itu.
"Sudah malam, kembali ke kamar," Ucap Elang dingin.
"Maaf kak, aku cuman ingin....aah...." Khenin refleks memegang perutnya yang semakin nyeri.
Elang yang melihat wajah Khenin yang tampak pucat seperti menahan rasa sakit pun menautkan kedua alis. "Loe sakit?" Tanya Elang, tapi Khenin segera menggeleng.
"Aku nggak apa-apa kak, aku ingin keluar sebentar buat beli obat," Ucap Khenin.
"Gak usah, gue panggil dokter," Ucap Elang.
Hah, panggil dokter inikan cuman nyeri datang bulan biasanya aku cukup minum jamu atau minum obat yang aku beli dari toko tapi ini masak harus ke dokter, malu aku nanti. Bathin Khenin.
"Jangan kak....aku nggak apa-apa," Cegah Khenin melihat Elang yang sudah mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi dokter.
__ADS_1
"Jangan bohong, loe lagi sakit," Elang masih memegang ponselnya..
"Jangan panggil dokter kak, aku cuman pingin ke apotik beli obat sebentar nanti sakitnya pasti reda," Ucap Khenin dengan wajah memelas agar pria tampan itu memberi ijin.
Elang menatap Khenin sejenak kemudian menghela nafas. "Loe butuh obat apa, biar gue yang beliin," Tanya Elang merasa tidak tega dengan gadis itu.
Khenin terlihat bingung menjawab pertanyaan Elang, yang jelas dirinya merasa malu mengatakan obat yang ia butuhkan pada perjaka tampan itu. "Aku aja kak yang beli," Jawab Khenin, tangannya memegang perut menahan rasa nyeri nya.
"Gue panggil dokter kalau gitu," Ancam Elang membuat Khenin tidak berani lagi membantah.
"Itu obat....obat....." Gadis perawan itu masih malu untuk mengatakannya pada perjaka itu. Sedangkan Elang menautkan alis menahan geram menunggu jawaban Khenin.
"Buruan, loe butuh obat apa?" Tanya Elang meninggikan suaranya refleks membuat Khenin menjawab seketika.
"Obat buat sakit nyeri datang bulan kak," Jawab Khenin lengkap dan jelas. "Ups," Khenin menutup mulutnya dengan tangan, gadis itu segera menunduk merasa malu tidak berani menatap Elang.
"Ya sudah loe istirahat, gue beliin," Ucap Elang terlihat santai melangkah meninggalkan Khenin yang masih menahan malu.
"Sial... gue kenapa jadi ngurusin masalah cewek begini sih," Bathin Elang.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....