
Elang kembali melangkah mendekati Khenin, pria tampan itu membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan hingga bertelanjang dada dan menaiki ranjang Khenin. Elang membuka selimut yang menutupi tubuh Khenin.
Laki-laki itu perlahan membuka satu persatu kancing baju piyama Khenin, hingga memperlihatkan hanya bagian depan tubuh Khenin karena Elang tidak sepenuhnya melepas piyama Khenin.
Elang kemudian berbaring di samping tubuh Khenin, Elang menarik tubuh Khenin hingga bagian depan tubuh Khenin yang terbuka menempel pada dada bidangnya. Laki-laki itu mencoba meredakan deman Khenin dengan melakukan skin to skin.
(Author : Bilang aja loe mau ambil kesempatan dalam kelonggaran.π
Elang : Kesempatan dalam kesempitan thorπ€¦ββ. Suka-suka gue dong thor kan Khenin pacar gue,π
Author : Iling cuman pacar belum sah jadi istri.
Elang : Kan udah pernah gue perawani thor masak nambah satu kali lagi nggak boleh.
Author : Dosa kok mindu (Nambah) lagi. Gila loe..π€
Elang : Cemburu ya thorπ
Author: Idiih nggak ya, loe bukan type gue, gue nggak suka pria bermata tajamπ gue sukanya pria bermata tumpul....π€£π€£
Elang : Edaan loe thor.....π€¦ββ)
Elang memperat pelukannya hingga seluruh tubuh Khenin hampir tertutupi oleh tubuh besarnya. Elang memejamkan mata, mati-matian menahan hasratnya yang muncul jika bersama Khenin. Ia tidak mau melakukan kesalahan lagi, apalagi sampai menyakiti Khenin.
"Aku mencintaimu Nin," Ucap Elang mencium kening Khenin hingga ia terlarut ke alam mimpi dengan posisi begitu intim dengan tubuh Khenin.
Hari sudah hampir subuh, Khenin mulai terbangun mencoba menggeliat, tapi ia merasa sulit menggerakkan tubuhnya yang terkunci oleh tubuh kekar Elang. .
"Aroma parfum ini," Lirih Khenin, ia tidak asing dengan aroma parfum tubuh Elang. Khenin perlahan membuka manik mata indahnya ia menatap sebuah dada kekar kini sedang mendekapnya dengan erat, Khenin mendongak melihat sang pemilik tubuh yang merengkuhnya.
"Hiks....hiks....," Tangis Khenin melepaskan tubuhnya dari pelukan Elang, ia begitu takut melihat Elang bertelanjang apalagi ketika menyadari kancing baju sudah terbuka dan tubuh bagian depannya terekspose.
Elang yang merasakan pergerakan pun terbangun dan melihat gadis yang di cintainya menangis sembari menutupi tubuhnya yang terbuka dengan selimut.
"Nin, kamu sudah bangun," Elang seketika bangun dari posisi tidurnya mendekati Khenin. "Hei, kenapa kamu menangis? Kamu masih sakit kita ke dokter ya," Ucap Elang, tangannya terangkat hendak menyentuh dahi Khenin tapi seketika tangannya di tepis perlahan oleh Khenin.
"Apa yang kakak lakukan, kenapa kakak ada di kamarku....hiks....hiks......," Khenin semakin terisak, ia merasa menjadi pendosa jika benar semalam Elang menyetubuhinya lagi.
Elang tersenyum mendengar ucapan Khenin. Ia tahu gadis itu pasti mengira dirinya telah menodainya kembali. "Hei tenang, jangan nangis. Aku minta maaf jika dulu sudah menodaimu tapi semalam sungguh tidak terjadi apa-apa dia antara kita. Aku hanya ingin meredakan badanmu yang demam," Perlahan Elang mendekap tubuh gadis itu yang bergetar karena menangis.
Khenin ingin menolak, tapi dekapan Elang begitu nyaman ia rasakan hingga tak kuasa menolaknya.
"Nin, siapa Steve?" Tanya Elang seketika membuat Khenin yang berada dalam pelukannya kaget. Bagaimana pria itu bisa tahu tentang Steve. Bathin Khenin. "Jawab Nin, apa dia kekasih kamu?" Tanya Elang lagi menduga.
__ADS_1
"Maksud kakak?" Tanya Khenin melepas pelukan Elang.
"Semalam kamu mengigau nama Steve dan memanggilnya sayang," Ucap elang, sedangkan Khenin terdiam.
Jadi kak Elang mengira Steve kekasihku seorang laki-laki dewasa...Bathin Khenin.
"Aku sudah bilang kan Nin, kembalilah padaku dan lupakan laki-laki itu, kita mulai dari awal. Aku akan membahagiakanmu," Ucap Elang memegang tangan Khenin menariknya dan mencium punggung tangan gadis itu.
"Tidak mungkin kak, kita tidak bisa bersama," Ucap Khenin menarik tangannya dari Elang.
"Kenapa," Tanya Elang sedikit meninggi.
"Kak sadarlah," Ucap Khenin hendak mengancingkan kembali baju piyamanya tapi seketika ia kaget saat tubuhnya di dorong oleh Elang terbaring kembali di kasur. Posisi Elang kini berada di atas tubuh Khenin.
"Apa aku harus menodaimu lagi Nin, agar kamu mau kembali dan mau menikah denganku," Ucap Elang mencium bibir Khenin kemudian beralih ke ceruk leher Khenin.
"Jangan lakukan itu kak, hiks....hiks.....," Tangis Khenin membuat Elang menghentikan ciumannya dan beranjak dari tubuh Khenin. Ia tidak ingin menyakiti Khenin lagi tapi ia tidak tahu harus bagaimana dan apa yang harus di lakukan agar gadis itu mau menerimanya dan meninggalkan laki-laki itu.
"Apa yang di miliki laki-laki itu yang tidak aku miliki Nin," Tanya Elang duduk di pinggiran ranjang meraup wajahnya kasar menetralisir hasratnya yang sempat muncul.
Khenin menatap punggung kekar laki-laki itu, sejenak ia menghentikan isak tangisnya. "Steve adalah segalanya untukku kak, dia semangat hidupku," Ucap Khenin.
Hati Elang rasanya seperti di iris-iris mendengar pengakuan Khenin. "Tidak perduli apapun itu, aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu hanya milikku," Ucap Elang memakai kemejanya kembali kemudian laki-laki itu meninggalkan Khenin di kamarnya.
"Jangan jadikan aku pendosa kak dengan merebut suami orang," Lirih Khenin menangis.
**
Setelah pertemuan terakhir dengan Khenin, Elang menyibukkan diri di kantor. Pikirannya di penuhi dengan Khenin terutama kata-kata Khenin yang terlihat begitu menyayangi laki-laki yang bernama Steve yang ia anggap pria dewasa kekasih Khenin saat ini.
"Hah Sial....," Umpat Elang melempar semua berkas-berkas yang berada di meja kerja nya.
Apa dia begitu hebat hingga tidak ada sedikitpun aku di hati mu Nin," Teriak Elang meluapkan emosinya.
Tok.....
Tok.......
Bunyi ketukan pintu di ruangan Elang.
"Masuk," Ucap Elang.
Tampak Satya membuka pintu dengan sebuah berkas di tangannya. Satya mengedarkan pandangan melihat banyak berkas berserakan dan meja kerja Elang juga tampak berantakan. "Loe kenapa?" Tanya Satya menatap sahabatnya yang kacau.
__ADS_1
"Ada apa?" Bukannya menjawab Elang malah bertanya. Sudah jadi kebiasaan dari sahabatnya itu yang dapat di maklumi oleh Satya.
"Ini laporan yang loe inginkan," Ucap Satya.
"Taruh di situ," Ucap Elang, "Bagaimana sudah loe selidiki pemilik perusahaan Durand yang asli?" Tanya Elang berdiri dari duduknya bersandar pada meja kerjanya dengan melipat tangan di depan dada. Laki-laki itu dalam posisi apapun selalu saja terlihat tampan.
"Gue udah selidiki, pemilik asli perusahaan Durand adalah tuan Syarif Durand yang telah di alihkan pada anak laki-lakinya bernama Darrel Durand dan rumor yang beredar,...." Satya menjeda ucapannya.
"Apa?" Tanya Elang penasaran.
"Darrel Durand memiliki hubungan Khusus dengan Khenin hingga perusahaan Durand saat ini di berikan penuh pada Khenin," Elang menggebrak meja mendengar ucapan Satya.
"Jangankan sebuah perusahaan, aku bahkan bisa memberikan semua milikku untuk mu Nin," Geram Elang merasa cemburu.
Tapi tunggu....jika laki-laki yang di rumorkan dekat dengan Khenin adalah Darrel Durand lalu siapa Steve...?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Buat para readers tercinta tak terasa besok sudah memasuki bulan Ramadhan. Author mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan dan semoga bulan Ramadhan ini penuh berkah dan pengampunan bagi kita semua. Aamiin.
__ADS_1
.