Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 56


__ADS_3

Malam hari, mobil Khenin sudah tampak melaju menuju ke sebuah pasar malam yang berada di kota YY. Steve tampak kagum dan berbinar. Dari dalam mobil ia sudah bisa melihat banyaknya lampu warna warni yang bersinar menghiasi berbagai wahanna pemainan di pasar malam itu.


"Waaah...," senyum Steve tampak melebar, ia tak pernah datang ke tempat seperti ini. Khenin tersenyum melihat ekpresi Steve yang sama seperti dirinya waktu kecil dulu ketika orang tuanya mengajaknya ke pasar malam.


Steve membuka pintu mobil saat supir sudah memarkirkan mobil mereka di parkiran. "Mommy ayo cepat," Ucap Steve sudah tak sabar menarik tangan Khenin.


"Iya sayang sebentar," Ucap Khenin. Gadis itu,.....ah author lupa lagi mama muda itu seperti biasa selalu tampak cantik tapi malam ini bukan hanya cantik, saat berjalan mengikuti tarikan tangan Steve, Khenin bukan seperti mama bagi yang melihat. Keduanya tampak seperti adik kakak hingga banyak mata kaum adam mencuri-curi pandang menatap wajah cantik berseri Khenin.


Dari sekian banyak mata yang memandang, ada sepasang mata tajam yang tak pernah luput menatap ibu dan anak itu sedari keduanya keluar dari rumah.


Khenin berlari kecil masih mengikuti tarikan tangan Steve menuju pintu masuk pasar malam.


"Sebentar sayang, aku bayar dulu tiket masuknya," Ucap Khenin hendak.mengeluarkan dompet dari dalam tasnya untuk membayar tiket masuk.


Ya Allah kenapa bisa tidak ada dompetku, aku yakin tadi sudah memasukkan ke dalam tas..... Bathin Khenin terlihat bingung karena di dalam tas yang ia bawa ternyata kosong tidak ada dompet yang ia yakin sudah ia masukkan ke dalam tas.


"Ah gimana ini....," Gumam Khenin Tidak mungkin kan dirinya kembali ke rumah dan mengecewakan Steve.


"Nona, jadi masuk apa tidak?" Ucap penjaga tiket yang sedari tadi memperhatikan Khenin.


Khenin tampak menatap Steve yang tersenyum begitu antusias untuk memasuki pasar malam itu.


"Biar saya yang bayar," Sebuah suara yang tidak asing bagi Khenin tiba-tiba terdengar. "Untuk kami bertiga," Elang memberikan lembaran uang pada penjaga tiket. Elang menatap Steve dan mengedipkan sebelah mata. Keduanya memang berkeja sama.


Kak Elang.... Kaget Khenin menatap pria tampan itu.


Elang tersenyum menatap Khenin yang belum mengalihkan padangan dari wajah tampannya.


"Kenapa kakak ada di sini? " Tanya Khenin.


"Uncle baik," Teriak Steve menghampiri Elang. Keduanya sudah sepakat bersandiwara seolah-olah baru bertemu. Atas arahan Elang, Steve diam-diam mengambil dompet Khenin yang berada di dalam tas sebelum berangkat tadi.


"Tentu saja untuk kalian," Ucap Elang seketika menggandeng tangan Khenin, Khenin yang masih belum sadar pun mengikuti tarikan tangan Elang masuk ke dalam pasar malam itu bersama Steve yang juga di gandeng Elang.


"Kak," Khenin menahan dan melepaskan gandengan tangan Elang.


"Kenapa?" Tanya Elang menghentikan langkah kakinya.


Khenin terdiam sorot matanya menatap Elang, ia ingin mengatakan agar Elang menjauh dari hidupnya dan Steve, ia ingin bisa melupakan laki-laki bermata tajam itu yang ia pikir sudah beristri Nency.

__ADS_1


"Demi Steve," Ucap Elang menatap sayu Khenin.


"Mommy, Uncle baik, ayo!" Ucap Steve melihat Papi dan Mommy nya saat ini terdiam saling memandang.


Keduanya menoleh pada Steve, ada binar kebahagian yang terpancar dari manik mata Steve yang dapat Khenin lihat. Khenin menghela nafas, dirinya tidak boleh egois hingga merusak kebahagiaan anaknya.


"Baiklah kak, hanya untuk malam ini saja....." Ucap Khenin.


Khenin mengembangkan senyum pada Steve. "Ya sudah ayo sayang," Ucap Khenin meraih tangan Steve. Keduanya melangkah di ikuti Elang.


Steve begitu senang melihat keramaian di pasar malam itu. "Mommy.... Uncle, Steve ingin main itu," Tunjuk Steve pada sebuah Stand permainan Sniper. Steve menarik tangan Khenin dan juga Elang untuk mendekati stand permainan sniper itu.


Elang membayar pada pemilik stand. "Nah Steve sekarang kamu coba," Ucap Elang memberikan senapan pada Steve. Steve tampak senang menerima senapan itu dan segera mencoba nya.


"Uncle, Steve nggak bisa," Ucap Steve mencebikkan bibir mencoba membidik sasaran namun selalu gagal.


Elang tersenyum melihat gemas Steve yang sama persis dengan Khenin yang dulu sering sekali mencebikkan bibir saat bersama dirinya. Elang memegang senapan yang berada di tangan Steve. "Papi ajarin," Bisik Elang pada Steve namun tak terdengar oleh Khenin.


Elang mengarahkan ujung senapan pada sasaran lalu menekan pelatuk senapan itu beberapa kali.


"Ye, Uncle hebat," Teriak Steve saat semua tembakannya bersama Elang tepat mengenai sasaran. Sedangkan Khenin hanya terdiam berdiri di samping keduanya, ada rasa bahagia yang ia rasa andai Elang adalah suaminya.


Khenin tersentak dari lamunannya ketika tangan mungil Steve menariknya. "Sekarang giliran Mommy," Ajak Steve memberikan senapan ke tangan Khenin.


"Ayolah Mom, please," Pinta Steve membuat Khenin menghela nafas dan sekilas melirik Elang yang masih betah dengan senyum manisnya yang hanya di tunjukkan pada dirinya dan Steve sedari tadi.


"Baiklah," Khenin mengambil alih senapan yang berada di tangan Steve.


Beberapa kali tembakan Khenin lakukan hingga ia menghela nafas karena sama sekali tidak mengenai sasaran. "Udah ya Steve mommy nggak....," Belum selesai Khenin berucap tiba-tiba ia kaget saat merasakan tubuh Elang seperti sedang memeluk dirinya dari belakang, tangan Elang memegang tangannya. Khenin menoleh ke belakang, wajahnya begitu dekat dengan wajah Elang hingga Khenin bisa merasakan hembusan halus nafas Elang.


"Bersamaku pasti bisa," Ucap Elang. "Yakin dan fokuslah percayakan padaku seperti hidupmu kedepannya," imbuh Elang lagi. Ingin rasanya Elang mencium wanita itu saat ini juga yang sedang menatapnya.


"Jangan bicara seperti itu kak," Tutur Khenin kembali menghadap ke depan. Dengan lembut tangan Elang memegang tangan Khenin dan menekan pelatuk.


Tepat sasaran......


"Hebat, mari silahkan pilih hadiahnya," Ucap sang penjaga Stand. Padahal dalam hati, cepat pilih hadiahnya dan silahkan segera pergi, bisa habis nanti hadiahku kalau laki-laki bermata tajam itu terus di sini dia jago menembak ternyata, apalagi melihat kemesraan mereka, jiwa jombloku meronta-ronta.


(Penjaga Stand : Dalam hati aku nggak ngomong gitu thor 🙄.)

__ADS_1


"Steve ingin boneka itu, Uncle," Steve menunjuk boneka burung Elang.


"Ya sudah boneka itu," Ucap Elang pada sang penjaga Stand.


"Hore," Senang Steve setelah menerima boneka itu. Elang tersenyum kemudian menatap Khenin, wanita itu terlihat sangat cantik apalagi terpaan angin malam dengan lembut menerbangkan helaian rambut panjang Khenin. Ingin rasanya Elang memeluk wanita itu, ia rindu Khenin, ia ingin memiliki Khenin seutuhnya dan menjadi pendamping hidupnya.


"Untuk hadiah satunya, bisa tolong berikan boneka itu," Elang menunjuk sebuah boneka kelinci mungil dengan sebuah hati di tangan boneka itu bertuliskan ( I love you).


"Ini silahkan tuan," Ucap penjaga Stand memberikan boneka itu.


Elang melangkah mendekati Khenin, Khenin yang secara tak sadar karena pandangannya pada ramainya pasar malam itu pun seketika kaget saat merasakan Elang membisikkan sesuatu di telinganya.


"I love you," Ucap Elang memberikan boneka itu di tangan Khenin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2