
Hening......
Tak ada pembicaraan dalam perjalanan pulang mengantarkan Khenin. Elang hanya terdiam memegang setir mobil yang melaju menelusuri jalan.
Gadis itu sedikit menguap menahan kantuk sembari sekilas menatap Elang.
Apa kak Elang sudah baik-baik saja. Pikir Khenin..
"Kak,...." Lirih Khenin menatap Elang yang masih fokus menyetir. Keduanya keluar dari kamar hotel ketika sudah berganti baju dan makan malam di dalam hotel.
Jalanan masih tersisa banyak genangan air ketika mobil Elang melaju membelah kehingan malam yang semakin larut.
"Kak,.... " Panggil Khenin lagi membuat pria pemilik mata tajam itu sekilas menoleh. "Apa kakak baik-baik saja?" Tanya khenin yang jujur khawatir dengan kediaman Elang.
Elang sedikit memaksakan senyum untuk di perlihatkan pada Khenin dengan satu tangan terangkat mengelus lembut rambut gadis itu.
Bagainana pendosa ini bisa baik-baik saja nin. Andai ada yang bisa aku lakukan untuk menebus semua dosaku padamu. Bathin Elang.
"Nin, apa kamu mencintai Darrel Durand?" Tanya Elang.
"Tentu saja kak," Jawab Khenin, tentu saja ia mencintai dan menyayangi paman kecilnya itu dan semua keluarga Durand.
"Baiklah," Ucap Elang membuat Khenin bingung kenapa Elang bertanya seperti itu.
Mobil Elang sudah sampai pada pintu gerbang rumah Khenin.
"Terima kasih kak," Ucap Khenin ketika Elang membukakan pintu mobil untuk dirinya. Gadis itu berjalan namun baru beberapa langkah seketika ia berbalik kembali menatap pria itu yang juga masih setia menatap dirinya, berdiri di samping mobil.
"Aku sudah memaafkan kakak, ke depannya semoga kakak bahagia selalu," Ujar Khenin.
Elang menatap gadis itu dengan mata sayu penuh arti, perlahan Elang mengangguk. "Kamu juga semoga bahagia selalu," Balas Elang.
Khenin tersenyum. "Sampaikan salamku untuk mama Nisa dan om henry ya kak," Ucap Khenin sebenarnya sangat merindukan kedua pasangan suami istri itu yang sudah seperti orang tuanya.
"Tentu," Elang mencoba membalas untuk tersenyum pada gadis itu. Khenin perlahan berbalik hendak masuk ke dalam pintu gerbang.
"Nin," Langkah kaki Khenin terhenti. Elang perlahan melangkah mendekati gadis itu yang kembali menghadap ke arahnya. "Berbahagialah selalu," Ucap Elang terdengar seperti ucapan perpisahan bagi Khenin, laki-laki bermata tajam itu kemudian mencium kening Khenin cukup lama dengan memejamkan kedua mata menyalurkan rasa cinta yang begitu besar di ikuti rasa sesal dan bersalah yang teramat sangat.
"Kak," Lirih Khenin menatap Elang yang melepas ciuman di Keningnya
"Masuklah," Ucap Elang, namun gadis itu masih terdiam menatap Elang rasa khawatir terlihat di dalam tatapan itu. "Masuklah," Ulang Elang.
Khenin perlahan menggangguk dan berlalu memasuki pintu gerbang rumahnya meninggalkan Elang yang masih berdiri di depan gerbang itu.
"Aku menyerah, aku melepaskanmu agar kau bahagia meskipun itu bukan bersamaku. Berbahagialah selalu gadis kecilku Dira. Maafkan aku yang hadir di hidupmu hanya untuk menjadi penyebab penderitaanmu," Lirih Elang bersama bulir air mata yang sudah terjatuh.
__ADS_1
***
"Ha.... Ha......," Tawa di sertai sebuah seringai tercetak di wajah pria tampan bermanik mata abu-abu setelah mendapat laporan anak buahnya tentang keberadaan Khenin.
(Author : Ha.... Ha.....,
Betrand : Diaaaaaam.... !!!!😤😤
Author : Buset galak amat🙄)
"John," Panggil Betrand pada sang asisten baru yang bertubuh gagah berkulit hitam berasal dari afrika. (🤫berasal dari novel sebelah)
Glodaak....
(Author : Ngapain loh di sini? 😱
John : 😅 Pemain figuran thor, jadi asistennya noh si Betrand yang sama kayak Ron, cinta mati sama pemeran utama wanitanya.
Author : Hadeeh 🤦♀Terserah loe dah)
"Iya tuan," Ucap John mendekati Betrand.
"Aku ingin segera ke kota YY, kamu urus semua untuk keberangkatanku," Ucap betrand.
"Baik tuan," John menunduk kemudian berlalu.
***
Bugh.....
Bugh.......
"Pukul, ayo pukul pendosa ini lagi. Apa hanya segitu kekuatan kalian...hah!!!! " Sebuah botol minuman keras kembali di tenggak oleh laki-laki bermata tajam itu seolah tak merasakan sakit sedikitpun pada tubuhnya yang sudah terdapat banyak luka-luka lebam akibat pukulan beberapa orang.
"Sial, kita yang mukulin dia, kenapa kita yang kehabisan tenaga!!" Umpat salah seorang yang ikut memberi pukulan.
"Ayo, pukul gue lagi.....!!" Tantang Elang membuat semua mata yang berada di dalam bar saling menatap heran, ada apa dengan pria tanpan itu.
Bugh.....
Bugh......
Pukulan lagi-lagi dilayangkan, Elang hanya tersenyum seperti menikmati semua pukulan itu tanpa merasa sakit. Darah sudah mengalir dari bibir dan keningnya. "Ha.... Ha..... Kalian semua payah.....!!" Ucap Elang pada beberapa orang bertubuh besar yang memukulnya.
"Siaal," Umpat salah seorang meraih sebuah botol hendak di layangkan pada kepala Elang namun seseorang dengan cepat menepisnya.
__ADS_1
"Kalian semua pengecut," Ucap Satya baru tiba bersama beberapa anak buahnya. "Urus mereka semua," Perintah Satya pada anak buahnya.
Anak buah Satya pun menghajar beberapa orang yang sudah memukuli Elang.
Satya memapah tubuh Elang yang sedang mabuk keluar dari bar itu setelah mengganti rugi semua kerusakan yang di timbulkan oleh sahabatnya itu.
"Lang, ada dengan loe? Bukankah loe paling benci dengan tempat seperti ini," Teriak Satya. "Dan ini, apa?? " Satya meraih botol minuman di tangan Elang dan melemparnya.
Sejak menjadi sahabat Elang, Satya tahu separah apapun masalah yang di hadapi Elang tak pernah sedikitpun sahabatnya itu datang ketempat seperti ini apalagi menyentuh minuman keras. Bukan munafik, meskipun Elang tak pernah mengenal agama dalam arti menjalankan kewajiban sebagai umat islam namun pria bermata tajam itu tidak suka dengan tempat-tempat maksiat dan minuman-minuman haram itu.
"Satya sahabatku, gue ini pendosa.....gue ini pendosa besar," Ucap Elang menatap Satya, ada bulir air keluar dari tatapan mata itu membuat Satya kaget, baru kali ini ia menyaksikan sahabatnya itu menangis. Ada apa, apa yang terjadi sebenarnya, penasaran Satya.
"Lang ada apa?" Lirih Satya bertanya, ia benar-benar tak tega melihat kondisi sahabatnya itu.
"Gue ini pendosa Satya. Kheninku.....Kheninku yang sudah aku sakiti ternyata adalah Dira, Dira kecilku yang selama ini gue cari," Elang menangis terduduk di aspal dekat mobil Satya yang terpakir di Bar yang sudah tampak mulai sepi karena hari sudah menjelang subuh.
"Apa...!!!" Kaget Satya, "Maksud kamu Dira gadis kecil yang orang tuanya meninggal karena kecelakaan itu? " Tanya Satya seketika.
"Iya, gue ini pendosa Sat. Gue udah buat gadis kecil itu yatim piatu dan pendosa ini juga udah merenggut paksa kesuciannya,"
"Jadi Khenin adalah Dira," Lirih Satya, kini ia bisa mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu.
"Bunuh gue Satya, bunuh gue. Kenapa....kenapa gue harus hidup jika hanya menjadi perusak hidup gadis yang gue cintai," Elang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Yang bisa ia lakukan, ia harus melepas Khenin dalam hidupnya agar bahagia bersama Darrel meskipun hatinya terasa sakit karena bagaimana ia bisa menjalani hidup ini tanpa Khenin.
"Lang.......," Lirih Satya berjongkok memegang punggung sahabatnya itu. Tak ada kata yang bisa di ucapkan Satya lagi karena jika ia berada di posisi Elang, ia juga pasti akan hancur.
"Aaaaarghh.....," Teriak Elang memegangi kepalanya..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......