
"Oma tidak setuju," Ucap Nany menatap semua yang berada di ruang tamu. Wanita itu serasa hidup kembali setelah kehadiran Khenin mana mungkin membiarkan Khenin pergi ke kota YY dan meninggalkan kediamannya.
"Ma," Darrel mendekatkan duduknya pada Nany. Sedangkan dihadapan mereka ada Khenin duduk di sebelah Syarif yang sedang memangku Steve, Syarif memilih tak ikut bicara karena dirinya sudah mengatakan akan menyetujui keinginan Darrel asal Nany istrinya juga setuju. "Ma, perusahaan itu butuh Khenin," Bujuk Darrel pada Nany.
"Mama juga butuh Khenin," Sahut Nany.
"Darrel tahu. Tapi apa mama nggak kasihan lihat Khenin menyia-nyiakan masa mudanya dan hanya sibuk mengurusi pekerjaan di rumah,"
"Maksud kamu?"
"Khenin masih muda Ma, biarkan dia berkarir dan menjadi wanita yang sukses agar kelak bisa mandiri dan tidak di sakiti oleh siapapun lagi," Pinta Darrel. Pria tampan itu begitu menyayangi Khenin dan Steve, ia ingin Khenin bisa berkarir dan menjadi wanita yang sukses kelak.
"Mama tahu, tapi....," Nany menatap Khenin, gadis itu masih muda, ia juga butuh menjalani hidup seperti kebanyakan wanita lainnya. Sekolah, kuliah dan meniti karir. Apa dirinya terlalu egois membiarkan Khenin menemani dirinya dan menjadi ibu rumah tangga di usia dini. Ia teringat jelas semenjak Khenin tinggal bersama dirinya, Khenin hanya berada terus dirumah melanjutkan sekolah di rumah sampai kuliah pun juga di rumah karena mereka mendatangkan ahli pengajar untuk gadis itu.
Nany terdiam, hati nya masih terus bertarung melawan ego nya hingga dengan berat hati ia pun mengambil keputusan. "Baiklah, aku ijinkan asal Steve tetap di sini," Ucap Nany.
"Maaf Oma, Khenin nggak bisa pisah dengan Steve. Khenin....,"
"Honey," Darrel menghentikan ucapan Khenin, laki-laki tampan itu mengedipkan satu mata memberi isyarat pada Khenin agar mau menuruti perkataannya. "Kamu tenang saja nanti aku akan sering-sering bawa Steve mengunjungimu," Ucap Darrel tapi masih belum bisa menenangkan hati gadis itu.
"Kak, kenapa kakak setuju dengan permintaan oma?" Tanya Khenin pada Darrel saat Darrel masuk ke kamar gadis itu dengan Steve berada di gendongannya yang sedang tertidur pulas.
Darrel menidurkan Steve di ranjang kasur, laki-laki itu tersenyum memandang sejenak wajah menggemaskan Steve saat tertidur.
"Honey, kamu tenang saja. Kamu percayakan sama aku?" Ucap Darrel kedua tangannya memegang bahu gadis itu.
Khenin menatap Darrel, selama ini laki-laki tampan ini selalu mendukung dan menyemangati nya sejak ia pertama kali berada di kediaman Syarif. Ia sudah seperti kakak dan papa kecil baginya. Darrel Durand adalah putra bungsu dari Syarif, adik Diana dan Siren. Usianya 8 tahun lebih tua dari Khenin.
"Honey, kamu percayakan sama aku?" Ulang Darrel karena melihat Khenin terdiam menatap wajah tampannya.
"Aku percaya sama kak Darrel tapi aku nggak bisa pisah dari Steve kak," Jawab Khenin.
Darrel tersenyum. "Hanya untuk sementara honey."
"Sementara! Maksud kak Darrel," Khenin mengeryit. "Bukankah kata Oma Steve akan tetap tinggal di sini,"
__ADS_1
"Honey, kau itu lugu sekali," Darrel terkekeh.
"Kak, aku serius," Khenin mulai mencebikkan bibirnya ingin menangis.
"Hey, aku juga serius honey." Darrel mencubit pipi Khenin. "Jangan cengeng. Sekarang dengarkan aku, kamu bilang Oma ingin Steve tinggal di sini kan?"
Khenin mengangguk.
"Lalu, apa Steve juga menginginkan hal yang sama?Anak tampan itu apa bisa hidup tanpa kamu," Ucap Darrel membuat Khenin berpikir.
"Maksud kakak?"
"Oma dan Opa sangat menyayangi Steve, sampai kapan kedua nya akan bisa menahan Steve yang pastinya akan merengek terus ingin bersama kamu,"
"Jadi....,"
"Jadi kamu tenang saja, serahkan semuanya pada paman kecilmu ini. Kamu hanya perlu semangat bekerja dan jadilah wanita sukses demi Steve. Nanti kakak akan segera membawa Steve untuk tinggal bersamamu,"
"Kak kau memang yang terbaik," Ucap Khenin segera memeluk Darrel.
Darrel begitu menyayangi anak satu-satunya dari almarhum Diana kakak kesayangannya. Hingga bukan tanpa alasan Darrel mengirim Khenin ke kota YY. Selain memang perusahaan papa nya membutuhkan Khenin tapi Ia juga ingin menghindarkan Khenin dari seseorang. Seseorang yang ia kenal, yang begitu terobsesi pada Khenin.
**
Kehidupan Elang.
Khenin yang hilang tanpa jejak membuat Elang frustasi. Setiap hari Elang mencari gadis itu bahkan seluruh anak buahnya ia kerahkan tapi nihil karena Khenin sudah tidak berada di kota XX lagi. Elang menyesal telah memperkosa Khenin, ia ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Sial.....," Tak jarang Elang frustasi. Merasa bersalah tentu saja perasaan itu ia rasakan, ia merasa diri nya sudah bejat karena sudah merenggut masa depan seorang gadis. Elang sering kali merasakan sakit di hati, ia sadar saat ini ia benar-benar telah jatuh cinta pada Khenin.
Hidup tanpa Khenin terasa hampa baginya. Hari-harinya ia jalani dengan bekerja terus bekerja hingga kesusksesan dapat ia raih.
Menjadi pengusaha muda yang sukses tak merubah sikapnya, Elang semakin dingin terutama pada wanita. Baginya hanya Khenin wanita yang bisa masuk dalam hatinya.
"Bagaimana, apa sudah ada berita di mana gadis itu berada?" Tanya Elang yang sedang berbicara dengan anak buahnya di ponsel. "Aku tidak mau tahu, cari terus keberadaannya. Berapapun yang kalian minta akan aku berikan," Ucap Elang menutup sambungannya.
__ADS_1
"Masih belum ketemu juga Lang?" Tanya Satya pada pria bermata tajam itu. Saat ini Elang sudah memiliki sebuah perusahaan sendiri yang ia bangun di kota YY. Satya sahabat baik Elang juga masih setia mendampinginya sebagai asisten di perusahaan itu.
"Belum," Jawab Elang datar.
"Loe sih, main perkosa aja anak orang. Kasihan tuh bocah masih kecil tapi udah loe bobol. Gimana kalau dia hamil?"
DEEG.....
Hamil...Bathin Elang. Selama ini ia tidak memikirkan itu. Jika benar Khenin hamil bagaimana nasib gadis yang ia cintai itu bersama anaknya, pikirannya kembali tak tenang.
"Diam loe," Ucap Elang membuat Satya terkekeh kecil. Huh, hanya Satya yang bisa bertahan menghadapi sikap dingin Elang. "Loe besok gantiin gue," Ucap Elang menutup berkas yang baru ia tanda tangani dan memberikannya pada Satya.
"Loe mau pulang?" Tanya Satya dan Elang mengangguk sebagai jawaban.
Sudah menjadi kebiasaan Elang menitipkan perusahaannya pada Satya jika ia ingin pulang ke kota XX mengunjungi kedua orang tuannya apalagi ia juga tak tega melihat kondisi mama nya Nisa yang sering sakit-sakitan sejak kepergian Khenin dari rumah akibat ulahnya.
"Ya sudah salam buat ortu loe," Ucap Satya sembari menatap sahabatnya yang sudah beranjak meninggalkannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......