
"Ma..," Elang memegang tangan Nisa yang sedang duduk di ruang tamu. Wanita itu menoleh pada anak tunggalnya, terlihat wajah cantiknya tampak begitu pucat.
"Kamu sudah nenemukan Khenin, Lang?" Pertanyaan itu yang selalu di lontarkan Nisa saat Elang pulang ke rumah. Elang pun menekuk kedua lutut nya dan duduk di depan Nisa.
"Elang pasti akan menemukannya ma," Jawab Elang membuat Nisa kembali tidak bersemangat memalingkan wajah kembali menatap TV yang sebenarnya sedari tadi tidak fokus ia tonton.
"Dia gadis baik Lang," Ucap Nisa tanpa menoleh.
"Tapi mama nya bukan wanita yang baik," Sahut Elang membuat Nisa melebarkan manik mata nya kembali menatap Elang seolah terusik dengan perkataan anaknya itu.
"Kamu salah,"
"Elang memang salah menodai Khenin hanya demi mencegah mama nya menikah dengan papa, tapi semua itu Elang lakukan demi keutuhan keluarga kita," Ucap Elang.
"Kamu salah, kita semua salah, kita semua berdosa pada gadis itu," Suara Nisa sedikit meninggi. "Asal kamu tahu Siren bukan mama kandung Khenin," Imbuh Nisa sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Cairan bening itu lolos begitu saja melewati pipinya.
"Apa maksud mama, Khenin bilang wanita itu adalah mama nya," Ucap Elang seketika kaget dengan ucapan Nisa.
"Kamu salah paham, Khenin bukan anak Siren dan Siren tidak pernah merayu papamu apalagi mempunyai keinginan menikah dengan papamu. Siren sudah seperti adik bagi Papa dan Mama," Ucap Nisa membuat Elang terdiam, seketika rasa bersalah semakin menjalar di hati nya.
Jadi Khenin bukan anak Siren dan wanita itu bukan selingkuhan papa. Elang mengusap wajahnya kasar, jika yang di katakan Nisa memang benar berarti dirinya sudah benar-benar menjadi pendosa.
"Kau tahu Khenin adalah....," Ucap Nisa terhenti menatap Elang yang tampak kacau. Jika saja Elang sudah di nyatakan sembuh dan sudah tidak menjalani pemeriksaan rutin setiap bulan pada psikiater pasti Nisa akan mengatakan semuanya. "Sudahlah, mama tidak mau tahu. Kamu temukan Khenin, mintalah maaf dan bertanggung jawablah atas perbuatanmu," Ucap Nisa berdiri dari duduknya melangkah meninggalkan Elang.
"Pasti Ma, aku akan bertanggung jawab, aku akan bawa Khenin ke rumah ini dan menikahinya," Lirih Elang.
**
"Mama," Peluk Khenin pada Siren yang baru tiba di kediaman Syarif. Wanita itu tampak berbinar di tengah keadaannya yang sedang hamil besar. "Maafkan Khenin Ma,"
"Kenapa minta maaf sayang?" Tanya Siren perlahan melepas pelukan Khenin.
Khenin tampak tertunduk. "Karena Khenin belum bisa jadi anak yang baik dan tidak patuh pada mama,"
"Hei, sudahlah. Mama tidak pernah marah padamu. Biarlah semua yang sudah berlalu, yang terpenting sekarang kamu harus bahagia," Siren mencium kening Khenin.
"Om," Sapa Khenin saat menoleh ada Denis suami Siren yang sejak tadi tersenyum menatap keduanya. Khenin mencium punggung tangan Denis.
"Steve mana Nin?" Tanya Denis.
__ADS_1
"Oh iya mana jagoanku itu," Sahut Siren yang baru teringat, ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Steve.
"Lagi main sama kak Darrel," Jawab Khenin.
"Kalian sudah tiba," Nany dan Syarif mendekati ketiganya.
"Ma, Pa," Siren dan Denis mencium punggung tangan kedua orang tua nya.
"Oma kecil....Oma kecil.....," Teriak Steve turun dari gendongan Darrel membuat semua menoleh pada asal suara.
"Sini sayang," Ucap Siren melebarkan tangan siap memeluk Steve. Steve berlari hendak mendekati Siren tapi balita itu seketika berhenti, menatap Siren intens. Sedangkan Siren mengeryitkan dahi.
"Ada apa sayang?" Tanya Siren.
"Itu perut Oma kecil, kayak badut?" Tunjuk polos balita itu pada perut Siren. Semua tertawa termasuk Denis yang seketika mendapat pukulan pelan di lengannya dari Siren yang terlihat sudah mencebikkan bibirnya. Ia yang biasa tampil seksi dan anggun merasa tidak terima apalagi suaminya juga ikut tertawa.
"Ini semua gara-gara kamu," Protes Siren terlihat ngambek pada suaminya. Denis terlihat sabar menghadapi istrinya itu, ia tahu pada masa kehamilan hormon wanita pasti akan mengalami naik turun hingga mempengaruhi sifat dan sikapnya.
Sedangkan Darrel hanya tersenyum, melihat kakaknya. Siren memang berbeda dengan Diana mama Khenin. Sifat Diana yang kalem berbeda dengan sifat manja Siren. Darrel merasa senang melihat keluarganya saat ini.
Andai kak Diana dan mas Doni masih hidup.
**
Khenin mengangguk pada Darrel yang berdiri di sebelah mobil. Gadis itu kembali menoleh pada keluarga nya yang berdiri menatap diri nya yang akan masuk dalam mobil Darrel.
Wajah Steve yang berada dalam gendongan Syarif masih terus ia pandangi. Mata tajam itu, hidung mancung, bibirnya bak seperti fotokopi dari wajah Elang.
Saat itu Khenin begitu kaget ketika dokter menyatakan dirinya sedang mengandung setelah sebulan yang lalu Elang merenggut kesuciannya. Ia tidak tahu harus bagaimana, ia masih kecil. Untunglah ada keluarga almarhum mama nya yang selalu memberi dukungan pada dirinya hingga ia tetap bersemangat menjalani hidupnya.
"Honey," Panggil Darrel membuyarkan lamunan Khenin.
"Ah iya kak," Jawab Khenin segera masuk ke dalam mobil Darrel.
Mobil Darrel melaju menelusuri jalan menuju bandara.
Setelah melakukan beberapa jam penerbangan akhirnya Khenin dan Darrel pun sampai di bandara kota YY. Khenin baru saja keluar dari bandara dan masuk ke dalam mobil yang menjemputnya bersama Darrel ketika seseorang bermata tajam berlari kecil keluar dari pintu bandara.
"Nin," Teriak Elang, mengedarkan pandangan.
__ADS_1
"Gue seperti melihat bocah itu tadi disini," Elang membuang nafas. "Apa aku cuman berhalusinasi," pikir Elang yang juga baru tiba di bandara kota YY setelah pulang ke kota XX.
Ya Tuhan, aku benarbenar sangat merindukannya. Lirih Elang.
Khenin saat ini sudah sampai di sebuah rumah milik Darrel yang berada tidak jauh dari perusahaan. Rumah itu tampak besar meskipun tak sebesar kediaman Syarif yang berada di perancis. "Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini honey," Darrel menurunkan tas koper Khenin dari mobil.
Khenin tampak menatap Darrel. "Kak, bawa segera Steve untuk tinggal bersamaku ya," Pinta Khenin dengan wajah memelas.
"Tentu Honey, kamu tenang saja," Ucap Darrel mengusap lembut kepala gadis itu.
"Tuan, Nona selamat datang," Sapa bersamaan dua orang pekerja di rumah Darrel, bi Ijah dan kang Ujang nama nya. Mereka adalah ART yang sudah bertahun-tahun menjaga dan merawat rumah Darrel yang jarang di tempati karena Darrel hanya datang untuk singgah ketika ada meeting mendadak di anak cabang perusahaan Syarif yang berada di kota YY ini.
"Iya terima kasih," Ucap Khenin pada kedua ART itu.
"Honey, ini bi Ijah sama kang Ujang, kamu masuk dulu bersama mereka kakak mau angkat telp dulu" Ucap Darrel di angguki oleh Khenin.
"Mari nona," Ucap bi Ijah mempersilahkan Khenin masuk.
"Ada apa?" Tanya Darrel pada seseorang di seberang telp sana. "Kamu awasi terus, jangan sampai dia tahu keberadaan ponakanku Khenin di kota ini," Ucap Darrel segera memutuskan sambungan.
Jangan sampai pria itu menemukan keberadaan Khenin.......
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......