
"Pye kabare mas Elang?" Tanya Ibu panti berlogat jawa pada Elang yang baru masuk sedangkan Khenin tampak sedang bersama dengan anak-anak panti di sebuah ruangan khusus untuk anak-anak bermain.
"Baik bu, ibu Siti sendiri bagaimana kabarnya?" Tanya balik Elang pada ibu panti itu yang bernama bu Siti.
(Khenin : Tadi nama yayasannya Khanza sekarang nama ibu pantinya SITI, bener-bener pengen eksis nih nama author🙄.
Author :Biarin emang loe aja yang pengen terkenal. Author juga dong😂)
"Alhamdulillah sae, Oh ya mas, mbak itu siapa? ayu tenan," Tunjuk bu Siti pada Khenin yang sedang bermain dengan anak-anak panti. "Adik mas Elang?" Tanya bu Siti lagi dengan tersenyum, wanita itu mengira Khenin adalah adik Elang karena Khenin saat ini mengenakan seragam sekolah.
"Bukan bu," Sahut Elang. "Oh ya bu, ini ada rizky buat tambahan kebutuhan adik-adik di panti," Ucap Elang segera mengalihkan topik pembicaraan mereka, pria tampan itu mengelurkan amplop berwarna coklat dari saku jaketnya dan memberikan pada ibu panti itu.
Ibu panti itu pun menerima amplop pemberian Elang, "Saya terima ya nak Elang dan terima kasih setiap bulan nak Elang sudah menjadi donatur tetap buat yayasan panti asuhan ini, semoga barokah," Bu Siti terlihat terharu dan begitu kagum dengan Elang karena jarang di masa sekarang ada anak muda yang masih mau mengingat dan menyisihkan rizky nya untuk anak-anak panti nya.
"Sama-sama bu," Jawab Elang.
**
"Kakak cantik, lihat deh mainanku bagus kan," Ucap Bagas menunjukkan mainan mobil-mobilan yang berada di tangannya pada Khenin.
"Iya bagus sayang,"
"Nanti kalau aku sudah besar, aku pengen punya mobil biar bisa ajak kakak cantik naik mobil," Celoteh bagas membuat Khenin tersenyum.
"Emang kalau naik mobil, Bagas mau ajak kakak kemana?" Tanya Khenin, saat ini Khenin sedang duduk bersama Bagas, anak laki-laki itu begitu menyukai Khenin hingga terus bersama dengan Khenin sedangkan anak-anak panti lainnya sedang asyik bermain dengan mainan baru mereka pemberian dari Elang.
"Mmm.....Bagas ingin ajak kakak cantik cari Bapak Ibu bagas," Khenin tersentak dengan jawaban Bagas.
Khenin terdiam menatap Bagas, ucapan anak itu membuat Khenin sadar ternyata dirinya masih lebih beruntung dari semua anak-anak yang berada di panti karena meskipun dirinya yatim piatu tapi masih tahu tentang kedua orang tuanya walaupun keduanya sudah meninggal. Sedangkan semua adik-adik di panti asuhan ini, jangankan keberadaan orang tua mereka, siapa orang tua mereka saja mereka tidak tahu.
"Kenapa Bagas ingin mencari mereka," Tanya Khenin tangannya terangkat memegang pipi chubby anak laki-laki itu.
"Bagas ingin bilang sama mereka kalau Bagas tidak akan nakal lagi, Bagas juga akan jadi anak yang baik supaya mereka tidak meninggalkan Bagas lagi?" Jawab polos Bagas, Khenin tersenyum menatap Bagas meskipun dalam hati ia menahan tangis mendengar ucapan anak itu.
__ADS_1
"Sayang, siapa bilang Bagas nakal?" Ucap Khenin. "Bagas tahu tidak, Bagas dan semua teman-teman yang berada di sini itu tidak nakal tapi anak-anak yang istimewa kesayangan tuhan,"
"Istimewa kenapa kak?" Tanya Bagas.
"Ya istimewa karena tuhan percaya sama kalian semua kalau kalian anak-anak yang baik dan kuat makanya kalian berada di sini," Jawab Khenin.
"Benar kak, aku anak baik tapi kenapa bapak dan ibu meninggalkan Bagas di sini?" Tanya polos bocah itu.
"Kakak tidak tahu tapi Bapak dan Ibu Bagas pasti punya alasan sendiri jadi bukan karena Bagas anak nakal," Khenin tak bisa menjawab lebih jauh lagi karena takut cairan bening yang ia tahan sedari tadi keluar dari pelupuk matanya. "Oh ya Bagas, kakak juga punya mainan boneka bagus loh," Khenin mengambil tote bag yang sedari tadi di bawanya. "Coba tebak ini boneka apa?" Tanya Khenin tersenyum setelah mengeluarkan boneka dari tote bag dan menunjukkan pada Bagas.
"Itu burung kak," Tebak Bagas.
"Burung apa coba?" Tanya Khenin lagi membuat anak itu tampak mengangkat tangannya dan menaruh jari telunjuk pada dagunya seperti sedang berpikir kemudian beberapa saat ia menggelengkan kepala tanda menyerah tidak tahu.
"Nyerah ya," Ujar Khenin tertawa kecil. "Ini tuh burung yang namanya sama seperti kakak baik, burung Elang," Ucap Khenin.
"Ah iya kak, burung Elang," sahut Bagas seolah-olah tahu.
Khenin kemudian menunjukkan posisi mata bonekanya pada Bagas. "Tuh kamu lihat mata tajamnya, seramnya sama kayak mata kakak baik," Ucap Khenin sembari tertawa kecil diikuti Bagas. "Ssst," Khenin menaruh jari telunjuknya dibibir mengisyaratkan agar Bagas mengecilkan tawa nya supaya tidak ketahuan Elang padahal tanpa sepengetahuan mereka Elang sudah sedari tadi berdiri di dekat pintu memperhatikan percakapan keduanya. Elang menatap haru keduanya hingga sekilas ingatan tentang Dira kembali terputar di kepala nya, yang pastinya juga menjadi anak yatim piatu karena kecelakaan itu dan entah gadis itu berada di mana saat ini apakah sama seperti adik-adik ini, di besarkan di panti asuhan atau bersama keluarganya.
"Udah puas ngeledekinnya?" Tanya Elang. Kini wajah dingin Elang seperti biasanya tak tampak, hanya kedua sudut bibir yang terangkat membuat Khenin heran. Laki-laki itu sungguh berbeda sikapnya jika di depan anak-anak.
"Kakak baik kita hanya bercanda, iya kan kakak cantik," Ucap Bagas yang tubuhnya saat ini di tarik Elang untuk berada di gedongannya.
"Ah iya kak....he...he.." Sahut Khenin tersenyum sebenarnya ia merasa takut tapi melihat ekspresi Elang, rasa takut itu sedikit memudar.
"Nduk, le....ayo sekarang waktunya kita sembahyang dhuhur dulu nanti setelah itu kita dahar bareng," Ucap bu Siti tiba-tiba baru masuk ke dalam ruangan itu membuat semua menoleh pada arah ibu panti itu.
"Baik bu," Jawab bersamaan anak-anak panti dengan segera menghentikan kegiatan bermain mereka. Mereka sudah terbiasa dan mengerti logat ibu panti itu yang memadu padankan boso jowo sama bahasa indonesia raya....he...he.....
"Mas Elang, mbak ayu monggo di makan, makanan seada nya," Ucap bu Siti mempersilahkan Elang dan Khenin yang kedua nya sudah duduk di ruang makan bersama anak-anak panti setelah shalat dhuhur berjamaah.
"Makasih bu," Ucap Khenin saat ini posisi duduknya ada di tengah-tengan antara Elang dan Bagas. Khenin mulai menatap piring berisi makanan dengan menu sayur sop dan perkedel kentang ada juga sambal kecap.
__ADS_1
Mata gadis itu tampak berbinar melihat menu makanan itu, maklum ia lebih suka dengan makanan sederhana di banding dengan makanan mewah yang biasa di hidangkan di rumah Elang. Tangan Khenin terangkat hendak memasukkan suapan pertama tapi terhenti saat sebuah tangan memegang sendok meletakan banyak wortel di piringnya. "Hah..." Khenin menoleh ternyata tangan milik Elang. Laki-laki tampan itu ternyata tidak suka makan sayur wortel.
"Makanlah biar mata loe juga tajam seperti mata boneka loe itu," Seringai Elang membuat kekehan kecil terpaksa tercetak di bibir Khenin menutupi rasa bersalahnya.
"Maaf kak," Lirih Khenin menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...........
Bagas : Kakak Authong punya boneka juga?🤔
Author : Iya dong, masak kamu sama kakak cantik doang yg punya, Author imuthðŸ¤juga punya lah...
Bagas : Boneka apa thong....🤔
Author : Boneka author itu bagus terkenal pula, udah ikut syuting banyak film juga.....
Bagas : Coba lihat thong....
Author : Nih bagus kan....
Bagas : Iiiiih jelek kayak authong itu boneka nya.....Takut...😬😬
__ADS_1
Author : Dasar bocah, boneka bagus gini di bilang jelek🙄. Ini itu boneka jalangkung yang terkenal tahu.....😤