
Elang sudah masuk dalam mobilnya yang terpakir di perusahaan Henry. Ia benar-benar geram barusan melihat Henry memeluk Siren dan mereka berencana menikah diam-diam. "Sial," Umpat Elang memukul setir mobilnya. "Gue nggak akan biarin itu terjadi," Elang hendak melajukan mobilnya tapi terhenti ketika suara ponselnya berbunyi.
"Ada apa?" Ucap Elang saat sudah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Loe dimana?" Suara Satya si penelpon.
"Kenapa?"
"Loe jadi ikut ke pesta Nency nggak?" Satya bertanya meskipun sudah tahu jawaban nya kalau Elang nggak bakalan mau ikut ke acara party-party seperti.
"Nggak," Jawab singkat Elang hendak mematikan ponselnya tapi seketika terhenti saat Satya berucap lagi.
"Beneran nggak mau, kata Nency adik angkat loe Khenin juga datang loh," Ucap Satya. Elang terdiam sejenak mendengar nama Khenin di sebut barusan. Sebenarnya ia memang mau pulang berniat mencari Khenin.
"Ok gue jemput loe sekarang," Elang mematikan ponselnya. Ia benar-benar kesal untuk apa bocah itu ikut acara pesta seperti itu, Elang pun melajukan mobilnya.
Setelah Khenin, Lina dan Dino masuk rumah, tak lama kemudian mobil Elang sudah tampak di depan rumah Nency. "Makasih ya Elang sayang, akhirnya kamu mau datang juga ke pestaku," Ucap Nency menyambut kedatangan Elang, mengabaikan keberadaan Satya saat kedua pria itu baru turun dari mobil. Elang mengedarkan pandangan mencari keberadaan Khenin yang tentu nya tidak ia dapati karena Khenin sudah masuk ke dalam dan berada di taman belakang yang letaknya agak jauh dari depan rumah besar itu hingga suara musik di pesta itu tidak terdengar.
"Singkirin tangan loe," Ucap Elang saat Nency memeluk lengan kekarnya. Nency tak menghiraukan ucapan Elang, wanita itu masih bergelayut manja di lengan Elang yang sudah menatapnya tajam.
"Singkirin nggak," Ulang Elang dengan suara meninggi membuat nyali Nency menciut seketika.
"Iya....iya di peluk wanita cantik kok nggak mau," Gerutu Nency melepas tangannya dari lengan Elang kemudian menoleh pada Satya yang sedari tadi tersenyun melihat keduanya. "Sebenarnya kalian itu berteman apa pacaran sih," Gerutu Nency lagi menyindir, membuat senyum Satya berubah menjadi sebuah tawa sedangkan Elang masih tak bergeming dari sikap dinginnya.
"Kalian lanjutin drama komedi kalian, gue ke kamar kecil dulu," Ucap Satya beranjak meninggalkan keduanya masih dengan kekehan kecil.
"Di mana Khenin?" Tanya Elang.
"Ada di dalam, nanti aku ajak kamu menemui dia," Nency kemudian mengajak Elang masuk. Wanita itu sengaja mengajak Elang duduk di ruang tamu agar tidak melihat tamu undangan yang datang lewat pintu samping menuju ke taman karena ia ingin menjalankan rencana nya terlebih dahulu. "Tunggu di sini sebentar ya aku kekamar mandi dulu. Kebelet," Ucap Nency diam-diam bergegas ke dapur membuat minuman dengan suatu campuran kemudian ia memanggil seorang pelayan. "Kamu kasih minuman ini sama cowok yang ada di ruang tamu, aku mau ke toilet dulu," Ucap Nency pada pelayan itu.
Nency sudah masuk dalam kamar mandi tanpa mengetahui keberadaan Satya yang tidak sengaja mengetahui rencana nya. "Tunggu mas," Cegah Satya yang mempercepat langkahnya mengikuti pelayan itu.
__ADS_1
"Ada apa mas," Tanya pelayan itu.
"Kata Nency minumannya ketuker," Satya mengambil minuman yang berada pada nampan dan menggantikannya dengan minuman yang ia bawa. "Nah ini baru bener mas," Satya menyeringai. "Ya udah, kamu kasih minumannya," Ucap Satya pada pelayan itu. Meskipun Satya bukan laki-laki baik alias play boy tapi ia adalah sahabat baik Elang, dia tidak ingin sahabatnya di jebak apalagi oleh Nency yang pernah menjadi teman kencannya. Ia hargai prinsip sahabatnya itu yang tidak suka berhubungan dengan wanita tanpa ada perasaan dan status.
Nency sudah keluar dari kamar mandi dan bergegas menemui Elang di ruang tamu, sekilas matanya melirik minuman yang sudah habis di meja depan Elang, Nency menyeringai. "Kamu mau cari Khenin kan, ayo aku antar," Tanpa menyahut Elang beranjak mengikuti Nency, ia sebenarnya curiga dan berhati-hati dengan wanita ular itu.
Blaak.....
Nency menutup pintu saat berhasil mengelabui Elang untuk masuk ke dalam kamarnya. "Elang sayang, nyari Kheninnya nanti aja ya setelah aku buat kamu puas dulu," Nency menarik resleting gaunnya turun ke bawah hingga memperlihatkan tubuh atasnya lalu dengan pose menggoda mendekati Elang, perlahan tangannya membuka satu persatu kancing baju Elang yang terdiam menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Aaahh," Desah Nency tapi bukan desah nikmat melainkan kesakitan yang ia rasa saat tangan Elang mencengkeram lehernya hingga ia kesulitan bernafas. "loe pikir gue akan tergoda dengan wanita kayak loe," Elang menyeringai. "Meskipun loe telanjang bulat pun, jangan harap gue akan tergoda," Sinis Elang melepas cengkramannya dengan sedikit dorongan hingga tubuh Nency jatuh ke lantai. Wanita itu terbatuk mengatur nafas yang sempat tercekal dan segera bangun.
kenapa obatnya tidak berhasil? Apa jangan-jangan laki-laki ini tidak normal. Pikir Nency.
"Sial," Umpat Elang membuka pintu kamar itu dengan keras.
Braak.....
Langkah Khenin, Lina dan Dino terhenti ketika mendengar pintu dari sebuah kamar terbuka keras. Khenin membungkam mulutnya ketika dari jauh ia melihat Elang keluar dari kamar itu melangkah cepat sembari membetulkan kancing baju nya menuju pintu depan rumah, sedang di belakang Elang terlihat Nency juga baru keluar sembari membetulkan resleting gaunnya yang terbuka.
"Apa yang terjadi kak?" Tanya Dino, mulai berakting.
"Elang dan kakak sudah jadian, kami berpacaran jadi wajar kan kalau kami tidur bersama," Ucap Nency berpura-pura. "Lagian Elang juga berjanji akan menikahi kakak nanti setelah kami sama-sama lulus kuliah"
Deeg......
Khenin meremas gaunnya, ia merasa sedih mendengar penuturan Nency. Jadi selama ini, kakaknya Dino yang di sukai Elang dan terhadap dirinya yang selalu di lecehkan, hanyalah sekedar di manfaatkan atas kebenciannya pada mama Siren.
Khenin berusaha mati-matian menahan air mata yang hendak keluar hingga ia meminta ijin untuk pergi ke toilet di temani oleh Lina. "Loe nggak apa-apa Nin?" Tanya Lina melihat Khenin tampak sedih.
Gadis itu menggeleng. "Aku nggak apa-apa, tapi kayaknya aku nggak bisa lama-lama di sini Lin, aku nggak nyaman sama pesta ini," Ucap Khenin pada sahabatnya itu.
__ADS_1
" Ya udah kita temui kak Nency di taman sebentar, setelah kita kasih kado nya lalu pamit pulang," Ajak Lina yang di angguki Khenin. Keduanya pun pergi ke taman belakang, tempat pesta di adakan.
Khenin dan Lina mengedarkan pandangan mencari keberadaan Nency yang ternyata sedang asyik berbicang bersama teman-temannya dengan minuman berisi alkohol di tangan. "Kak, selamat ulang tahun ya," Ucap Khenin bersamaan Lina memberikan kado pada Nency.
"Makasih ya kalian udah mau datang," Nency berusaha bersikap baik pada Khenin meskipun dalam hati ia begitu membenci gadis itu yang di sukai Elang.
"Perhatian-perhatian," Sebuah suara dari microfon menghentikan alunan musik Dj. "Gue di sini ingin menyatakan perasaan gue pada seorang gadis cantik yang saat ini berdiri di depan kakak gue," Seketika semua pandangan mata teman-teman Nency menoleh ke arah Khenin berada.
Dino melangkah mendekati di mana Khenin berada dan di hadapan gadis itu ia menekuk sebelah lututnya, satu tangan masih memegang microfon dan satu tangan terangkat dengan setangkai bunga mawar di arahkan pada Khenin. "Nin, aku sayang dan suka sama kamu, maukan kamu jadi kekasihku," Pinta Dino pada Khenin yang masih terpaku kaget dan bingung bagaimana cara menolaknya sedangkan suara tepukan bersamaan kata "Terima....terima...." mulai terdengar serempak dari semua yang berada di pesta itu.
"Din.....aku.....aku," Suara Khenin terbata ingin menolak tapi seketika ia membulatkan mata saat.
Bugh....
Sebuah pukulan melayang di wajah Dino hingga cowok itu jatuh tersungkur.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......