
Hari ini Khenin sengaja pulang cepat dari biasanya. Gadis beranak satu itu terlihat sedikit gelisah, bagaimana tidak kiriman bunga mawar putih tak henti-hentinya ia terima setiap satu jam sekali saat di kantor.
"Mommy.... Mommy....," Teriak Steve menyambut kedatangan Khenin saat baru masuk ke dalam pintu rumah.
"Anak mommy sayang," Khenin membuka tangan sedikit membungkuk pada Steve yang berlari kecil ke arahnya. "Jagoan mommy, hari ini kelihatan senang sekali," Ucap Khenin yang sudah membawa Steve ke dalam gendongannya.<
"Steve senang mom, hari ini Steve bermain di taman dan punya banyak teman," Cerita Steve sembari tangannya bermain menggulung-gulung kecil rambut panjang Khenin yang tergerai.
"Wah, hebat anak mommy," Puji Khenin mencium pipi Steve dan membawa anak bermata tajam itu melangkah menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Steve juga tadi bertemu Uncle baik," Imbuh Steve.
"Uncle baik?" Khenin mengeryit sembari membuka pintu kamar mereka dan mendudukkan Steve di ranjang kamar.
"Iya mom, Uncle baik yang mata nya mirip boneka Steve ini," Tunjuk Steve pada mata boneka burung Elang kesayangannya yang berada di atas ranjang. "Apa dia papi ku mom?" Tanya polos Steve membuat Khenin seketika menghentikan pergerakan tangannya yang mengikat rambut dan beralih menatap Steve.
Gadis itu menatap sayu Steve, ia merasa seperti tidak adil pada Steve. Harusnya Steve bisa mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya tapi keadaan yang membuatnya tidak ingin ayah dan anak itu mengetahui satu sama lain.
Bagaimana jika kamu mengetahui kamu memiliki anak bersamaku kak, apa kamu akan merebutnya dariku dan membawanya bersama kak Nency. Pikiran takut Khenin.
"Bukan sayang," Ucap Khenin tersenyum.
"Permisi non," Terdengar suara bi Ijah masuk ke dalam kamar Khenin yang pintunya terbuka.
"Ya bi ada apa?" Tanya Khenin, menoleh pada bi ijah yang terlihat membawa sesuatu di tangannya.
"Ini non, ada kiriman paket bunga," Khenin mengeryit menatap apa yang ada di tangan bi Ijah.
" Ya tuhan," Ujar Khenin yang lagi-lagi mendapat kiriman bunga mawar putih. "Bi, tolong buang bunga itu. Aku tidak suka," Pinta Khenin seketika membuat langkah bi Ijah terhenti.
"Ah iya non," Bi Ijah pun urung memberikan bunga itu dan kembali melangkah keluar kamar dengan rasa heran.
"Apa yang harus aku lakukan," Lirih Khenin bingung dan takut.
"Mommy kenapa?" Tanya Steve melihat Khenin terdiam.
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa sayang," Ucap Khenin mengusap lembut ranbut Steve.
******
"Sat, loe pernah ngerasain perasaan aneh nggak? saat ketemu anak kecil," Tanya Elang pada Satya yang sedang sibuk membolak-balikkan bekas laporan di sofa yang berada dalam kantornya.
"Maksud loe, perasaan gemas? " Tanya Satya menghentikan sejenak kegiatannya dan menoleh pada Elang.
"Itu salah satunya, gue tadi ketemu sama anak kecil," Ucap Elang. "Aneh wajahnya seperti wajah gue saat masih kecil dan lebih aneh lagi gue seperti ngerasa ada ikatan yang ngebuat gue ingin terus bersama anak itu," Jelas Elang membayangkan wajah Steve.
"Jangan-jangan itu anak loe, wah parah loe pernah tebar benih sama siapa lagi selain sama Khenin," Goda Satya seketika mendapat lirikan mata tajam seperti siap menghunus.
"Gue bukan loe yang bisa ONS sama wanita manapun tanpa ada rasa cinta," Sarkas Elang tak terima. Ya dirinya memang bejat sudah memperkosa Khenin waktu itu tapi ia sadar saat ngelakuin itu karena ada rasa cinta yang membuat dirinya tidak bisa menahan hasrat sebagai laki-laki dan itu hanya pada gadis yang di cintainya yaitu Khenin seorang.
"Ya deh terserah loe, tapi kalau gue jadi loe....gue nggak akan nyerah buat dapetin Khenin," Tutur Satya beranjak dari duduknya melangkah keluar dari ruangan Elang.
Gue juga nggak ingin nyerah, tapi gue sudah merusak masa lalu gadis itu....gue nggak mau lagi mengganggu masa depannya bersama laki-laki yang dia cintai. Gue harap loe bahagia Nin bersama Darrel Durand.
*****
"Diana sayang, jangan lari," Khenin melihat ke arah suara, tampak dalam kabut gelapnya malam mucul sosok laki-laki dengan seringai semakin mendekati dirinya bersamaan seorang anak kecil berada dalam tawanannya.
"Siapa kamu, jangan mendekat," Ucap Khenin tak di hiraukan sosok pria itu yang semakin mendekat.
"Aku kekasihmu Diana, kembalilah padaku atau aku akan menghabisi anakmu," Ucap laki-laki itu yang kini terlihat jelas wajahnya dari pandangan Khenin, Khenin membola kan mata kaget melihat sebuah pistol sudah di todongkan di dahi anak itu yang ternyata adalah Steve anaknya.
"Tidak.... Tidak....jangan menyakiti anakku!!" Teriaak Khenin bersamaan tubuhnya yang terbangun dan seketika terduduk di ranjang. Gadis itu mengatur nafas, keringat dingin membasahi wajahnya.
"Hanya mimpi buruk," Lirih Khenin meraup wajahnya kemudian menatap Steve di sampingnya yang tertidur pulas. "Ya Allah lindungi anakku selalu, Aamiin," Lirih Khenin berdoa kemudian mencium kening Steve.
Apa mungkin yang mengirim bunga adalah pria itu yang mengira aku adalah mama, jika benar apa yang harus aku lakukan?
Khenin kemudian mengambil ponsel, ia ingin menghubungi Darrel tapi sejenak ia berpikir hingga akhirnya ia urungkan niatnya. Di letakkan kembali ponsel yang sudah berada di tangannya. Ia merasa kasihan dengan paman kecilnya itu karena hanya akan menambah beban jika memberitahukan tentang kiriman bunga dan mimpinya, paman kecilnya itu pasti saat ini sedang di sibukkan dengan semua masalah pekerjaan.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" Bingung Khenin.
__ADS_1
Selintas di pikiran gadis itu terlihat wajah Elang. "Tidak.... tidak mungkin aku meminta pertolongan pada kak Elang," Lirih Khenin menggeleng, ia tidak boleh mengganggu Elang lagi yang pastinya saat ini laki-laki bermata tajam itu sudah bahagia bersama dengan Nency dan calon anak mereka. Pikir Khenin.
Khenin bangun dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi karena mendengar adzan subuh berkumandang. Gadis itu menjalankan Sholat subuh dua rekaat dan menadahkan tangan memohon pada sang kuasa untuk perlidungan Steve dan seluruh keluarganya.
Pagi ini tampak Khenin sudah bersiap dengan setelan baju kerja setelah memandikan Steve.
"A.... Ayo makan dulu sayang," Ucap Khenin yang saat ini berada di meja makan sedang menyuapi Steve.
Steve tampak mencebikkan bibir, balita kecil itu sedang ngambek sama Khenin. "Mommy bohong," Cicit balita itu.
Khenin mengeryit. "kenapa sayang?"
"Mommy bilang, ajak Steve jalan-jalan." Protes Steve dengan mimik wajah lucu.
Khenin tersenyum. "Sayang, hari ini Mommy harus kerja. Mmm... gimana kalau besok," Tawar Khenin pada Steve yang tampak masih terdiam dengan bibir mencebik.
Balita itu menggeleng, ia masih kekeh dengan keinginannya membuat Khenin terdiam sejenak berpikir, memang sejak kedatangan Steve ia kurang meluangkan waktu untuk buah hatinya itu. "Ya sudah, hari ini kita jalan-jalan," Tutur Khenin di sambut wajah Steve yang berubah menjadi sumringah.
"Hore..... Steve sayang Mommy," Girang Steve seketika memeluk Khenin dan mencium ibu muda itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..........