
Pagi hari mobil Elang sudah berada kembali di depan rumah Khenin setelah semalam ia pulang dari rumah Khenin. Elang melangkah masuk ke dalam rumah Khenin setelah di bukakan pintu oleh bi Ijah. "Nona lagi di kamar bujuk den Cakep yang lagi ngambek tuan," Ucap bi Ijah.
"Terima kasih bi," Ucap Elang menaiki tangga menuju kamar Khenin.
"Steve ayo cepat sayang, pakai baju nya," Ucap Khenin pada Steve yang sedang mencebikkan bibir, ngambek karena semalam ia mengira Papi nya akan tidur bersama mereka namun saat ia bangun, ia tidak melihat keberadaan Elang. "Steve,..." Ucapan Khenin terjeda saat tiba-tiba Elang datang dan tersenyum mendekati keberadaan mereka.
"Jagoan Papi kenapa tidak pakai baju?" Ucap Elang lembut duduk di sebelah Steve.
"Aku tidak mau bicara sama Papi,"
"Kenapa?"
"Kenapa semalam Papi tidak tidur bersama Steve dan Mommy?" Protes Steve.
"Ha...ha....iya Papi semalam ingin tidur bersama Steve tapi Papi di suruh pulang sama Mommy," Ucap Elang tertawa kecil sembari meraih baju Steve di tangan Khenin.
"Bener Mom?" Steve menoleh pada Khenin. Sedangkan Elang beraksi dengan telaten memakaikan baju pada Steve.
"Itu karena Papi kalau tidur suka mendengkur sayang, nanti kamu tidak bisa tidur," Balas Khenin tak terima ikut tertawa kecil.
"Hei siapa bilang aku kalau tidur mendengkur," Tangan Elang terangkat lagi-lagi mencubit gemas hidung Khenin.
Khenin menepis perlahan tangan Elang."Jangan cubit hidungku kak nanti lama-lama aku bisa seperti pinokio," Ucap Khenin menggosok hidungnya.
"Pinokio cantik," Goda Elang mengedipkan satu mata pada Khenin.
"Dasar pria bermata tajam," Gerutu Khenin beranjak dari duduknya mencebikkan bibir melangkah ke pintu hendak keluar kamar.
"Mommy kamu ngambek," Tawa Elang bersama Steve.
"Aku masih bisa denger loh," Sahut Khenin.
"Ups," Steve menutup mulutnya.
"Setelah selesai kalian cepat turun, aku siapin sarapan," Ucap Khenin lagi masih terdengar dari dalam kamar.
"Papi kita hari ini mau kemana?" Tanya Steve pada Elang.
"Kita mau ketemu grandma dan grandpa nya Steve," Jawab Elang menyisir rambut Steve.
"Grandma, grandpa?" Steve mengeryitkan dahi.
"Iya Papa sama mama nya papi, kakek dan nenek kamu," Jawab Elang menyemprotkan minyak wangi pada baju Steve.
"Jadi Steve punya grandpa dan grandma, pi?" Tanya Steve senang.
"Iya dong, mereka pasti sangat senang bertemu dengan Steve," Ucap Elang beranjak dari duduknya kemudian meraih tubuh Steve membawanya ke dalam gendongan.
Papa sama Mama pasti akan senang karena mereka sudah punya cucu. Bathin Elang sudah tidak sabar membawa Khenin dan anaknya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
******
Di kota XX.
"Gimana pa? Sudah ada kabar tentang keberadaan Khenin," Pertanyaan itu yang selalu Nisa berikan pada Henry suaminya.
Setelah kepergian Khenin, Nisa sering sakit-sakitan. Semua dokter sudah memeriksa tapi hasilnya nihil, hanya kedatangan Kheninlah yang bisa menyembuhkan penyakit Nisa.
"Belum ma, aku sudah mencari keseluruh kota XX tapi nihil. Kamu yang sabar ya," Ucap Henry menenangkan Nisa.
Henry duduk di samping Nisa yang wajahnya terlihat pucat. Keduanya saat ini sedang berada di ruang tamu memandang pintu depan rumah berharap ada ke ajaiban Khenin datang dengan senyum sumringah menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sudahlah Ma, aku antar mama istirahat di kamar," Ajak Henry. Nisa menggeleng.
"Aku di sini saja Pa," Tolak Nisa.
"Ya sudah aku temani," Ucap Henry.
Nisa menutup mata bersandar pada bahu Henry, dan Henry pun ikut menutup mata bersandar pada punggung sofa yang mereka duduki. Keduanya berpenggangan tangan, meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi namun kemesraan di antara keduanya selalu tetap terjaga.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba Henry merasakan sebuah tangan mungil ikut berpegangan pada tangan mereka hingga keduanya mulai membuka mata.
Keduanya mengerjap membenarkan pandangan mereka ketika melihat sosok anak laki-laki bermata tajam yang wajahnya mengingatkan anak semata wayang mereka saat masih kecil.
"Apa kalian grandMa dan grandPa Steve?" Tanya Steve yang saat ini sudah berada di hadapan Henry dan Nisa.
Keduanya saling menatap merasa bingung, apakah mereka berada di alam mimpi kembali saat di mana Elang masih berusia 5 tahun.
"Siapa kamu Nak?" Tanya Henry menyentuh wajah Steve.
"Aku Steve," Jawab Steve terlihat menggemaskan.
"Pa," Nisa memegang tangan Henry. "Apa kita bermimpi, kenapa anak ini ada di sini dan wajahnya sama seperti wajah Elang," Ucap Nisa.
Keduanya masih saling pandang merasa bingung.
Steve tersenyum, "Ini Steve bukan mimpi," Ucap Steve.
"Dia cucu kalian Pa, Ma. Anak aku dan Khenin," Sahut Elang menghampiri ketiganya. Henry dan Nisa pun segera menoleh ke asal suara.
"Elang, kamu," Ucap Nisa terhenti ketika melihat sosok Khenin di samping Elang. "Khenin anakku....!!" Teriak Nisa seketika beranjak dari duduknya melangkah cepat memeluk Khenin. Nisa menangis sejadi-jadinya betapa ia merindukan Khenin, rasa bersalah dan sesal juga terus menghantui hidupnya setelah kepergian Khenin.
"Mama," Khenin ikut menangis di pelukan Nisa.
"Maafkan Mama nak, maafkan kesalahan kami...hiks....hiks...," Ucap Nisa terisak.
"Nak," Kini giliran Henry yang mendekati Khenin, pria gagah hampir berusia paruh baya itu ikut memeluk Khenin.
"Maafkan kesalahan kami nak," Ucap Henry memeluk Khenin yang sudah seperti anak kandung mereka.
Khenin pun semakin terisak. "Khenin juga minta maaf Om, Ma. Meninggalkan kalian tanpa pamit,"
"Jangan panggil Om, panggil Papa nak," Ucap Henry merenggangkan pelukannya sedangkan Elang juga tampak menitikan air mata melihat keluarganya, biar bagaimanapun ialah penyebab penderitaan Khenin dan semua masalah yang terjadi.
"Kemana saja kamu selama ini nak," Tanya Nisa memegang lembut wajah Khenin.
Khenin menunduk masih terisak. "Setelah kejadian itu, aku di bertemu Opa dan Oma. Mereka membawaku ke perancis, di sana aku melahirkan Steve, anak kak Elang," Jujur Khenin menunjuk Steve.
Semuanya kini beralih menoleh pada Steve yang sudah duduk di sofa melipat kedua tangan di depan dada, terlihat anak bermata tajam itu sudah mencebikkan bibir merasa terabaikan sedari tadi.
Henry dan Nisa tersenyun bahagia, kini air mata mereka berganti air mata haru yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Sebuah anugrah yang tuhan berikan, hari ini bukan hanya Khenin yang tuhan kembalikan ke rumah ini namun juga seorang cucu.
"Ya tuhan, cucu ku," Ucap Henry dan Nisa secara bersamaan menghampiri Steve yang masih terlihat ngambek.
"Dari tadi Steve sudah bilang sama grandpa dan grandma, aku cucu kalian," Gerutu Steve yang segera di peluk oleh Henry dan Nisa.
"Cucuku," Nisa dan Henry mencium cucu pertama mereka.
Elang kini mendekati Khenin dan memeluk pundak wanita yang di cintainya itu. "Terima kasih sayang," Ucap Elang mencium kening Khenin.
Khenin membalas dengan senyuman dan bersandar di bahu Elang.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
TAMAT.....
Khenin : Kok tamat thor.....kan belum dapat restu dari kak Darrel, Opa dan Oma?
Author : Restu mereka nggak penting, yang penting restu author....๐คซ๐
Plaak....
Author : Siapa yg mukul author sakit tau...!!๐ค
Darrel : ๐
Syarif : ๐
Nany : ๐
Elang : ๐ Lanjutin nggak ceritanya..!!!!!!!
Author : Kagak mau.....No....No....sekali nggak mau tetap nggak mau..๐
Elang : Beneran๐
Author : Benerlah ๐
Emak Author : Yakin, gimana kalau emak yang nyuruh๐ก
Author : ๐ฑ Alamak..
Emak author : Yakin,๐
Author : Nggak jadi yakin Mak,๐
Emak author : Tadi katanya sekali nggak mau tetap nggak mau๐
Author : Itu kan sekali mak, yang dua kali nya mau mak....iya...iya aku lanjutin ceritanya๐
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG DEH..............๐ฉ
Elang & Khenin : ๐คญ๐คญ