
"Bodoh.....aku sudah membayar mahal kalian tapi kenapa kalian mudah sekali di kalahkan laki-laki itu," Marah Betrand pada anak buahnya. Pria bermata abu-abu itu saat ini sedang mendapatkan perawatan dari dokter pribadi di apartemen nya.
"Maaf tuan, laki-laki itu terlalu kuat," Ucap John menjawab.
"Aku tidak mau tahu, yang aku inginkan adalah Diana, Aah...," Betrand sedikit mengernyit merasakan sakit saat dokter membersihkan luka di wajahnya dengan kapas alkohol. "Apa kau tidak bisa pelan-pelan dokter," Teriak Betrand pada dokter pribadinya.
"Baik tuan," Jawab dokter melanjutkan mengobati luka Betrand.
Tok.....
Tok......
"Maaf tuan," Seorang anak buah Betrand masuk setelah mengetuk pintu kamar.
"Ada apa?" Tanya Betrand melihat wajah anak buahnya tegang.
"Tuan, di luar ada tuan Darrel, " Jawab anak buahnya.
"Ha...ha..., Kebetulan sekali calon adik iparku itu datang, " Betrand berdiri dari duduknya membuat pergerakan dokter yang mengobati luka-luka nya terhenti seketika. Laki-laki bermata abu-abu itu melangkah keluar dari kamar di ikuti anak buahnya.
"Darrel, adik iparku. Apa kabar?" Ucap Betrand tanpa rasa bersalah tersenyum pada Darrel yang sudah berdiri di ruang tamu.
Darrel menyeringai melihat kondisi Betrand di hadapannya saat ini yang terlihat penuh dengan luka lebam akibat di hajar oleh Elang.
"Tuan Betrand, sebaliknya bagaimana kabar anda?" Tanya balik Darrel masih dengan seringai menatap Betrand.
"Tentu saja baik tuan Darrel," Jawab Betrand dengan ikut memyeringai.
"Baiklah jika anda merasa sudah baik," Ucap Darrel dan....
Bugh.....
Kepalan tangan dari Darrel yang sedari tadi sudah ia tahan akhirnya melayang juga di wajah Betrand membuat pria bermata abu-abu itu jatuh tersungkur.
"Sial," Umpat Betrand yang saat ini terduduk di lantai.
"Bukankah sudah aku peringatkan, jangan pernah mengganggu keponakanku lagi," Marah Darrel emosi. "Dia bukan kak Diana, sadarlah...kakakku Diana sudah tiada!!" Teriak Darrel.
"Cukup, dia adalah Diana. Diana ku tidak mati, Dianaku masih hidup," Ucap Betrand tak terima.
"Kau sakit tuan Betrand, kau sudah gila harusnya kau pergi ke psikiater," Ucap Darrel kemudian menoleh ke arah pintu. "Silahkan tangkap orang ini," Ucap Darrel pada polisi yang sedari tadi bersiaga di balik pintu depan apartement Betrand.
"Anda kami tahan tuan karena kasus percobaan penculikan," Ucap polisi "Silahkan ikut kami,"
"Sial," Lagi-lagi umpatan keluar dari mulut Betrand saat dua orang polisi memasangkan borgol di tangannya dan beberapa polisi lainnya juga sudah menahan John dan anak-anak buah Betrand lainnya. Betrand benar-benar tidak menyangka jika Darrel melaporkan dirinya ke polisi. "Aku tidak akan menyerah....," Teriak Betrand saat dirinya di bawa paksa oleh polisi.
Darrrel sebenarnya merasa kasihan dengan Betrand, biar bagaimanapun laki-laki itu dulunya adalah sahabat baik kakaknya Diana.
*****
"Didi..," Teriak Steve menyambut Darrel yang baru pulang dari kantor polisi.
"Jagoan Didi," Darrel membawa Steve ke dalam gendongannya.
"Steve bukan jagoan Didi," Ucap Steve terlihat murung.
__ADS_1
Darrel mengeryit. "Kenapa bukan jagoan?" Tanya Darrrel melangkah membawa balita bermata tajam itu menuju ruang tamu.
"Karena Steve tidak bisa jagain Mommy dari orang-orang jahat itu," Jawab Steve polos.
"Hei, siapa bilang kamu bukan jagoan. Bukankah kemarin kamu lari dan cari pertolongan jika tidak pasti orang jahat itu membawa mommy," Darrel kini mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu bersama Steve yang berada dalam pangkuannya.
Steve mengangguk. "Benar Didi, untung Steve bertemu dengan Uncle baik," Ucap Steve tersenyum seketika membayangakan Elang.
"Uncle baik?"
"Ya Didi Uncle baik, dia yang menyelamatkan mommy kemarin," Jelas Steve. "Uncle baik hebat Didi, mukulin orang-orang jahat itu, nolongin Mommy dan Steve," Cerita Steve.
"Kamu menyukai Uncle baik?" Tanya Darrel melihat ada rasa sayang yang terpancar dari manik mata tajam Steve untuk Elang ayah kandungnya.
"Tentu, Steve juga sayang sama Uncle baik." Jawab jujur Steve.
Ada rasa sedih yang di rasakan oleh Darrel, harusnya balita di hadapannya ini mengetahui siapa ayah kandungnya.
Darrel menatap Steve yang terdapat bekas kue menempel di pipi, tangannya terangkat mengusap pipi cubby Steve, kemudian mencubit gemas balita itu. "Didi, Steve mau main," Ucap Steve menunjuk mainannya yang berada di ruang tamu itu.
"Ya sudah," Darrel menurunkan Steve dari pangkuannya setelah memberikan ciuman di pipi Cubby balita itu.
"Kak," Lirih Khenin yang melangkah mendekati Darrel duduk di samping paman kecilnya itu. Darrel beralih menatap Khenin.
Darrel tersenyum. "Sekarang kamu sudah bisa tenang karena laki-laki itu sudah masuk dalam penjara," Ucap Darrel mengusap lembut rambut keponakannya itu.
"Hah, kakak melaporkannya ke polisi?" Tanya Khenin. Ia tidak tahu jika Darrel melaporkan Betrand ke polisi.
"Ya dan polisi kota ini akan mengirim mereka pada kepolisian di perancis," Jawab Darrel membuat Khenin tampak menunduk, kalau di pikir-pikir sebenarnya Betrand bukanlah orang jahat hanya saja laki-laki bermata abu-abu itu begitu terobsesi pada mendiang Diana sampai seperti seorang psikopat.
"Sebenarnya dia orang baik kak, hanya saja cintanya terhadap mama begitu besar membuat dirinya seperti itu," Jawab Khenin.
Darrel menatap Khenin. "Lalu bagaimana dengan Elang Pradana?" Tanya Darrel.
"Maksud kakak?" Kaget Khenin.
"Bukankah dia begitu mencintaimu? Apa kamu tidak takut jika dirinya menjadi seperti Betrand jika kamu terus-menerus menolaknya," Tutur Darrel.
Khenin tampak terdiam. "Ada kak Nency di sampingnya, mana mungkin kak Elang seperti itu," Jawab lirih Khenin.
"Sudahlah," Darrel menghela nafas. "Apapun keputusanmu, kakak hanya ingin yang terbaik untukmu," Darrel menarik pundak Khenin untuk bersandar di pundaknya.
Aku juga ingin bersama kak Elang, aku sangat mencintainya tapi kami mungkin memang tidak berjodoh. Bathin Khenin.
(Author : πKata siapa, βingat dalam dunia pernovelan jodoh itu di tangan Author.ππ
Khenin : Diaam...!!π€
π€ π¬
π€π¬
π€π¬
π€π¬
__ADS_1
π€π¬
Khenin : Kenapa nggak di lanjutin ceritanya?
Author : Tadi katanya suruh diam π
Khenin : Bener-bener nih orang ya!!π€π€
Author : Lah memang beneran orang, emang loe pikir gue apa?
Khenin : Mak author π’,.... nih πanaknya di kondisikan bikin orang naik darah π‘.
Author : Lah pake bawaΒ² emak nya author segala...... Kabur.... πββ)
*****
Tok....
Tok.....
Satya masih terus mengetuk pintu kamar Elang, ia khawatir dengan keadaan sahabatnya itu karena sudah semenjak menolong Khenin kemarin Elang masih menyendiri di kamar tidak keluar sama sekali bahkan tidak pergi ke kantor.
"Lang, buka pintu nya," Satya sudah tidak sabar lagi. Ia memundurkan tubuhnya ke belakang hendak mendobrak pintu kamar Elang itu namun.....
Cekleek.....
Pintu kamar Elang terbuka......
"Lang, loe nggak apa-apa?" Tanya Satya heran melihat sahabatnya itu tampak sudah rapi dan segar.
"Tentu saja gue baik dan harus baik-baik saja agar bisa menjaga Khenin dan Steve anakku nantinya," Ucap Elang melangkah keluar kamar di ikuti Satya.
"Maksud loe?" Satya tampak di buat bingung oleh sahabatnya itu, kemarin laki-laki bermata tajam itu begitu terhanyut dengan kesedihan dan rasa penyesalan namun kini ia tampak bersemangat.
"Gue tahu gue memang bersalah selama ini sudah menghancurkan hidup Khenin tapi sekarang gue nggak mau mundur lagi, gue nggak mau melepas wanita yang gue cintai dan anak gue," Ucap Elang.
"Lalu bagaimana dengan Darrel Durand dan perasaan Khenin?"
"Selama belum ada ikatan pernikahan di antara mereka tak ada salahnya gue berusaha dapetin cinta Khenin dan anak gue," Semangat Elang.........
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1