
Khenin POV
Hari ini sekolahku libur, aku masih berada di dalam kamar duduk diatas sajadahku dengan mukena yang masih terpasang di tubuhku sedari menjalankan shalat subuh tadi. Aku membaca surat Yasin dan ayat-ayat suci Alqur'an karena hatiku tak tenang, entahlah semenjak semalam aku teringat terus dengan almarhum kedua orang tuaku dan aku baru teringat jika hari ini bertepatan dengan tanggal dan bulan dimana kecelakaan itu terjadi yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku.
Papa, Mama semoga kalian tenang dan bahagia di surga. Doaku.
Aku masih terus membaca ayat-ayat suci hingga telingaku mendengar suara gaduh seperti suara bantingan-bantingan barang yang terjatuh ke lantai. Aku segera melipat mukenaku setelah menyelesaikan bacaan ayat suci yang ku baca. Perlahan kaki ku melangkah keluar kamar, aku baru menyadari suara gaduh itu berasal dari kamar kak Elang ketika melihat om Henry dan mama Nisa serta seorang dokter masuk ke dalam kamar kak Elang yang berada di sebelah kamarku.
Aku merasa bingung dan penasaran, aku pun memberanikan diri melanjutkan langkah kakiku yang sempat tertahan, mendekati dan masuk ke kamar kak Elang. Aku menatap sekitar kamar kak Elang yang sudah berantakan, pecahan barang berserakan dimana-mana. Ku lihat kak Elang terduduk di lantai bersandar pada pojok dinding kamar dengan tangan yang sudah banyak berlumuran darah, ada om Henry dan seorang dokter di dekatnya sedangkan mama Nisa menangis memeluk kak Elang yang tatapannya kosong dan bibirnya tak henti mengucapkan kalimat. "Maafkan aku.....aku tidak sengaja,".
Dari situ aku menyadari kalau kak Elang benar-benar depresi akibat kecelakaan itu yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuaku. Tak terasa air mata ku mengalir, kejadian itu masih teringat jelas di pikiranku, sangat jelas hingga sulit untuk aku melupakannya sedikitpun.
Tangan ku bergetar, keringat dingin sudah mengalir di dahiku. "Hiks.....hiks....." Aku mendekap mulutku menangis lirih dan segera keluar dari kamar kak Elang. Aku melangkah cepat kembali ke kamarku, aku harus menenangkan diriku sebelum depresi ketakutan yang juga kualami seperti yang kak Elang alami muncul kembali.
"Dira takut Ma, Pa.....hiks....hiks," Tangisku lepas mencengkram sprei kasur yang berada di sampingku karena saat ini aku terduduk di lantai samping ranjang.
"Ya tuhan, kenapa Non," Khawatir bi Sumi yang baru masuk ke kamarku, wanita paruh baya itu segera memelukku erat. "Ada apa non jangan menangis....ada bibi di sini,” Ucapnya ikut menangis.
"Dira takut ma...pa....jangan tinggalkan Dira...." Aku semakin menangis, beruntung suara tangisku tertahan didekapan wanita paru baya itu hingga tak sampai terdengar keluar kamar.
Lama bi Sumi terdiam membiarkan ku menangis di pelukannya hingga perlahan ia melepaskan pelukannya ketika melihat diriku sedikit tenang dan tangisku mereda. "Minum non, biar tenang," Bi Sumi memberikan air dalam gelas. Akupun segera meminumnya.
"Makasih bi," Ucapku masih berusaha menenangkan hati dan pikiranku. Aku menatap wanita paruh baya yang berada di sampingku, tangannya terangkat mengusap keringat di dahiku dengan tisu yang baru ia ambil.
"Non sudah nggak apa-apa?" Tanya lirih bi sumi, aku menggelengkan kepala rasanya tubuhku lemas sekali. Beruntung depresiku kali ini tidak berlebihan, dulu saat aku kambuh mengalami trauma aku bisa sampai pingsan. "Ada apa Non?" Tanya bi Sumi menatapku khawatir terlihat ketulusan di matanya seperti ketulusan mama Nisa padaku.
"Aku rindu orang tuaku bi," Jawabku tak ingin bi Sumi mengetahui alasanku sebenarnya menangis.
__ADS_1
"Di doakan Non, kalau rindu. Bibi kalau rindu anak bibi juga sering nangis tapi bibi nggak mau terlalu larut nanti kasihan anak bibi," Ucap bi Sumi tangannya terangkat menyelipkan beberapa helai rambutku yang terurai, ke belakang telinga kemudian sentuhan tangannya halus membelai kepalaku. "Sering-sering baca al-fatihah non kalau ingat orang tua non Khenin," Tuturnya mengingatkanku dan akupun mengangguk kemudian merebahkan kepalaku di pinggiran ranjang dengan tubuhku masih terduduk di lantai.
"Ya sudah non jangan sedih lagi, kalau ada apa-apa panggil bibi. Bibi mau siapin sarapan pagi dulu," Ucap bi Sumi ku angguki kemudian beliau perlahan keluar dari kamarku.
Hari mulai sore saat aku keluar kamar ketika perutku mulai berbunyi karena sedari pagi, aku tidak memakan apapun. Aku melangkahkan kaki keluar kamar dan sekilas menatap kamar kak Elang yang tampak sepi setelah kepergian dokter tadi. "Pasti kak Elang masih tertidur setelah meminum obat dari dokter," Ucapku dalam hati.
Bi Sumi siang tadi sempat kembali ke kamarku dan mengatakan bahwa setiap tahun di tanggal dan bulan yang sama dengan hari ini, kak Elang selalu mengalami hal seperti ini hingga om Henry dan mama Nisa tidak pergi keluar rumah sama sekali.
Aku melanjutkan langkahku menuruni tangga hingga saat aku ingin pergi ke meja makan, samar-samar aku mendengar pembicaraan om Henry dan mama Nisa. Aku pun melangkah mengikuti asal suara mereka hingga aku kini sudah berada di depan pintu ruang kerja om Henry yang tidak tertutup.
"Kita harus bagaimana lagi pa, agar setiap di tanggal dan bulan yang sama ini depresi Elang tidak kambuh lagi," Ucap mama Nisa menangis.
"Aku juga tidak tahu ma, kita sebaiknya berdoa agar Elang bisa sembuh" Terlihat Om Henry mencoba menenangkan mama Nisa. "Andai tidak ada tanggal dan bulan yang sama dengan kecelakaan itu," Ucap Om Henry membuatku sedikit tersentak dan tanpa sadar bibirku ini berucap menjawab kalimat terakhir om Henry pada mama Nisa.
"Andai tidak ada tanggal dan bulan yang sama seperti hari ini, pasti Papa dan Mamaku masih hidup om.....hiks....hiks...." Sahutku dengan mulai terisak membuat kedua orang itu menoleh seketika ke arahku yang berdiri di dekat pintu ruang kerja om Henry.
"Nak...." Om Henry juga ikut mendekatiku. "Nak kamu sudah tahu?" Tanya om Henry memegang bahuku, sedangkan mama Nisa membawaku ke dalam pelukannya.
Aku masih terisak berusaha menahan kesedihanku. "Dari awal melihat kak Elang, aku tahu om, aku mengenalinya. Dia adalah kakak yang sama yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi hingga kedua orang tuaku tiada," Jawabku membuat keduanya semakin merasa bersalah.
Om Henry kini meraih tanganku. "Jika kau mau, aku akan berlutut di hadapanmu sekarang nak agar kau mau memaafkan kesalahan yang telah di perbuat anakku," Keputus asaan dan rasa bersalah laki-laki paruh baya itu terlihat jelas.
"Jangan om," Teriakku saat om Henry sudah menekuk kedua lututnya di hadapanku dan aku pun segera mensejajarkan tubuhku dengan om Henry ikut menekuk kedua lututku, bukan ini yang aku inginkan, seorang pria baik yang aku anggap sebagai pengganti almarhum papaku berlutut memohon maaf padaku atas kesalahan anaknya.
"Kami juga begitu kaget nak saat anak kami satu-satunya sudah membuat kedua orang tuamu tiada dan yang paling mengejutkan lagi bagi kami karena kedua orang tuamu adalah sahabat kami yang telah banyak menolong kami," Terlihat kelopak mata om Henry sudah meloloskan tetesan cairan bening melewati pipinya. Pria yang terlihat masih sangat tampan di usianya yang sudah 50 tahunan itu menangis. "Elang juga sudah mendapatkan hukuman atas kesalahannya, dari kecelakaan itu dia mengalami depresi hingga setahun penuh kami membawanya berobat ke psikiater dan hingga saat ini ia harus kontrol sebulan sekali," Ujar om Henry. "Elang selama ini berusaha mencari keberadaanmu tapi kami menutupinya karena dokter yang menangani Elang mengatakan lebih baik Elang melupakan masa lalunya itu dan juga dirimu agar depresinya tidak semakin parah" Imbuh om Henry.
"Maafkan kesalahan anak kami, sayang," Mama Nisa yang sedari tadi menangis kini ikut mensejajarkan tubuhnya bersama kami.
__ADS_1
"Om, ma......aku sudah memaafkan kak Elang sejak dari dulu. Aku tidak pernah dendam sedikitpun padanya bahkan aku menyayanginya Om, Ma," Jawabku ingin menenangkan hati seorang ayah dan ibu yang merupakan sahabat dari kedua orang tuaku yang benar-benar tulus meminta maaf atas kesalahan anaknya.
"Terima kasih nak," Tangis keduanya memelukku erat.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung........
Elang. :Kenapa hari ini loe yang bercerita, mana author?
Khenin : Noh author lagi sibuk, berkelana......
Elang : Berkelana🤔??
Khenin : Iya di suruh emaknya berkelana nyari minyak goreng murah bareng emak² tetangga🤣🤣.
__ADS_1
Elang : Astaga🤦♂