
"Mulai saat ini perusahaan akan berada di bawah pengawasan nona Khenindira," Ucap Darrel pada semua karyawan yang kini sedang berada di ruang meeting.
Semua tampak memandang Khenin, calon pemimpin mereka yang tampak cantik dan anggun meskipun ada keraguan dalam pikiran mereka karena ibu satu anak itu terlihat masih sangat muda, apakah sanggup memimpin perusahaan ini nantinya.
"Saya harap kita semua dapat saling bekerja sama untuk kesuksesan dan kemajuan perusahaan kita. Dan untuk nona Khenin silahkan," Darrel mempersilahkan Khenin untuk berbicara.
"Selamat siang semua, saya tidak ingin banyak basa-basi. Meskipun saya baru di dunia kerja ini tapi percayalah kalau saya akan berusaha yang terbaik agar bisa lebih memajukan perusahaan ini. Dan untuk semua, mohon kerja sama dan bantuannya. Terima kasih," Ucap Khenin singkat namun berkesan tegas dan tampak serius membuat semua karyawan sedikit menepis keraguan mereka.
"Ada yang perlu di tanyakan?" Darrel menatap satu persatu karyawan di sana.
"Tidak ada tuan," Jawab salah satu karyawan.
"Baiklah, meeting hari ini kita akhiri sampai di sini. Selamat siang," Ucap Darrel.
"Selamat siang tuan, nona," Ucap semua karyawan kompak dan meeting itupun berakhir.
"Ya sudah honey, kamu jaga diri baik-baik di sini. Aku serahkan perusahaan ini padamu dan jika ada apa-apa kamu hubungi kakak ssgera," Ucap Darrel pada Khenin yang saat ini keduanya berada di ruang kerja Khenin.
Khenin mengangguk, tanda ia mengerti tapi tatapan manik mata nya masih menatap Darrel. "Kapan kakak bawa Steve kemari?" Tanya Khenin yang baru sehari tidak bertemu Steve rasanya sangat rindu pada anaknya itu.
"Secepatnya aku akan bawa Steve bersamamu, kamu tenang saja," Darrel mencium kening Khenin, ia sungguh menyayangi keponakan yang sudah seperti anak baginya meskipun dirinya belum berkeluarga. "Ya sudah honey, aku sekarang harus kembali ke perancis, ada meeting yang harus aku hadiri di sana,"
"Baik kak," Khenin mencium punggung tangan Darrel. Pria tampan itu pun pergi meninggalkan Khenin untuk kembali ke perancis karena memang perusahaan di sana membutuhkan dirinya.
Hari sudah mulai sore, waktu bekerja pun sudah usai. Khenin tampak senang karena dirinya dapat dengan mudah menyesuaikan dengan semua pekerjaan di perusahaan yang ia pimpin saat ini.
"Mbak Bella, aku pulang dulu," Pamit Khenin pada seketarisnya itu yang masih berada di ruangannya.
"Silahkan nona," Ucap sopan Bella.
Khenin berjalan melalui pintu keluar perusahaan, di depannya sudah ada supir yang siap membukakan pintu mobil. Khenin menghela nafas, ia sebenarnya ingin membawa mobil sendiri tapi Darrel melarangnya. "Pak kita mampir ke Mall terdekat," Ucap Khenin pada sang supir setelah dirinya masuk ke dalam mobil.
"Baik nona," Mobil itupun melaju menelusuri jalan hingga berhenti pada salah satu Mall terbesar di kota ini. Khenin keluar dari mobil kemudian memasuki Mall itu menuju sebuah clothing store. Khenin ingin membeli pakaian untuk ia bekerja setiap harinya karena saat di perancis ia tidak sempat berbelanja. Ada banyak macam pakaian kerja yang di pilih Khenin untuk ia coba di ruang ganti hingga ta sengaja gadis itu menabrak seseorang.
"Maaf, aku tidak sengaja," Ucap Khenin mengambil baju nya yang terjatuh tanpa mengetahui siapa yang ia tabrak.
__ADS_1
"Ternyata kamu nin, ngapain kamu di sini," Ucap seorang wanita yang suaranya tidak asing bagi Khenin.
Khenin mendongak sembari badannya kembali berdiri menatap sang pemilik suara.
"Kak Nency," Lirih Khenin melihat Nency di hadapannya yang sedang hamil besar.
"Iya ini aku, kamu ngapain di sini?" Tanya ulang Nency.
"Aku sedang beli baju kak," Jawab Khenin. "Kakak kenapa berada di sini?" Hati Khenin berdebar menanyakan pertayaan itu, ia merasa takut jika Nency di sini itu berarti ada Elang juga karena Khenin berpikir setelah kepergiannya pasti Elang akan menikahi Nency apalagi didepan matanya saat ini Khenin melihat Nency sedang hamil besar.
"Tentu saja aku sedang liburan di sini bersama suamiku tercinta." Jawab Nency menyombongkan diri. Dirinya saat ini sudah menikah dengan salah satu pengusaha sukses di kota XX atau lebih tepatnya menikah sirih dengan suami orang.
(Author : Dasar pelakorππ€
Nency : Dasar author ππ€ gue di jadiin pelakor.
Author : π)
"Ah, selamat ya kak," Ucap Khenin berusaha tersenyum. "Ya sudah aku mau ke sana dulu kak," Pamit Khenin meninggalkan Nency.
"Gue ke toilet dulu," Pamit Satya pada Elang.
"Ok cepetan, gue tunggu di sini," Ucap Elang sembari melihat detikan waktu yang melingkar di tangannya.
"Elang," Sapa Nency mendekati Elang sepeninggal Satya. Sang pemilik mata tajam itupun menoleh pada asal suara.
"Loe," Ucap Elang dingin ketika tahu pemilik suara.
"Kamu apa kabar Lang?" Tanya Nency masih bersikap manja memegang lengan Elang.
Di sisi lain Khenin baru keluar dari clothing store dengan beberapa tote bag di tangannya. Ia menutup mulutnya rapat dengan tangannya agar tidak bersuara karena kaget melihat pemandangan yang tampak dari tempatnya berdiri.
"Kak Elang," Lirihnya, air mata tiba-tiba saja lolos dari manik matanya. Putaran kejadian Elang merenggut paksa kesuciannya kembali beputar seperti roll film di pikirannya. Ia meremas bajunya, keringat dingin sudah membasahi dahi nya. Khenin merasa taruma dengan perlakuan Elang saat itu meskipun ia tidak bisa berbohong kalau dirinya tidak bisa membenci Elang justru semakin mencintai pria itu meskipun sudah banyak penderitaaan hidup yang ia alami akibat ulah Elang.
Khenin hatinya terasa sakit melihat Nency sedang bersama Elang, wanita hamil itu terlihat bermanja pada Elang. Pemandangan itu menguatkan pikiran Khenin tentang Elang yang pasti sudah menikahi Nency.
__ADS_1
Kamu harus kuat Nin, bersemangatlah semi Steve. Ucap Khenin kembali melangkah segera meninggalkan Mall itu.
"Ah, loe nggak asyik Lang masih saja bersikap dingin, padahal kan aku lagi hamil harusnya kamu bersikap baik sama aku," Gerutu Nency saat tangannya di tepis oleh Elang dari lengan Elang.
"Gue hanya akan bersikap baik jika wanita yang hamil itu istri gue," Jawab Elang dingin.
"Maksud loe Khenin?" Tanya Nency yang seketika membuat Elang kaget. Nency yang melihat Khenin di cloting store dan Elang di sini, dirinya pun mengambil kesimpulan kalau keduanya datang bersama. "Jadi kalian sudah menikah? tapi tadi aku lihat Khenin masih rata perutnya belum hamil," Tanya Nency, ia tahu sejak dulu hati Elang hanya untuk Khenin meskipun saat itu ia dan Dino berusaha memisahkan keduanya tapi sama sekali tak membuat Elang melupakan gadis itu.
"Apa maksudmu? kamu lihat Khenin dimana?" Tanya Elang antusias.
"Di situ," Tunjuk Nency pada Clothing store tempat mereka bertemu.
"Loe nggak bohong kan!!" Tanya Elang menatap tajam Nency.
"Ngapain aku bohong," Ucap Nency bingung ada apa sebenarnya kenapa Elang tidak tahu keberadaan Khenin. Sedangkan Elang segera mungkin berlari memasuki clothing Store mencari keberadaan Khenin.
Elang meraup wajahnya kasar, ia sudah mencari di seluruh tempat itu tapi tak menemukan keberadaan Khenin yang kini sudah berada di parkiran.
"Jalan pak," Ucap Khenin pada sang supir yang segera melajukan mobilnya.
Semoga kamu bahagia kak. Ucap Khenin dalam hati. Mulai saat ini ia harus bisa melupakan Elang dan bersemangat demi Steve buah hati kesayangannya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......