
"Kenapa nggak di makan?" Tanya Elang melihat Khenin menatap bubur ayam yang ada di hadapannya. Saat ini keduanya sudah berada di sebuah warung bubur ayam yang ada di sekitar taman tempat ia berolah raga tadi.
Khenin terdiam, ia teringat saat ia sedang hamil Steve, dirinya benar benar ngidam ingin sekali makan bubur ayam di suapin oleh Elang. Tapi itu mustahil karena pada saat itu jangan kan di suapi Elang, bahkan sampai sekarang pun pria bermata tajam itu sama sekali belum mengetahui keberadaan Steve anak kandungnya.
"Atau mau aku suapin ya," Ucap Elang tersenyum.
"Jangan kak," Tolak Khenin tapi terlambat, Elang sudah menyodorkan sendok di depan mulutnya.
"A...," Ucap Elang agar Khenin membuka mulutnya. Khenin pun terpaksa menuruti Elang memakan suapan yang di berikan Elang hingga tanpa terasa genangan air mengalir dari pelupuk manik mata indahnya.
Andai waktu aku hamil Steve kakak ada seperti ini. Bathin Khenin.
"Hei, kenapa kamu nangis," Elang mengusap lembut air mata Khenin yang duduk di hadapannya. "Maaf," Ucap Elang menatap sayu gadis itu, ia tahu pasti Khenin selama ini menderita atas semua perbuatannya.
Khenin perlahan menepis tangan Elang yang masih mengusap lembut pipinya. "Aku sudah kenyang kak," Khenin hendak beranjak tapi tangannya segera di tahan oleh Elang.
"Makan dulu Nin, aku tahu kamu pasti masih lapar," Ucap Elang.
"Aku mau pulang," Khenin melepas tangan Elang. "Jangan bersikap baik lagi padaku kak, karena ini semua salah aku harap kedepannya kita hanya sebatas hubungan kerja kak," Khenin segera berlalu meninggalkan Elang.
"Tidak akan, sampai kapan pun jangan harap aku akan menyerah mendapatkanmu," Lirih Elang, ia benar-benar tidak akan melepaskan Khenin.
**
Di Perancis
" Damn it," Umpat seorang pria tampan berwajah asing berusia 42 tahun melempar semua barang-barang yang ada di meja kerjanya.
Sang asisten dan anak buah yang melapor hanya terdiam menunduk merasa takut dengan amarah pria itu.
Pria itu mengambil sebuah map yang berisi lembaran foto hasil dari jepretan anak buahnya yang melapor. "Diana ku sayang, kamu di mana ? akan aku cari di manapun kamu berada," Ucap Laki-laki itu menatap dan mencium foto Khenin yang berada di tangannya.
Di sisi lain tampak Darrel di kantor sedang mendengarkan laporan dari anak buahnya. "Jangan biarkan laki-laki itu menemukan keberadaan Khenin keponakanku," Ucap Darrel.
"Baik tuan," Ucap anak buah Darrel.
"Dan kamu," Tunjuk pada asistennya. "Bagaimana laporan anak buah yang kamu kirim untuk menjaga Khenin di kota YY?" Tanya Darrel pada Asistennya.
__ADS_1
"Sejauh ini nona Khenin baik-baik saja tuan bahkan nona Khenin sudah dapat mengelola perusahaan dengan baik hanya saja...," Ucap asisten Darrel menggantung.
"Apa," Tanya Darrel mengeryit.
"Ini tuan," Asisten Darrel membawa sebuah amplop coklat berisi beberapa foto didalamnya.
"Apa ini?" Tanya Darrel membuka amplop coklat yang ia terima. Darrel sejenak mengeryit menatap foto Khenin bersama laki-laki tampan bermata tajam.
"Mata itu.....," Lirih Darrel seketika, mata tajam Elang menginggatkan Darrel akan Steve, sungguh wajah pria di dalam foto itu bak fotokopi dengan wajah Steve.
Apa dia adalah ayah kandung Steve.....Bathin Darrel.
"Beliau adalah tuan Elang Pradana pemilik Eagle group sekaligus anak tunggal dari tuan Henry Pradana, tuan," Ucap asisten Darrel menjelaskan.
Henry Pradana, bukankah beliau adalah suami dari kak Nisa sahabat baik kak Diana. Ingat Darrel.
"Sepertinya tuan Elang menyukai nona Khenin," Imbuh asistennya.
"Awasi terus dan laporkan padaku jika laki-laki itu berniat tidak baik pada Khenin," Darrel sungguh sudah seperti ayah bagi Khenin. Laki-laki itu kembali teringat saat terakhir kali berkomunikasi dengan kakaknya Diana melalui sambungan ponsel.
"Arrel adikku," Panggilan sayang Diana pada Darrel. "Kakak boleh minta sesuatu nggak?" Tanya Diana di seberang ponselnya.
"Tolong kelak bantu kakak jaga Khenin ya," Ucap Diana di telp sebelum kecelakaan itu terjadi. Mungkin saat itu Diana sudah mendapat firasat sesuatu buruk akan terjadi pada dirinya.
"Kakak bicara apa, untuk Khenin tanpa kakak minta pun Arrel pasti akan menjaganya, " Ucap Darrel.
"Terima kasih adikku, Arrel. Aku menyayangimu," Ucap Diana terakhir kali pada Darrel.
**
"Ma....," Teriak Khenin dalam igau. Sudah dua hari ini Khenin tidak masuk kerja. Semua urusan pekerjaan di serahkan pada Bella.
Khenin terbaring di kamar, masih terus mengigau hingga terdengar lirih suara langkah kaki seseorang mendekati ranjang Khenin berada. Mata tajam itu menatap gadis yang di cintai terlihat begitu pucat.
Setiap pagi hari sebelum ke perusahaan, Elang selalu menyempatkan diri stand by di depan rumah Khenin, sudah dua hari ia tidak melihat Khenin keluar rumah hingga malam ini ia memutuskan untuk menemui Khenin.
Entah bagaimana caranya laki-laki bermata tajam itu bisa memasuki rumah Khenin yang di jaga oleh beberapa security hingga saat ini dirinya sudah berada di dalam kamar Khenin yang berada di lantai atas.
__ADS_1
Elang menekuk kedua lututnya di samping ranjang mensejajarkan wajahnya dengan wajah Khenin yang terbaring di ranjang. Tangan Elang terangkat menempelkan punggung tangan di dahi Khenin.
Tangan itu bisa merasakan suhu tubuh Khenin yang tinggi. "Kamu demam nin," Ucap Elang khawatir. Seketika Elang ingin beranjak mencari obat namun di lihatnya di atas meja sudah ada obat yang bungkusnya terbuka, mungkin Khenin baru meminum obat itu pikir Elang mengurungkan niatnya mencari obat. Elang masih tampak khawatir melihat wajah pucat Khenin.
Laki-laki itu kini beralih duduk di pinggiran ranjang. Ia menatap wajah Khenin, meskipun wajahnya tampak pucat namun tak bisa menghalangi aura kecantikan gadis itu yang selalu terpancar.
"Steve,.....sayang," Igau Khenin terdengar di telinga Elang, membuat laki-laki itu seketika mengempalkan tangan merasa cemburu hingga tanpa berpikir Elang menunduk mendekati wajah Khenin, menempelkan bibirnya pada bibir lembut Khenin. Elang membukam bibir Khenin dengan bibirnya. Gadis itu tidak membalas atau pun terbangun, mungkin karena pengaruh obat yang membuatnya tertidur lelap meskipun masih terus meracau karena suhu tubuhnya yang masih tinggi.
"Selama masih ada aku, tidak boleh ada nama laki-laki lain apalagi kau memanggilnya dengan kata sayang. Kamu hanya milikku Nin," Ucap Elang setelah melepas ciumannya. Ia tidak tahu bahwa Steve adalah nama anak kandungnya.
Elang beranjak dari duduknya melangkah mendekati pintu hendak memegang handle pintu ingin keluar kamar mengambil kompres untuk mengompres dahi Khenin yang masih panas tapi ia seketika berhenti, ia berpikir itu tidak mungkin ia lakukan karena akan ketahuan oleh penghuni lain rumah ini.
Elang menoleh menatap Ke arah Khenin, gadis itu masih terus meracau keringat sudah membasahi dahinya. "Hanya ada satu cara," Lirih Elang mengunci kamar Khenin yang urung ia buka.
Elang kembali melangkah mendekati Khenin, pria tampan itu membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan hingga bertelanjang dada dan menaiki ranjang Khenin. Elang membuka selimut yang menutupi tubuh Khenin.
Laki-laki itu perlahan membuka satu persatu kancing baju piyama Khenin.....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....