Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Epidode 57


__ADS_3

Elang melangkah mendekati Khenin, Khenin yang secara tak sadar karena pandangannya pada ramainya pasar malam itu pun seketika kaget saat merasakan Elang membisikkan sesuatu di telinganya.


"I love you," Ucap Elang memberikan boneka itu di tangan Khenin.


Khenin hanya terdiam menatap Elang yang tersenyum padanya.


"Mom, Uncle ayo," Ajak steve membuat keduanya menoleh. Steve tersenyum pada keduanya. "Steve ingin naik itu," Tunjuk Steve pada wahana bianglala.


"Ayo, kita beli tiketnya," Ucap Elang menggendong Steve kemudian menggandeng tangan Khenin yang terdiam mendekati wahana bianglala itu.


"Pak 3 tiket," Elang memberikan lembaran uang pada penjaga wahana. "Terima kasih," Ucap Elang saat tiket sudah di tangan.


"Kak, aku nggak mau naik," Khenin melepas pegangan tangan Elang.


"Kenapa? " Tanya Elang.


"Uncle, Steve lupa Mommy takut ketinggian," Ucap Steve.


Elang tersenyum, "Ada aku, jangan khawatir,"


"Mommy nggak takut kok," Bantah Khenin.


"Ya sudah ayo," Tarik Elang, ketiganya pun menaiki wahana bianglala itu.


Elang menatap Steve yang tampak senang melihat pemandangan dari atas.


"Waaah, bagus Uncle," Ucap Steve yang berada di pangkuan Elang.


"Kamu senang nak," Tanya Elang.


"Tentu," Jawab Steve, kemudian Elang menoleh pada Khenin, Elang mengeryit sejenak kemudian mengembangkan senyum melihat Khenin menutup rapat kedua manik mata indahnya. Terlihat jelas rasa takut di wajah mama muda itu.


"Jangan takut," Elang memegang lembut tangan Khenin, membuat wanita itu kaget dan membuka mata.


"Aku nggak ta....," Khenin menghentikan ucapannya ketika manik matanya menangkap indahnya pemandangan di bawah dari atas sana. "Waah, indah ya kak," Ucap Khenin seperti anak kecil, terlihat binar kagum di matanya hingga tanpa terasa ia melingkarkan tangan di lengan kekar Elang. Meskipun dulu sering ke pasar malam waktu kecil Khenin tidak pernah menaiki wahana yang berada ketinggian karena ia takut ketinggian.


Elang merasa senang, Khenin melingkarkan tangan di lengannya. Ah aku ingin selamanya seperti ini. Gumam Elang dalam hati.


Setelah turun dari wahana bianglala, Steve mengajak Khenin menaiki carousel atau biasa di sebut komedi putar. Keduanya tampak tersenyum bahagia dan itu di abadikan oleh Elang dalam kameranya.


"Aku ingin secepatnya menikahimu Nin,...." Lirih Elang yang masih berdiri dekat wahana itu pandangannya tak luput dari Khenin dan Steve.


Berbagai mainan sudah mereka mainkan. "Kalian minum dulu," Elang memberikan botol mineral pada keduanya yang saat ini duduk di bangku yang tersedia di pasar malam itu.

__ADS_1


Khenin dan Steve pun meminum air mineral itu. "Nih Uncle sudah belikan es krim dan burger, kalian pasti lapar kan?" Ucap Elang memberikan bungkusan pada keduanya.


"Hore," Senang Steve segera mengambil bungkusan itu dari tangan Elang sedangkan Khenin menghela nafas, malam ini ia benar-benar tidak dapat berkutik karena dompetnya ketinggalan.


"Kamu juga makan Nin," Ucap Elang memberikan burger pada Khenin.


"Aku belum lapar kak," Tolak Khenin padahal ia sedari tadi sudah lapar.


"Mau aku suapi," Ucap Elang menyeringai hendak menyodorkan burger ke mulut Khenin.


"Jangan kak," Tolak Khenin.


"Kalau gitu kamu makan, aku tahu kamu pasti sudah lapar," Paksa Elang.


"Iya ini aku makan," Gerutu Khenin mencebikkan bibir mengambil burger itu dari tangan Elang dan memakannya.


Elang merasa gemas melihatnya ingin rasanya ia mencium sekarang juga bibir Khenin kalau saja tidak ada Steve.


Hari sudah malam, Steve yang sudah merasa puas bermain pun akhirnya tertidur di gendongan Elang karena merasa lelah.


Elang dan Kheninpun saat ini sudah berada di parkiran mobil.


"Terima kasih kak untuk hari ini, tapi lain kali jangan mendekati kami lagi," Ucap Khenin mengambil alih Steve dari gendongan Elang.


"Tidak ada," Ucap Khenin tanpa berani menata mata Elang. "Kak ku mohon jangan dekati kami, Steve anakku kakak tidak berhak,"


"Aku ayah kandungnya, aku berhak Nin dan aku tidak akan melepas kalian," Ucap Elang sedikit meninggi.


"Kak jangan seperti ini, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing terimalah kenyataan itu," Teriak Khenin.


"Nin, aku mencintaimu meskipun kamu tidak bisa membalas cintaku setidaknya ijinkan aku menebus kesalahanku di masa lalu," Pinta Elang saat Khenin sudah membuka pintu mobil hendak masuk ke dalamnya.


Khenin kembali menatap Elang. "Kakak benar ingin menebus kesalahan kakak di masa lalu?" Tanya Khenin memberanikan diri menatap Elang.


Elang mengangguk. "Benar Nin, apapun itu bahkan nyawa pun aku berikan,"


"Kalau begitu menjauhlah dari kami dan jangan ganggu hidup kami lagi," Ucap Khenin segera masuk ke dalam mobil.


"Nin," Teriak Elang.


"Jalan pak," Ucap Khenin terisak dalam tangis tanpa menghiraukan Elang yang berteriak memanggil namanya.


*****

__ADS_1


Seminggu sudah berlalu, sejak malam itu Khenin sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Elang. Ada rasa sedih di hati Khenin, ia rindu Elang, ia masih sangat mencintai Elang namun ia tak berdaya oleh keadaan.


Khenin saat ini sedang berada di sebuah restoran, ia sedang menghadiri sebuah Meeting bersama dengan seorang klien dari kota XX.


"Selamat pagi tuan Andrew," Ucap Khenin yang baru datang mendekati keberadaan kliennya di temani Bella.


"Selamat pagi nona," Sambut tuan Andrew menjabat tangan Khenin dan Bella. "Silahkan," Ucap Andrew mempersilahkan keduanya untuk duduk di tempat masing-masing.


"Terima kasih tuan," Ucap Khenin dan Bella.


"Baiklah nona Khenin, sebelumnya saya minta maaf jika nanti ada ketidak nyamanan dalam meeting kita kali ini karena saya di sini di temani sama istri saya yang sedang hamil. Kebetulan istri saya sedang ngidam ingin ikut acara meeting kali ini," Ucap tuan Adrew meminta maaf sebelum memulai acara meeting mereka.


"Tidak apa-apa tuan, justru saya senang bisa berkerja sama dengan anda yang ternyata sangat mencintai keluarga," Tutur Khenin. "Oh ya di mana istri anda?" Tanya Khenin.


"Kebetulan sedang ke toilet," Jawab tuan Andrew.


"Baiklah tuan, kalau begitu kita mulai meeting kita kali ini," Ucap Khenin membuka berkas yang di berikan Bella.


"Baik nona,"


Acara meeting pun di mulai namun selang beberapa menit terdengar suara seorang wanita yang tidak asing di telinga Khenin.


"Sayang maaf ya aku lama di toilet," Ucap wanita berbadan dua itu duduk di samping tuan Andrew.


"Tidak apa-apa sayang, oh iya kenalkan ini nona Khenin," Ucap Andrew pada istrinya yang tak lain adalah Nency, wanita yang di kira istri Elang selama ini oleh Khenin, wanita yang menjadi penghalang dan sumber salah paham bagi hubungan Khenin dan Elang.


Nency menoleh pada keberadaan Khenin yang sudah menatapnya sedari ia datang dengan tatapan kaget tentunya.


"Kak Nency,"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2