
Seminggu setelah kejadian itu, Khenin sama sekali tidak pernah bertemu dengan Elang. Rindu tentu saja ia sangat merindukan pria bermata tajam itu namun ia harus bisa untuk melupakan Elang dan memulai hidup barunya.
"Aku harus bisa," Ucapnya dalam hati.
Tok......
Tok......
"Masuk," Ucap Khenin yang saat ini sedang duduk di meja kantornya.
"Maaf nona, ini ada kiriman paket bunga," Ucap Bella setelah membuka pintu di ikuti seorang kurir membawa buket bunga mawar putih di tangannya.
Khenin mengernyit merasa bingung, selama ini ia jarang bahkan tidak pernah menerima kiriman bunga dari siapapun.
" Dari siapa mbak?" Tanya Khenin.
Bella menoleh pada sang kurir,
"Maaf, kami hanya menjalankan permintaan klien kami dan beliau tidak meninggalkan identitas.
Bella kemudian mengambil bunga itu dan di berikan pada Khenin setelah menanda tangani tanda terima pada kurir.
"Mungkin dari pengemar anda nona," Ucap Bella tersenyum.
"Mana ada, aku kan bukan artis mbak," Ucap Khenin membolak-balikkan buket bunga mawar putih dan terlihat ada sebuah kertas bertuliskan.
Bunga kesayangan untuk Diana kesayanganku.....
Seketika Khenin menjatuhkan buket bunga itu di meja, ia merasa takut.
Diana itu artinya mamaku,......pikir Khenin ingatannya kembali pada sosok laki-laki seusia mamanya yang terlihat begitu terobsesi mengira diranya adalah Diana mendiang mamanya.
Om itu..... Bathin Khenin.
"Ada apa Nona?" Tanya Bella melihat wajah Khenin menjadi pucat.
"Tidak mbak, tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak suka bunga itu, tolong bawa keluar dari sini," Pinta Khenin.
"Baik nona," Bella segera membawa keluar buket bunga itu.
Aku tidak boleh panik, bisa jadi itu hanya salah kirim.......pikir Khenin lagi untuk menepis rasa takutnya.
******
"huh.... " Lagi-lagi Elang menghela nafas, ia sama sekali tidak fokus dengan meeting yang ia lakukan. Dalam benak pria bermata tajam itu terbayang-bayang wajah Khenin. Sudah seminggu dirinya tidak bertemu dengan gadis yang di cintainya itu, dirinya juga setiap hari secara rutin menemui dokter karena hampir saja depresinya kambuh lagi semenjak mengetahui Khenin adalah Dira.
"Loe mau kemana?" Bisik Satya ikut berdiri saat Elang berdiri dari duduknya hendak melangkah meningggalkan meeting yang ia adakan bersama karyawannya.
__ADS_1
"Loe gantiin gue," Ucap Elang melanjutkan langkahnya keluar dari ruang meeting itu.
Elang berjalan melewati pintu keluar perusahaannya. "Terima kasih," Ucap Elang masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan security perusahaannya.
Hari masih pagi, mobil Elang melaju menelusuri jalan tak tentu arah hingga ia sampai pada sebuah taman yang terlihat banyak anak-anak kecil yang sedang tertawa, ceria penuh canda tawa.
Elang keluar dari pintu mobilnya yang sudah terpakir di pingiran taman itu. Laki-laki bermata tajam itu, berjalan menghirup udara pagi....ia benar-benar lelah, apalagi pikirannya di penuhi gadis yang ia cintai itu. Ia rindu ingin bertemu dengan Khenin namun rasa sesal atas segala kesalahannya menghentikan keinginannya itu.
Elang perlahan duduk di sebuah bangku yang berada di taman. Ia sedikit tersenyum melihat keceriaan malaikat-malaikat kecil yang pasti belum meliki dosa seperti dirinya.
Sebuah bola menggeliding tepat di kaki Elang, ia menunduk mengambil bola itu dan terlihat sebuah kaki kecil mendekati keberadaannya hingga ia kembali pada posisinya setelah mengambil bola itu.
Pandangan manik mata tajam Elang seketika membola, ia sedikit tersentak kaget melihat seorang balita laki-laki kini berada tepat di hadapannya menatapnya lekat-lekat. Elang seperti melihat sebuah cermin yang memantulkan wajahnya dalam versi anak kecil.
Keduanya masih terdiam saling menatap, "Uncle, itu bolaku," Ucap anak laki-laki itu membuka suara menunjuk bola yang berada di tangan Elang.
Elang masih tak bergeming menatap lekat balita itu yang tak lain adalah Steve anak kandungnya yang tidak pernah ia ketahui kehadirannya di dunia ini.
Deeg......
Deeg.....
Degup jantung Elang semakin kencang, ada suatu ikatan bathin dan sebuah getaran yang mulai ia rasakan menjalar di hatinya menatap balita itu.
Ada apa dengan diriku, aku seperti merasa tidak asing dengan anak ini dan wajahnya, mata nya kenapa sama dengan diriku.
"Ini," Ucap Elang menunjukkan bola di tangan, Steve mengangguk sembari menadahkan tangan di depan Elang. "Boleh tapi sebelumnya kamu kasih tahu dulu siapa nama kamu? " Ucap Elang tersenyum.
"Uncle kata Mommy, aku tidak boleh kasih tahu nama pada orang asing," Ucap Steve dan Elang lagi-lagi menyungingkan senyumnya.
"Y'a sudah, gimana Kalau orang asing ini ikut bermain bola denganmu?" Tawar Elang, entah ia benar-benar merasakan perasaan aneh melihat Steve seolah ada magnet yang tiba-tiba menariknya ingin selalu bersama balita yang baru ia temui itu.
Steve mengankat satu jari nya menepuk-neput dagunya menandakan sedang berpikir, hal itu membuat Elang semakin gemas melihat tingkah Steve hingga tak henti-henti pria bermata tajam itu tersenyum.
"Mmm, apa Uncle bisa bermain bola?" Tanya Steve.
"Tentu," Jawab Elang.
"Tapi pasti Uncle tidak sehebat aku," Sombong Steve membuat Elang tergelak.
Anak ini kenapa begitu mirip dengan diriku. Pikir Elang.
(Author : Untung tidak ada anak yang mirip dengan author, kalau nggak bisa runyam deh bapak author di pukul sapu sama emak author ðŸ¤ðŸ¤)
"Tentu saja lebih hebat uncle dong," Elang tidak mau kalah membuat Steve mengerucutkan bibir mungilnya merasa kesal.
"Ah aku nggak mau main sama uncle kalau gitu," Steve melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Elang sudah tidak tahan lagi, ia pun seketika menggendong Steve membawa ke dalam pangkuannya. "Ya sudah kamu yang lebih hebat," Ucap Elang mengalah.
Steve menatap wajah Elang yang begitu dekat dengan wajah dirinya. "Ada apa?" Tanya Elang melihat Steve menatapnya intens..
"Kata mommy, orang yang punya mata seperti boneka kesayanganku adalah papiku tapi mommy bohong,"
"Kenapa memangnya?" Tanya Elang mengeryit.
"Uncle bukan papi ku tapi eye uncle mirip dengan boneka ku," Ujar Steve.
"Kata orang juga anakku akan mirip denganku nantinya tapi mereka bohong,"
"Kenapa Uncle?" Giliran Steve bertanya.
"Nih buktinya," Elang mencubit gemas pipi Steve. "Kamu mirip sekali dengan Uncle tapi sayangnya kamu bukan anak uncle," Ucap Elang.
"Den cakep kenapa lama mengambil bolanya ayo kita pu....," Ucap bi Ijah terhenti ketika melihat siapa yang memangku tuan muda kecilnya itu. Bi ijah menatap Elang intens yang wajahnya sangat mirip dengan Steve, mungkin kelak seperti ini wajah tuan muda kecilnya saat dewasa. Pikir bi Ijah.
"Ibi, aku lagi bicara sama Uncle baik," Suara Steve menyadarkan bi Ijah.
"Ah iya maaf tuan, kalau den cakep udah mengganggu, " Ujar bi Ijah pada Elang.
Elang mengangguk, kemudian menoleh kembali pada Steve. "Ya sudah cakep, sekarang kamu pulang ikut ibi, lain kali kita jumpa lagi," Ucap Elang mengusap rambut Steve di tambah cubitan lembut di hidung.
"Mari tuan," Pamit Bi Ijah menggandeng tangan Steve yang baru turun dari pangkuan Elang.
"Da....da Uncle baik," Ucap Steve melambaikan tangan berlalu pergi bersama tarikan lembut tangan bi Ijah melangkah meninggal taman dan laki-laki yang baru ia kenal yang tak lain ayah kandungnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
Khenin : Kenapa baru up date thor?
Author : Iya maaf author lagi Gak enak badan, apalagi masih kesel google drive author kemarin sempat kehapus, hilang deh semua episode² yang sudah author siapin.... ðŸ˜
__ADS_1