
Hari ini Elang bersama Satya, sudah tampak di loby perusahaan Durand group. Kedua laki-laki itu melangkah dengan gagah memasuki lift menuju ke ruang pemilik perusahaan.
"Kami ingin bertemu dengan Nona Khenin," Ucap Satya pada Bella saat berada di depan ruangan Khenin. Melihat keduanya Bella sang sekretaris Khenin pun sudah bisa mengetahui kedua pria tampan itu berasal dari Eagle group.
"Silahkan tuan," Ucap Bella mempersilahkan keduanya.
Tok....
Tok.....
"Masuk," Suara Khenin dari dalam ruangan.
Bella pun membuka pintu dan mempersilahkan kedua pria tampan itu memasuki ruangan Khenin. "Silahkan," Ucap Bella pada Elang dan Satya untuk duduk di sofa yang berada di ruangan Khenin.
Khenin yang berada di kursi kebesarannya pun beranjak berdiri mendekati keduanya. Satya yang berada di sebelah Elang tak henti tersenyum menatap wajah cantik Khenin sedangkan Elang tampak dingin menatap Khenin.
"Selamat pagi tuan-tuan," Sapa Khenin pada keduanya sembari mengulurkan tangan. Gadis itu berusaha bersikap profesional pada pekerjaannya meskipun hati terasa tidak karuan dan detak jantungnya berdetak lebih cepat apalagi melihat tatapan Elang.
"Pagi nona Khenin," Ucap Satya menjabat tangan Khenin dengan tersenyum. Kini giliran Elang, laki-laki itu membalas menjabat tangan Khenin dengan wajah dingin tanpa senyum dan kata.
Ketiganya pun duduk di sofa. Khenin yang duduk di hadapan keduanya pun menoleh pada Bella.
"Mbak Bella," Ucap Khenin pada Bella yang segera mendekati Khenin dengan sebuah berkas di tangannya.
"Ini nona," Ucap Bella memberikan berkas itu.
"Maaf nona Bella bisa tolong tunjukkan pada saya dimana letak kamar kecil," Ucap Satya tiba-tiba. Sahabat Elang itu sengaja ingin memberikan kesepatan Elang untuk berdua bersama Khenin.
"Silahkan tuan," Ucap Bella pada Satya dan keduanya pun meninggalkan ruangan itu menyisakan Elang dan Khenin.
"Ini adalah berkas pengajuan dari perusahaan anda tuan Elang dan kami menerima pengajuan perusahaan anda untuk bekerja sama dengan perusahaan kami," Ucap Khenin. "Dan ini surat kerja sama perusahaan, silahkan berikan tanda tangan anda," Khenin memberikan berkas pada Elang.
Gadis itu sedari tadi menahan takut, karena Elang tampak terdiam dengan tatapan dingin.
"Jadi karena perusahaan ini kamu menolakku," Ucap Elang mulai membuka suara. Laki-laki itu perlahan beranjak dari duduknya mendekati Khenin.
"Maaf tuan, apa maksud anda?" Khenin sontak berdiri melihat Elang semakin mendekati dirinya.
"Hanya sebuah perusahaan, jika kau mau akan ku berikan semuanya untukmu," Elang memegang lengan gadis itu. "Kembalilah padaku Nin," Ucap Elang melembut.
__ADS_1
"Maaf tuan,...." Belum sempat Khenin melanjutkan ucapannya tiba-tiba ponsel yang berada di tangan Khenin berbunyi, gadis itu menatap layar ponsel. Sebuah panggilan suara dari Darrel.
Elang perlahan melepas pegangan tangannya dari lengan Khenin, tatapan mata tajamnya melihat nama Darrel di layar ponsel Khenin hingga ia refleks merebut ponsel dari tangan gadis itu.
"Jangan Kak," Khenin berusaha mengambil ponselnya tapi di tahan oleh Elang. Elang menggeser tombol hijau dan menekan loudspeaker pada layar ponsel itu.
"Hay honney,....," Terdengar suara Darrel dari ponsel Khenin. Terlihat wajah Elang menahan amarah mendengar panggilan itu untuk Khenin. "Honney, ada apa denganmu, kenapa tidak menjawab," Suara cemas Darrel.
"A...aku tidak apa-apa kak," Ucap Khenin seketika membulatkan mata ketika wajah Elang tiba-tiba menunduk mendekati dirinya dan.
"Aaaah...," Suara Khenin ketika Elang menggigit lembut ceruk lehernya. Khenin refleks mendorong tubuh Elang tapi tubuh laki-laki itu sama sekali tak bergeming.
"Ada apa Honney? Kau kenapa," Tanya Darrel cemas hingga Elang menggeser tombol merah pada layar ponsel Khenin setelah melepas ciuman bercampur gigitan kecil yang meninggalkan bekas tanda merah pada leher Khenin.
Elang menyeringai. "Kenapa tidak kamu katakan saja apa yang sudah aku lakukan padamu," Ucap Elang melempar ponsel Khenin ke sofa.
"Kenapa.....kenapa kak?" Kenapa kakak lakukan itu padaku? Apa salahku kak!!" Teriak Khenin.
"Salahmu karena kau berada dalam hatiku," Kedua tangan Elang memegang pundak Khenin yang menunduk dan terisak. "Nin cobalah sedikit saja membuka hati untukku. Aku mencintaimu Nin," Teriak Elang, ia tidak tahu harus bagaimana lagi meyakinkan gadis itu. "Aku mohon menikahlah denganku," Pinta Elang.
"Maaf kak, aku nggak bisa," Khenin menepis perlahan tangan Elang yang berada di pundaknya.
"Baiklah jangan salahkan aku karena aku nggak akan menyerah untuk mendapatkan cintamu dan menikahimu," Kekeh Elang. Laki-laki itu kemudian mengambil berkas itu dan menanda tanganinya.
Khenin masih berdiri sampai Satya kembali masuk ke dalam ruangannya. "Kita kembali," Ucap elang pada Satya kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Ya sudah nona Khenin kami permisi," Ucap Satya ikut pamit pada Khenin meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi pada keduanya. Ia hanya sedikit mengeryit menyeringai ketika melihat ada jejak merah di leher Khenin.
"Dasar vampir bermata tajam" Lirih Satya
Kamu harus kuat Nin.....Ucap Khenin dalam hati kemudian melihat layar ponsel di sofa yang sedari tadi berbunyi.
"Halo kak," Ucap Khenin setelah mengatur nafas dan menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Kamu kenapa honney, apa ada yang menyakitimu. Katakan?" Cemas Darrel.
"Kak, aku nggak apa-apa cuman tadi aku tidak hati-hati saat berjalan sampai tersandung dan sambungan telp kita terputus. Maaf ya kak, udah buat kakak cemas," Ucap Khenin.
"Ya sudah tidak apa-apa lain kali hati-hati, katakan pada kakak jika ada sesuatu," Suara Darrel dari ponsel.
__ADS_1
"Kak, kapan kakak bawa Steve ke sini?" Tanya Khenin, betapa ia merindukan buah hati nya itu.
"Secepatnya, hari ini kakak akan pulang ke rumah dan kakak akan coba membujuk mama," Ucap Darrel. "Kamu percayakan semua sama kakak,"
"Baiklah kak, jangan lama-lama aku tidak bisa hidup tanpa Steve,"
"Ya honney bersabarlah,"
**
"Sial....," Umpat Elang memukul setir mobil membuat Satya berjingat kaget. "Gue harus gimana buat dapetin hati itu cewek?" Ucap Elang pada sahabatnya.
"Gue nggak tahu bro tapi jujur kalau gue jadi Khenin, mungkin gue juga akan ngelakuin hal yang sama karena gue pasti akan takut dan trauma sama loe," Ucap Satya.
"Gue tahu gue salah," Elang terdiam, Ia begitu menyesal atas semua yang ia lakukan dulu terhadap Khenin. "Gue sudah banyak menyakiti gadis itu tapi gue bener-bener menyesal, gue sangat mencintai gadis itu dan nggak mau kehilangan dia lagi," Ucap Elang.
"Loe tenang aja, gue punya rencana supaya kita bisa tahu, gadis itu punya rasa sama loe atau nggak," Ucap satya menenangkan sahabatnya itu.
"Maksud loe?" Elang mengeryit menatap Satya yang duduk di sebelahnya.
"Udah loe ikutin rencana gue," Ucap Satya menyeringai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.............