
Elang kembali membuka kotak P3K, ia menekuk kedua lutut di samping Khenin perlahan menyikap rok span kerja Khenin hingga sedikit di atas lutut. Dengan kapas yang di beri alkohol Elang membersikan luka Khenin.
Setelah memberi plester pada luka di lutut Khenin kini Elang beralih pada luka di lengan Khenin, dengan telaten Elang mengobati sikut Khenin, dalam tidur Khenin mengernyit merasakan perih pada luka nya. "Kenapa kamu bisa terluka seperti ini Nin?" Gumam Elang terdengar di telinga Khenin yang masih terpejam.
Elang menatap lekat wajah cantik gadis yang selama ini di cintainya itu. "Nin apa kamu benar-benar ingin aku pergi dari hidupmu?" Lirih Elang membuat hati Khenin tersentak mendengar ucapan Elang itu, Khenin merasa memang dirinya bodoh sudah salah paham pada Elang, ia tidak mau kehilangan Elang lagi, laki-laki yang begitu ia cintai selama ini, laki-laki yang tidak sanggup ia benci.
Elang menghela nafas, pria bermata tajam itu beranjak berdiri setelah menutup kotak P3K kemudian membalikkan badan melangkah hendak mendekati pintu keluar ruangannya namun tiba-tiba....
"Kak," Sebuah pelukan ia rasakan dari belakang tubuhnya membuat pria gagah itu kaget. Khenin yang sedari tadi sudah terbangun dari tidurnya mengira Elang akan pergi hingga ia segera bergegas bangun dengan sedikit menahan sakit di lutut ia memberanikan diri memeluk tubuh gagah Elang dari belakang.
"Kak, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu," Ucap Khenin mengeratkan pelukannya di pinggang Elang.
Deg....
Deg.....
Hati Elang seketika berbunga-bunga, mimpikah dirinya? Khenin menyatakan cinta padanya.
Elang perlahan membalikkan posisi tubuhnya setelah merenggangkan pelukan tangan Khenin di pinggangnya.
Elang menatap Khenin yang menunduk, perlahan tangannya terangkat menyetuh lembut dagu Khenin agar pandangan gadis itu beralih menatap dirinya.
"Aku tidak salah dengar kan Nin?" Tanya Elang lembut, menatap netra gadis itu yang sudah berkaca-kaca.
Khenin menggeleng perlahan, "Apa kak Elang masih mencintaiku?" Spontan pertanyaan itu membuat Elang tertawa. "Kak, kenapa tertawa?" Tanya Khenin, Elang segera menghentikan tawanya dan meraih tubuh Khenin ke dalam pelukannya mendekap erat wanita muda itu.
"Apa yang kamu katakan, sampai detik ini di seumur hidupku aku sangat mencintaimu Nin, sampai kapanpun, hanya kamu," Ucap Elang. "Tetaplah di sisiku selamanya Nin, aku tidak sanggup hidup tanpa kalian," imbuh Elang.
"Maafkan aku selama ini kak, sudah salah paham sama kakak,"
"Maksud kamu," Elang perlahan melepaskan pelukannya pada Khenin kemudian menunduk dan membawa tubuh Khenin ke dalam gendongannya.
"Kak, apa yang kakak lakukan?" Tanya Khenin. Elang tidak menjawab, ia membawa Khenin kembali untuk didudukkan di sofa.
"Kaki kamu pasti masih terasa sakit," Ucap Elang saat sudah mendudukan perlahan tubuh Khenin. "Nah sekarang jelaskan apa maksud ucapan kamu tadi?" Tanya Elang ikut mendudukkan tubuhnya di sofa samping Khenin.
Khenin menunduk, "Maaf kak, aku salah paham sama kakak dan kak Nency,"
"Nency, maksud kamu?"
__ADS_1
"Waktu pesta ulang tahun kak Nency, aku lihat kak Elang keluar dari kamar kak Nency," Khenin sedikit menjeda ucapannya ia masih menunduk tidak berani menatap wajah Elang yang sudah mengerutkan alis mulai memahami ucapan Khenin. "kak Nency bilang kalian sudah tidur bersama dan kak Elang berjanji akan menikahi kak Nency," Ucap Khenin lagi.
"Huh, dasar wanita sialan itu," Umpat Elang. "Jadi selama ini kamu menghindari ku karena wanita sialan itu?" Tanya Elang.
Khenin mengangguk. "Aku pikir kakak sudah menikahi kak Nency jadi aku tidak ingin menganggu hubungan kalian,"
"Kau bodoh Nin, aku sama sekali tidak tertarik padanya, dia berusaha menggodaku saat itu tapi aku menolaknya karena aku hanya mencintai kamu,"
"Jadi saat itu kak Elang sudah mencintaiku?" Tanya Khenin refleks menatap Elang.
"Hei, kau pikir aku bisa begitu saja memperkosamu tanpa ada rasa cinta? Jika saat itu aku tidak ada rasa cinta sama kamu mana mungkin aku bisa dengan mudah tergoda oleh mu dan memperkosamu,"
"Aku tidak menggoda kakak," Khenin mencebikkan bibir tak terima.
Elang tersenyum, "Kamu tidak menggodaku, lalu ini apa?" Elang memegang dagu Khenin menatap bibir wanita itu.
"Apa maksud ka.."
Ucapan Khenin terhenti saat Elang memajukan wajahnya dan....
Cup.....
"Aku mencintaimu Nin, hanya kamu satu-satu yang bisa membuatku tergoda," Ucap Elang setelah melepas ciumannya. "Maafkan aku ya, aku sudah menyakitimu selama ini,"
"Aku sudah memaafkan kakak, bahkan aku sama sekali tidak bisa membenci kakak," Tutur Khenin.
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu,"
Tidak tahu sebahagia apa perasaan Elang saat ini, cintanya benar-benar terbalas....
"Terima kasih Nin, aku sungguh sangat beruntung dan bahagia sekali," Ucap Elang memegang dan mencium punggung tangan Khenin.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Darrel Durand, apa kamu tidak memiliki perasaan padanya bukankah dia selama ini selalu bersama kalian?" Tanya Elang, ia tahu sebenarnya dirinya harus berterima kasih pada Darrel Durand karena biar bagaimanapun laki-laki itu sudah menjaga anaknya dan Khenin.
"Hubunganku dengan kak Darrel baik, tentu saja aku sangat menyanyanginya," Ucap Khenin tersenyum membayangkan paman kecilnya itu. "Kak Darrel selalu ada untuk aku dan Steve, saat aku hamil Steve kak Darrel selalu siaga di sampingku. Aku sering ngidam waktu itu dan kak Darrel lah yang menuruti semua ngidamku," Ucap Khenin membuat Elang merasa sedih dirinya merasa bersalah karena tidak ada di samping Khenin saat itu.
"Kau tahu kak, bahkan waktu aku melahirkan anak kita Steve, kak Darrel lah yang mengumandangkan adzan di telinga Steve saat itu," Imbuh Khenin tidak menyadari sudah secemburu apa Elang saat ini.
__ADS_1
"Andai waktu itu kau tidak pergi meninggalkanku, pasti kita sudah menikah Nin dan aku yang ada di sampingmu saat itu. Tapi mungkin ini adalah hukuman untukku," Lirih Elang.
"Kak," Khenin memegang tangan Elang menatap pria tampan bermata tajam itu.
Elang menghela nafas. "Sudahlah aku tidak mau mendengar kau membicarakan laki-laki lain apalagi Darrel Durand," Cemburu Elang. "Aku ingin kamu menjauhi laki-laki itu," Ucap Elang.
"Aku tidak mau kak," Tolak Khenin.
"Hei apa kau ingin aku mati cemburu karena melihat kedekatanmu dengan Darrel, belum lagi anak kita yang menganggapnya sebagai penggantiku," Tutur Elang membuat Khenin mengeryit seketika, menyadari jadi selama ini Elang belum tahu hubungan dirinya dengan Darrel.
"Kak, mana mungkin aku menjauhi paman ku sendiri...."
"Aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus menjauhi pamanmu itu," Refleks Elang menjawab belum menyadari perkataannya.
"Dia itu pamanku kak," Tegas Khenin menyadarkan Elang.
"Paman...!!!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Mohon maaf readers tercinta author baru bisa up date.....semoga semua terhibur......
__ADS_1