Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 22


__ADS_3

Elang membuka pintu kamar Khenin, pria tampan itu memang tak pernah mengetuk pintu atau pun meminta ijin untuk masuk ke dalam kamar gadis itu. Elang melangkah mengedarkan pandangan, ia melihat Khenin sedang berbaring di kasur dan ia pun mendekatinya. Terlihat Khenin sedang menahan sakit hingga dahinya berkeringat dingin dan wajahnya terlihat masih pucat.


"Bangun...." Elang menepuk pelan pipi Khenin membuat gadis itu membuka mata, secara perlahan ia bangun mendudukan tubuhnya. "Nih obat loe," Ucap Elang memberikan bungkusan plastik obat pada Khenin lalu mengambil air dalam gelas yang berada di meja dekat ranjang Khenin.


"Makasih kak," Ucap Khenin kemudian membuka bungkusan plastik. "Hah!" Kaget Khenin melihat isi bungkusan plastik itu, bukan hanya satu merk obat tapi bermacam-macam merk obat di dalamnya.


"Gue nggak tahu obat merk apa yang biasa loe minum jadi gue beli semua merk," Ucap Elang.


Butuh perjuangan untuk membeli obat itu di apotik bagi tuan muda seperti Elang, dengan memakai masker ia pergi ke apotik. "Mbak obat sakit datang bulan buat cewek," Ucap Elang pada pelayan toko yang tampak menatap dirinya sedari masuk pintu apotik tadi. Aura wajah tampan Elang tetap terlihat meskipun sudah di tutupi masker membuat semua kaum hawa tak pernah bosan untuk selalu menatapnya.


"Obat sakit datang bulan memang buat cewek mas, gak ada yang buat cowok," Goda pelayan toko itu pada Elang tersenyum di buat semanis mungkin.


Elang berusaha terlihat santai meskipun tatapan mata tanjamnya sudah terlihat. "Saya nggak suka bercanda, berikan yang saya mau," Ucap Elang tegas membuat nyali pelayan toko itu menciut seketika.


"Maaf mas, obat merk apa?" Tanya pelayan toko itu yang merasa takut.


Elang sejenak terdiam, ia tidak tahu obat merk apa yang di minum gadis itu. "Semua merk," Jawab Elang seketika tidak mau ambil pusing.


"Hah," Kaget pelayan itu.


"Cepat minum obat loe," Elang memberikan gelas berisi air tadi pada Khenin, Khenin pun membuka salah satu bungkus obat itu dan segera meminumnya. Khenin menaruh gelas berisi sisa air yang ia minum di atas meja dekat ranjang, sekilas ia menatap Elang yang memegang ponsel nya. "Kalau loe butuh apa-apa loe hubungin gue," Elang memberikan ponsel Khenin yang sudah di isi nomor ponselnya.


"Baik kak, terima kasih," Lirih Khenin kembali menatap Elang yang beranjak dari kamarnya. "Huh" Khenin menghela nafas, meskipun sikapnya dingin tapi laki-laki pemilik hatinya itu sebenarnya baik dan memperhatikan dirinya. Khenin kembali merebahkan tubuhnya dan melihat sekilas ponselnya. "Hah..." Manik mata indah Khenin melebar melihat layar ponselnya, nomor Elang tersimpan dengan nama PACARKU di kontak telpnya.


**


Seminggu sudah berlalu Henry dan Nisa sudah tampak pulang. Nisa membawakan banyak oleh-oleh untuk Khenin. "Sayang, lihat ini," Nisa membuka tote bag, sebuah dress cantik keluaran terbaru ia tunjukkan pada Khenin. "Gaun ini pasti akan sangat cantik jika kamu yang pakai sayang," Ucap Nisa menempelkan dress itu di tubuh Khenin yang sudah memakai seragam sekolah. "Sempurna," Imbuh Nisa memuji kecantikan dan tubuh indah Khenin yang di padu padankan dengan gaun yang ia beli dengan edisi terbatas.


"Makasih ma, tapi ini terlalu banyak buat aku," Ucap Khenin melihat semua barang-barang yang di letakkan di atas ranjangnya. Sepatu, gaun, tas dan masih banyak lagi barang-barang bermerk yang mahal pastinya di belikan Nisa untuk Khenin.


"Untuk kamu, apa pun mama belikan sayang karena kamu anak mama selamanya," Nisa memeluk Khenin, seminggu tidak bertemu dengan Khenin membuatnya jadi rindu dan Khenin pun membalas pelukan Nisa, tadinya ia meragukan kasih sayang Nisa yang ia pikir adalah sekedar rasa bersalah karena Elang. Tapi kini ia menyadari ketulusan kasih sayang Nisa pada dirinya seperti anak kandung. Dulu Nisa pernah ingin memiliki anak perempuan setelah Elang tapi hingga saat ini tuhan masih belum memberikannya.


"Ya sudah sayang, kamu berangkat sekolah dulu gih, hati-hati dijalan," Ucap Nisa kemudian punggung tangannya di cium oleh Khenin.


"Baik Ma, Khenin berangkat," Ucap Khenin begegas. Di depan rumah pradana Khenin sudah dapat melihat Elang yang masih dengan sikap dinginnya menunggu dirinya di dalam mobil. "Maaf kak," Lirih Khenin masuk ke dalam mobil dan tanpa menjawab pria tampan itu segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Loe sudah bilang sama nyokap loe, kalau kita pacaran," Tanya Elang membuka suara, Khenin mengeryit berpikir sejenak mencoba mencerna ucapan Elang barusan.


"Belum kak," Jawab Khenin setelah mengerti yang di maksud Elang adalah mama Siren.


"Loe harus secepatnya ngomong sama nyokap loe kalau kita pacaran," Ucap Elang sembari fokus menyetir.


"Mama lagi berada di perancis kak,"


"Gue nggak perduli, loe harus ngasih tahu secepatnya sama nyokap loe dan gue nggak mau nyokap loe ngedeketin papa gue lagi," Ucap Elang membuat Khenin tidak tahu harus menjawab apa. Ia baru mengenal mama Siren sebagai adik dari mama nya, benar atau tidak tuduhan Elang pada Siren masih belum bisa Khenin sikapi takut jika salah, meskipun dalam lubuk hati nya paling dalam ia percaya tidak mungkin mama Siren melakukan perbuatan buruk itu. "Lagian loe kenapa nggak ikut aja sama orang tua loe? asal loe tahu percuma saja loe tinggal di rumah gue karena gue nggak akan biarin rencana nyokap loe itu berhasil," Imbuh Elang seketika membuat hati gadis itu sakit.


"Andai saja aku boleh ikut orang tuaku kak, aku pasti akan bahagia berkumpul lagi bersama mereka,"


Ciiit......


Elang mendadak mengerem mobilnya seketika.


Deg.....


Entah mengapa ucapan Khenin seperti sebilah pisau menusuk di hatinya. Hatinya mendadak terasa sakit hanya karena mendengar kalimat Khenin barusan.


Tin......


Bel klakson dari mobil di belakang terus berbunyi membuat pria tampan itu tersadar dan segera melajukan kembali mobilnya.


**


"Nin..." Ucap Dino mendekati bangku Khenin. Khenin yang sedari tadi fokus membaca buku pun menoleh. Saat ini Khenin sedang berada di perpustakaan sekolah, ia adalah gadis pandai yang lebih senang menghabiskan waktu dengan membaca dan belajar.


"Ya, ada apa Din?" Tanya Khenin, kepindahan Nety dari sekolah yang secara mendadak setelah meminta maaf pada dirinya membuat gadis itu bingung dan tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi hingga sampai saat ini ia masih bingung untuk mengambil sikap dalam memghadapi Dino.


"Aku pingin ngomong sama kamu," Ucap Dino.


"Aku lagi belajar Din," Jawab Khenin.


"Sebentar aja Nin," Bujuk Dino.

__ADS_1


Khenin tampak berpikir sejenak. "Ya sudah kita keluar dulu dari sini," Ucap Khenin menutup buku dan menaruhnya kembali di rak perpustakaan.


"Kamu pengen ngomong apa?" Tanya Khenin saat ini sudah beralih di depan perpustakaan bersama Dino.


"Kakak aku mengundang kamu ke pesta ulang tahunnya, kamu mau kan datang besok malam?" Tanya Dino mengambil sebuah undangan dari saku celananya dan memberikan pada Khenin.


"Maaf Din, tapi aku..."


"Please...." Dino menyela ucapan Khenin. "Kamu datang ya. Nety juga nggak akan ganggu kamu lagi karena dia sudah pindah dari sekolah ini," Ucap Dino tapi Khenin merasa berat untuk menyetujui nya. "Lina nanti akan jemput kamu," Imbuh Dino untuk lebih meyakinkan gadis itu lagi.


"Mmm....baiklah aku akan datang," Akhirnya Khenin menyetujui karena mendengar nama Lina sahabat sebangkunya juga ikut ke pesta itu.


"Makasih Nin," Ucap Dino dengan seringai di bibir menatap kepergian Khenin yang kembali masuk ke dalam perpustakaan di sekolah itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2