Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
BONCHAP 4


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu, renovasi kamar Steve sudah selesai. Sedari kemarin Steve sudah tidur di kamarnya sendiri. Malam ini Elang menemani Steve hingga anak bermata tajam itu terlelap.


Perlahan Elang menyelimuti tubuh Steve dan beranjak dari kamar Steve yang berada di sebelah kamarnya dan Khenin.


Cekleek.....


Elang membuka pintu kamar, pria itu tersenyum melihat Khenin yang sedang menata pakaian di lemari.


Cup.....


Elang mengecup lembut pipi Khenin dari belakang. "Kak, Steve sudah tidur?" Tanya Khenin menoleh pada Elang yang kini mengambil tas kerja dan duduk di sofa. Suami Khenin itu tampak mengeluarkan laptop dari tas kerjanya.


"Sudah sayang," Jawab Elang kini fokus pada laptop nya.


"Kakak nggak tidur?" Tanya Khenin.


"Kamu tidur dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," Jawab Elang.


Beberapa hari ini setiap malam Elang selalu menyibukkan diri pada pekerjaannya, jujur ia takut hilang kendali berada dalam satu kamar bersama istrinya apalagi melihat Khenin, aroma tubuhnya, ia tidak ingin menyakiti Khenin lagi, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menunggu sampai Khenin siap dan tidak akan memaksa.


Khenin mengambil paper bag belanjaannya kemarin yang berisi gaun tidur, Ia sekilas melirik Elang.


Kamu bisa Nin, kamu harus bisa menjadi istri seutuhnya buat suami kamu. Bathin Khenin.


Kini gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, ia membuka paper bag itu dan mengeluarkan gaun tidur malam yang ia beli. "Hah," Lirih Khenin melihat gaun tidur itu dengan tali spaghetti yang pastinya akan tampak terlalu seksi jika ia memakainya nanti.


"Huh," Khenin menghela nafas, ia hendak memasukkan kembali gaun tidur malam itu ke dalam paper bag namun urung.


Tidak....tidak aku harus bisa. Pikir Khenin yang entah dapat keberanian dari mana ia segera memakai gaun itu.


Ceklek....


Khenin sudah membuka pintu kamar mandi, dengan mengumpulkan segala keberanian Khenin melangkah mendekati Elang dan berdiri di samping tepat dimana Elang sedang duduk fokus pada layar laptopnya.


"Sayang, kenapa belum tidur," Ucap Elang menoleh pada Khenin.


Gleek.....


Elang menelan salirvanya seketika sembari menajamkan penglihatan. Benarkah yang ada di hadapannya ini istrinya, mata Elang seketika berkabut hasrat bagaimana tidak, lekuk tubuh seksi Khenin begitu terekpose, belum lagi gaun itu tipis hanya setengah lutut dan memperlihatkan kulit putih mulus Khenin.


"Sayang kenapa kamu pakai baju itu?" Tanya Elang mati-matian menahan hasratnya yang sudah muncul.

__ADS_1


Kamu pasti bisa Nin. Semangat Khenin lagi dalam hati.


"Aku ingin di temani tidur sama kakak," Lirih Khenin mengambil laptop yang berada di pangkuan Elang menaruhnya di meja. Kini istri sah Elang itu mendudukkan tubuhnya di pangkuan suaminya.


"Sayang, kalau seperti ini aku tidak akan sanggup menahan diri lagi," Ucap Elang dengan suara serak. Jangankan berpakaian seseksi itu, bahkan saat Khenin berpakaian sopan pun Elang susah menahan diri apalagi seperti ini. Khenin meraih tangan Elang dan melingkarkan di pinggangnya kemudian ia mengalungkan tangannya pada leher Elang.


"Jangan di tahan kak, malam ini aku ingin menjadi istrimu seutuhnya," Ucap Khenin menatap Elang yang sudah berkabut hasrat.


"Kamu yakin," Tanya Elang, di angguki Khenin.


"Aku mencintaimu sayang," Ucap Elang mencium bibir Khenin dan segera membawa istrinya ke dalam gendongan beranjak dari sofa melangkah mendekati ranjang tidur mereka.


"Mulai sekarang panggil aku sayang," Lirih Elang dengan nafas memburu sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Malam ini akhirnya Elang dan Khenin menjadi suami istri seutuhnya........


******


Pagi hari Khenin mulai mengerjapkan mata, hidungnya mencium aroma tubuh Elang karena saat ini ia berada dalam dekapan suaminya. Khenin merasa lega dan bersyukur akhirnya rasa traumanya kini bisa ia kalahkan di tambah lagi semalam Elang sangat lembut memperlakukannya berbeda dengan saat dulu memperkosanya.


"Sayang," Lirih Khenin mulai memanggil sebutan itu pada Elang. Khenin mengusap lembut wajah Elang dengan jemarinya.


"Sayang masih pagi, kamu masih kurang yang semalam," Ucap Elang membuka mata.


"Kakak sudah bangun?" Kaget Khenin tubuh polos nya ngin meringsut mundur namun segera ditahan oleh Elang.


"Jangan panggil kak, panggil aku sayang," Ucap Elang segera mencium bibir Khenin.


"Kak, sudah pagi,"


"Panggil sayang dulu," Tawar Elang tak melepas ciumannya.


"Iya....iya...,"


"Iya apa?"


"Iya sayang, puas." Khenin mendorong tubuh Elang perlahan dan segera mendudukkan tubuhnya sembari menutupi dengan selimut.


"Belum puas sayang." Tawa Elang ikut mendudukkan tubuh nya disamping Khenin. Pria tampan itu kembali memeluk Khenin menciumi pundak Khenin. "Semalam kenapa kamu memakai baju seperti itu sayang?" Tanya Elang beralih mencium pipi Khenin.


"Kenapa, apa suamiku tidak suka? Atau suamiku ini lebih suka sama wanita kemarin yang di peluk," Khenin mencebikkan bibir masih kesal mengingat wanita kemarin yang memeluk Elang.

__ADS_1


"Ha....ha....," Elang tertawa. "Dia yang peluk aku sayang, bukan aku yang peluk," Ucap Elang tertawa senang melihat kecemburuan istrinya.


"Sama saja, kakak tetap suka kan?" Cibir Khenin.


"Kamu cemburu ya sayang?" Tanya Elang menggoda.


"Sayangku ini pengen tahu?" Tanya Khenin dan Elang mengangguk.


"Kalau gitu nanti saat ketemu cowok tampan dan lebih muda dari suamiku, aku mau peluk cowok itu, pasti suamiku ini tahu gimana rasanya, cemburu atau tidak," Ucap Khenin hendak beranjak dari kasur namun segera di tarik oleh Elang hingga tubuh Khenin saat ini jatuh berada di bawah kungkungan tubuh Elang.


"Jika itu terjadi, jangan harap laki-laki itu bisa selamat dari tanganku," Ancam Elang tampak serius membuat Khenin yang tadinya bercanda kini merasa takut seketika. "Dia itu Sonya sepupuku yang tinggal di luar negeri," Ucap Elang seketika menggendong tubuh Khenin membiarkan selimut yang menutupi tubuh Khenin teronggok di lantai.


Blaak.....


Suara pintu kamar mandi tertutup setelah Elang membawa Khenin masuk ke dalamnya. "Kak, mau apa," Teriak Khenin dari dalam kamar mandi.


"Mau mandi bersamalah," Jawab santai Elang.


.


.


.


.


.


.


Nb :


"Elang, hei apa kabar," Sapa perempuan itu tanpa basa basi memeluk Elang.


"Sonya, Loe kenapa di sini?" Tanya Elang tak menolak tapi tak juga membalas pelukan wanita itu.


"Kebetulan aku lewat sini," Jawab Sonya sepupu Elang. "Kenapa sih dari dulu kamu selalu nggak senang dan nggak mau saat aku peluk? Aku kan sepupu kamu." Tanya Sonya karena Elang sedari dulu paling nggak suka jika di dekati wanita apalagi wanita berpakaian seksi seperti tipikal-tipikal Sonya dan Nency.


"Gue nggak suka dan lagi, jangan pernah sembarang peluk apalagi gue sekarang sudah nikah," Elang sekilas melirik Khenin. "Gue nggak mau nyakitin hati istri gue walau sedikit saja," Imbuh Elang tampak serius.


"Ya udah Elang maaf, kalau gitu aku tinggal dulu. Aku buru-buru kebetulan ada meeting di kota ini. Salam buat Uncle dan aunty." Ucap sepupu Elang itu merasa takut seketika meninggalkan Elang.

__ADS_1


__ADS_2