Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 11


__ADS_3

Jangan mendekat, aku ingin pulang....hiks....hiks..." Tangis Khenin sama sekali tak membuat ketiga pemuda itu iba.


"Kita senang-senang dulu cantik, nanti baru kami antar pulang," Salah satu pemuda itu sudah menarik tangan Khenin yang hendak berlari.


"Lepaskan, tolong jangan ganggu aku," Tangan pemuda yang lain memegang dagu Khenin.


"Masih daun muda bro, gila benar-benar cantik," Ucap pemuda yang memegang dagu Khenin. Ketiga pemuda itu semakin tergoda melihat Khenin yang memohon untuk di lepaskan. "Ayolah cantik, ikuti kemauan kami maka kami akan melepaskanmu," Pemuda itu hendak mencium Khenin tapi Khenin melengos dengan segera, membuat pemuda itu emosi dan memberikan tamparan pada Khenin hingga sudut bibir gadis itu berdarah.


"Hiks....hiks...." Tangis Khenin, dalam hati ia tak henti berdoa agar ada yang mau menolongnya, siapapun itu ia akan membalasnya kebaikannya nanti.


"Bedebah kalian......!!"


Tanpa mereka sadari sebuah suara umpatan dari seseorang yang turun dari mobil menghampiri mereka. Khenin mengenali suara itu. Jika biasanya ia takut dengan pemilik suara itu tapi kini ia benar-benar berharap itu nyata suara Elang.


"Siapa loe, jangan mengganggu kesenangan kami," Ucap ketiga pemuda itu melepaskan Khenin dan kini beralih menghadapi Elang.


Elang sekilas melirik Khenin, tangannya mengepal, rahangnya mengeras seperti kertas kosong yang tersulut api ia terbakar emosi saat itu juga melihat pipi Khenin yang memerah berbekas tangan di tambah lagi sudut bibir gadis itu berdarah. Tanpa basa basi Elang menghajar ketiga pemuda itu, ketiga pemuda itu masih bisa melawan tapi tak sanggup mengalahkan kemarahan Elang. Akhirnya ketiga pemuda itu meminta ampun pada Elang secepat mungkin ketiganya kabur dengan badan babak belur akibat pukulan-pukulan dari Elang.


Khenin masih menangis dan berlari memeluk Elang. Sungguh ia merasa takut sekali saat ini dan entah kenapa ia bisa melupakan rasa takutnya pada Elang bahkan ia merasa nyaman dengan posisinya saat ini memeluk Elang erat. "Aku takut kak," Elang membalas pelukan Khenin.


"Maaf," Lirih Elang. Ia yang tadinya meninggalkan Khenin di jalanan entah seketika tersadar dan kembali lagi untuk menjemput Khenin.


*****


"Auw, sakit kak," Keluh Khenin saat Elang mengobati lututnya yang berdarah dengan sebuah kapas yang di beri alkohol.


Saat ini keduanya sudah berada di rumah dan tepatnya berada di kamar Khenin. Kenin duduk di pinggiran ranjang dan Elang berjongkok di depan gadis itu mengobati lututnya yang terluka. "Loe bisa diem nggak," Ucap Elang yang berusaha fokus mengobati luka di lutut Khenin. Tak jarang Elang menelan salirvanya menahan pikiran mesum dan nafsunya yang menjalar saat melihat paha mulus Khenin karena ia sedikit menyikap dress Khenin untuk memudahkan mengobati luka gadis itu.

__ADS_1


(Elang : Thor, kenapa di sini pikiran gue ngeres terus sih.....๐Ÿ™„


Auythor : Gampang, nih ada sapu kalau ngeres....๐Ÿ˜


Elang : Kalau sapu enaknya buat mukul author๐Ÿ˜ค


Author : Berani !! ๐Ÿคจ


Elang : Kagaaaak....takut di pecat๐Ÿ˜…)


"Auw," Pekik Khenin lagi saat kapas yang di basahi alkohol itu menyentuh luka di lututnya.


Setelah Elang memberikan plester pada lutut Khenin yang terluka, ia kemudian mensejajarkan tubuhnya, duduk di sebelah Khenin. "Hadap sini," Ucap Elang memegang wajah Khenin mengarahkan pada wajahnya membuat Khenin tiba-tiba kaget dan rasa takut kembali menjalar di pikirannya.


Tangan Elang mengambil handuk yang telah di beri es batu, ia dengan telaten mengompres pipi gadis itu. Khenin sedikit memberanikan diri menatap wajah pria itu yang memang terlihat sangat tampan di lihat dari sudut manapun hanya saja yang paling membuat Khenin takut adalah tatapan tajam mata Elang yang ketika sedang emosi seperti air tsunami yang tak bisa dihentikan.


"Hah.." Kaget Khenin membulatkan mata sempurna seolah tidak percaya dengan perkataan yang terlontar dari mulut Elang. "Nggak Kak, maaf," Ucap Khenin takut.


"Loe nggak mau pacaran sama gue!!" Ucap Elang menghentikan pergerakan tangannya yang mengompres wajah Khenin.


"Bukan begitu kak, Khenin masih sekolah mana mungkin pacaran apalagi kak Elang sudah seperti kakak Khenin," Jawab Khenin terbata takut salah bicara.


"Gue tegasin sekali lagi ya, loe bukan adek gue," Elang menghempas keras handuk yang berisi es batu itu di kasur membuat Khenin berjingat. "Dan gue nggak akan biarin loe sama nyokap loe itu berhasil ngerebut papa gue dari mama," Ancam Elang, kemudian melangkah meninggalkan kamar Khenin menutup pintu dengan keras.


"Hiks.....hiks.....mama, papa," Lirih Khenin meratapi kesedihannya. Ia tidak tahu ada apa sebenarnya dengan mama Siren, apa mungkin benar yang di katakan Elang bahwa adik mamanya itu adalah simpanan om Henry suami dari mama Nisa.


Keesokan harinya, Khenin sudah bersiap untuk ke sekolah. Ia berjalan pelan-pelan menuruni tangga. Ada rasa takut di dalam dirinya jika om Henry dan mama Nisa menanyakan luka di lututnya.

__ADS_1


Saat sampai di anak tangga terakhir Khenin melihat di meja makan sudah ada om Henry, mama Nisa dan Elang juga sudah duduk di sana menikmati sarapan mereka.


Khenin terdiam sejenak berusaha menarik nafas. Baru saja ia mau melangkah suara Nisa tiba-tiba mengaggetkannya. "Sayang kenapa diam saja di situ?" Ucap Nisa yang masih sibuk mengoles roti untuk Henry dan Elang.


"Ah iya ma," Ucap Khenin melangkah berusaha menyeimbangkan langkah kakinya agar tidak terlihat tertatih karena luka di lututnya masih terasa sakit apalagi sedikit bengkak.


"Ayo duduk dan sarapan," Perintah Nisa kemudian secara tidak sengaja matanya menangkap sebuah perban dengan plester terpasang di lutut Khenin. "Sayang apa yang terjadi? Ada apa dengan lututmu?" Tanya Nisa khawatir.


Khenin sedikit tersentak, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sekilas ia melirik pada Elang, pria itu tampak tenang dan santai seolah tidak ikut andil atas apa yang terjadi pada dirinya. "Khenin terjatuh ma," Jawab Khenin singkat.


"Kok bisa sayang?" Nisa tampak mengeryit.


"Iya ma Khenin kurang hati-hati," Jawab Khenin kemudian ia duduk di kursi sebelah Elang.


"Lain kali hati-hati nak," Ucap Henry ikut menimpali, laki-laki itu meskipun tidak banyak bicara dengan Khenin apalagi dengan Elang tapi sebenarnya laki-laki sudah berusia 50 tahunan itu menyayangi Elang dan juga Khenin yang sudah di anggap sebagai anak sendiri.


"Ya sudah sekarang kamu sarapan dulu," Ucap Nisa sembari memberikan roti yang sudah di olesi dengan selai.


"Makasih ma," Ucap Khenin menerima piring berisi roti itu. Khenin mengambil roti itu dan memakannya, sejenak ia melirik Elang yang berada di sampingnya terlihat tenang menikmati sarapannya sampai tiba-tiba ia berjingat kaget saat merasakan tangan Elang sudah berada di pangkuannya, mengusap lembut pahanya.


"Ma, om.....Khenin lupa hari ini ada piket," Refleks Khenin berdiri dari duduknya membuat tangan Elang terhempas. Saking gugup dan takutnya ia tidak melanjutkan roti yang sudah sempat ia gigit. "Khenin berangkat ke sekolah dulu ya," Ucap Khenin segera meraih dan mencium punggung tangan Nisa dan Henry kemudian berjalan hendak melangkah pergi.


"Sarapan dulu kenapa buru-buru," Ucap Nisa. "Biar di antar sama Kak Elang," Ucap Nisa lagi membuat langkah kaki Khenin tertahan.


"Nggak apa-apa ma, Khenin sudah janjian di jemput sama Dino," Ucap Khenin melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Henry, Nisa dan Elang


"Ya udah hati-hati di jalan," Teriak Nisa.

__ADS_1


Tanpa Khenin sadari ucapannya yang terakhir membuat tangan seseorang mengepal terbakar rasa cemburu.


__ADS_2