
"Paman.....!!! Maksud kamu?" Seru Elang kaget.
"Kak Darrel itu paman kecilku, adik kandung mamaku," Jelas Khenin.
"Oh my good," Lirih Elang meraup wajahnya kasar. "Jadi selama ini aku juga salah sangka ternyata kalian bukan pasangan seperti rumor yang beredar?" Lirih Elang.
"Rumor apa kak?" Tanya Khenin mengeryitkan dahi.
"Sudahlah, kau tidak perlu tahu," Ucap Elang memandang wajah cantik Khenin, tangannya terangkat menepikan helaian rambut dari wajah Khenin ke belakang telinga.
Bodoh.....apa yang telah aku lakukan, aku harus berusaha keras untuk mendapatkan restu dari paman kecilmu itu Nin. Ucap Elang dalam hati.
"Kak, bagaimana keadaan om Henry dan mama Nisa?" Tanya Khenin.
"Jika kamu ingin tahu, besok kita pergi ke sana," Ucap Elang, tangannya membelai lembut pipi mulus Khenin membuat Khenin merona, wajahnya memerah ia selalu berdebar setiap kali Elang menyentuhnya.
Cup.....
Elang mencium kening Khenin. "Sekarang aku antar kamu pulang,"
Khenin mengangguk hendak berdiri namun ia seketika kaget dengan apa yang di lakukan Elang.
"Kak, aku bisa jalan sendiri," Ucap Khenin saat Elang dengan cepat menggendong tubuhnya.
"Aku tahu, tapi kaki calon istriku ini lagi sakit mana mungkin aku membiarkannya berjalan sendiri," Jawab Elang melangkah keluar ruangannya.
Semua mata karyawan memandang pemilik perusahaan itu. "Kak aku malu," Lirih Khenin berbisik di telinga Elang hingga Elang merasakan terpaan nafas Khenin di telinga nya.
"Nin jangan menggodaku, nanti aku bisa khilaf lagi," Ucap Elang menyeringai menatap Khenin.
"Kak Elang," Khenin melayangkan Pukulan ringan di bahu Elang.
Elang tersenyun sembari terus melangkah dengan gagah seolah tak terbebani sedikitpun dengan berat badan Khenin di gendongannya.
Langkah Elang terhenti sejenak saat tepat berada di meja resepsionis. "Lain kali jika calon istriku datang segera beritahu aku dan jika kalian mengabaikannya lagi, aku pastikan kalian tidak akan bekerja di sini lagi," Ucap Elang terlihat menakutkan bagi kedua resepsionis yang bertugas.
"Maafkan kami tuan muda," Kedua resepsionis itu menunduk takut.
"Kak, jangan seperti itu," Lirih Khenin ketika Elang sudah kembali melanjutkan langkah kakinya menelusuri loby perusahaan.
Blaak.....
Elang menutup pintu mobil setelah mendudukkan Khenin di samping kemudi.
"Terima kasih pak," Ucap Elang pada security yang membukakan pintu mobil.
Elang melajukan mobilnya. "Kita cari makan dulu kamu pasti lapar," Ucap Elang melirik Khenin.
"Aku mau pulang saja kak, nanti biar aku makan di rumah sama Steve," Tutur Khenin.
"Baiklah, aku juga sudah sangat merindukan anakku," Ucap Elang kembali fokus mengemudi.
*****
__ADS_1
"Mommy," Teriak Steve menghampiri Khenin yang sudah berada di pintu depan rumah.
"Anak mommy," Ucap Khenin hendak membawa Steve ke dalam gendongannya namun segera di cegah oleh Elang.
"Steve sama Papi ya, kaki Mommy lagi sakit," Ucap Elang meraih tubuh Steve.
"Uncle baik!!" Kaget Steve menatap Elang.
"No Uncle but Papi," Ucap Elang pada Steve. Steve menoleh pada Khenin.
"Boleh Mom, Mommy sudah nggak marah lagi sama Papi?" Tanya polos Steve.
"Iya sayang," Ucap Khenin mengangguk.
"Papi..!!" Steve memeluk Elang.
"Anak Papi," Elang mencium pipi Steve.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya kak mau mandi, nanti kita makan malam bersama," Ucap Khenin hendak melangkah.
"Tunggu Nin, apa perlu aku gendong lagi?" Tanya Elang masih khawatir dengan kondisi luka Khenin.
"Tidak kak, aku bisa kok jalan sendiri," Jawab Khenin tersenyum.
"Baiklah, oh ya Nin apa aku boleh numpang mandi di sini?" Tanya Elang lagi, jujur ia juga sudah merasa gerah karena belum mandi.
"Ah iya," Khenin menepuk jidat. "Maaf ya aku lupa kalau kakak juga belum mandi bau asem," Ucap Khenin tertawa kecil.
"Oh jadi aku bau asem," Ucap Elang mencubit gemas hidung Khenin.
"Maaf Nona, makan malam sudah si..." Ucap bi Ijah yang datang dari dapur pun terjeda karena melihat Elang. "Tuan bukankah tuan yang waktu itu," Tunjuk bi Ijah kaget pada Elang.
"Ya bi, saya ayah kandung Steve," Ucap Elang membuat bi Ijah menoleh pada Khenin.
Khenin tersenyum. "Benar bi, dia papi kandung Steve," Ucap Khenin mengangguk.
"Ya Tuhan, pantas saja wajah mereka sama. Bibi sudah menduga dari awal bertemu dengan tuan," Ucap bi Ijah.
"Ya sudah bi, tolong antar kak Elang ke kamar tamu untuk mandi," Ucap Khenin pada bi Ijah.
"Baik Non," Bi Ijah mengangguk. "Mari tuan," Ucap bi Ijah pada Elang.
"Steve main dulu ya," Ucap Elang menurunkan anaknya dari gendongan.
"Baik pi,"
Hampir setengah jam berlalu, Kheninpun sudah selesai mandi dan sholat. Usai itu Khenin memutuskan untuk pergi ke kamar tamu membawakan Elang pakaian Darrel.
"Kak," Khenin mengetuk pintu namun tak ada sahutan hingga ia memutuskan membuka pintu kamar itu. "Aah maaf kak," Refleks khenin menutup mata dan menjatuhkan pakaian Darrel yang akan di pinjamkan pada Elang.
Elang yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk menutupi bagian bawah tubuhnya pun tersenyum mendekati Khenin. "Untuk apa meminta maaf, bukankah waktu itu kamu sudah lihat semuanya," Ucap Elang menunduk.
"Kak....!!" Teriak Khenin ketika Elang dengan tiba-tiba menggendong tubuh Khenin, melangkah mendekati ranjang. "Apa yang kakak lakukan?" Ucap Khenin masih menutup mata, Elang perlahan membaringkan tubuh Khenin dengan kedua tangan menahan tubuh kekarnya yang saat ini di sudah berada di atas tubuh Khenin.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu Nin," Ucap Elang mendekatkan wajahnya dan...
Cup....
Elang mencium kenin Khenin dan segera beranjak dari atas tubuh Khenin, ia menghela nafas tidak ingin pikiran mesum dan nafsu menguasainya hingga ia tidak bisa menahan diri lagi.
Elang segera mengambil baju yang di jatuhkan Khenin. "Kamu tunggu aku di sini ya," Ucap Elang masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaian.
Hari sudah semakin larut, setelah selesai makan malam, Steve mengajak Elang bermain di kamar Khenin hingga ia tertidur.
"Kak," Khenin mendekati Elang yang berbaring di samping Steve.
Elang yang memandangi wajah malaikat kecilnya saat tertidur pulas itu pun seketika beralih menatap Khenin yang sudah berdiri di samping ranjang tempat ia berbaring bersama Steve.
Elang segera bangun dan duduk di pinggiran ranjang menatap Khenin yang sudah berganti dengan pakaian tidur.
"Sudah malam, apa kakak ingin pulang atau tidur di ruang tamu," Tanya Khenin.
Elang menyeringai setelah menghela nafas. "Aku inginnya tidur di sini bersama kalian tapi aku takut khilaf lagi," goda Elang.
"Ya sudah kak Elang pulang saja kalau gitu," Ucap Khenin.
"Huh," Elang menghela nafas. "Baiklah, aku akan pulang asal," Elang menatap Khenin.
"Asal apa kak," Tanya Khenin bingung.
"Asal," Elang menarik tangan Khenin hingga tubuh Khenin terduduk di pangkuan Elang.
"Kak,"
Elang membelai wajah Khenin dan mendekatkan wajahnya, kini bibir Elang sudah mendarat lembut di bibir Khenin.
"Aku ingin segera menikahimu Nin," Ucap Elang setelah melepas ciumannya.
"Kakak harus meminta restu pada Opa, oma dan kak Darrel,"
"Pasti,"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....