Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 59


__ADS_3

"Aah," Pekik Khenin memegang sikut tangannya yang berdarah akibat terserempet sepeda motor itu.


"Maafkan saya nona, anda tidak apa-apa, apa perlu ke rumah sakit?" Tanya sang pengendara sepeda motor merasa takut karena melihat Khenin jatuh terduduk di aspal.


Khenin menggeleng. "Tidak apa pak, Maaf saya yang salah karena tadi tidak fokus jalan," Ucap Khenin di bantu bapak pengendara sepeda motor itu bangun. Terlihat lutut Khenin juga terluka hingga wanita muda itu berjalan sedikit tertatih karena merasakan sakit.


"Benar anda tidak apa-apa nona?" Tanya lagi sang pengendara sepeda motor masih khawatir.


"Benar pak tidak apa-apa, ya sudah saya pergi dulu," Pamit Khenin melangkah perlahan memasuki perusahaan Eagle group.


Khenin masih bisa menyampingkan rasa sakit luka nya namun tidak dengan hatinya saat ini yang ingin sekali menemui Elang.


Khenin melangkah menelusuri lobby perusahaan Elang, ia tak tahu di mana letak ruangan Elang berada hingga ia bertanya pada sang resepsionis.


"Maaf permisi, apa saya boleh bertanya di mana letak ruangan tuan Elang?" Tanya Khenin.


Sang resepsionis perusahaan Elang menatap penampilan Khenin intens. Khenin masih tampak cantik meskipun penampilannya sedikit berantakan karena habis terjatuh. "Maaf nona anda sudah buat janji?" Tanya resepsionis itu.


"Belum mbak," Jawab Khenin.


"Tuan Elang sedang meeting, jika anda belum membuat janji mungkin akan sangat sulit untuk menemui beliau," Ucap sang resepsionis seolah memandang remeh Khenin.


"Bilang aku Khenin ingin bertemu," Ucap Khenin namun tak di tanggapi oleh sang resepsionis.


"Maaf nona, tuan Elang jika meeting tidak bisa di ganggu, jika anda ingin menunggu silahkan beliau sedang meeting di lantai atas," Jawab resepsionis itu.


"Baiklah aku akan menunggu," Ucap Khenin menuju pintu lift.


"Siapa dia?" Tanya teman resepsionis yang kedua nya kini menatap Khenin masuk ke dalam lift dengan langkah tertatih.


"Tidak tahu, dengan keadaan seperti itu ingin menemui tuan muda kita, kita yang berpenampilan seksi dan cantik saja sama sekali tak di lirik tuan muda apalagi dia yang berantakan seperti itu," Jawab sang resepsionis pada temannya.


Khenin keluar dari pintu lift yang membawanya ke lantai atas, ia mengedarkan pandangan. "Maaf, apa saya boleh tahu di mana ruang meeting?" Tanya Khenin pada salah satu staff laki-laki yang baru keluar dari toilet.


"Oh di sana nona," Tunjuk Staff itu pada Khenin. "Anda siapa nona dan ingin bertemu dengan siapa," Tanya Staff itu melihat Khenin.


"Aku Khenin ingin bertemu tuan Elang," Jawab Khenin.


"Oh tuan muda, tapi maaf nona, kami dan tuan muda sedang meeting, mungkin akan memakan waktu lama jika anda ingin menemuinya," Ucap Staff itu pada Khenin.


"Tidak apa-apa, saya akan menunggu," Ucap Khenin.


"Ya sudah, silahkan anda menunggu di sana." Ucap Staff itu mengantar Khenin ke sebuah ruang tunggu yang menghadap ke ruang meeting.


"Terima kasih pak," Khenin mengikuti Staff itu.


"Maaf nona saya tinggal dulu," Pamit Staff itu pada Khenin setelah mengantarkan Khenin dan Khenin pun mengangguk. Staff itu melangkah masuk ke dalam ruang meeting.


Khenin duduk di sofa panjang yang berada di ruangan itu, ia mengedarkan pandangan menatap sekitar yang tampak sepi.


Sudah beberapa jam berlalu, hari juga sudah tampak sore namun meeting Elang belum juga ada tanda-tanda selesai. Khenin masih bisa menahan rasa sakit pada lutut dan lengannya demi untuk bertemu Elang.


Karena menunggu terlalu lama, rasa lelah akhirnya membuat Khenin tidak bisa menahan kantuk yang menjalar hingga tanpa terasa mama muda itu tertidur lelap bersandar di sofa itu.


"Ada yang di tanyakan?" Tanya Elang pada semua karyawannya.


"Tidak tuan," Jawab semua karyawannya.

__ADS_1


"Baiklah kita sudahi meeting kita kali ini," Ucap Elang. Elang melangkah hendak membuka pintu ruangan meeting. "Maaf tuan," Ucap seorang Staff yang tadi bertemu dengan Khenin.


"Ada apa?" Tanya Elang menatap Staff itu.


"Tadi ada seorang nona mencari anda,"


"Siapa?" Tanya Elang.


"Namanya nona Khenin tuan," Jawab Staaf itu.


Elang seketika kaget, apa dirinya tidak salah dengar. "Coba ulangi siapa?"


"Nona Khenin tuan,"


"Apa, dimana dia sekarang?" Suara Elang meninggi.


"Maaf tuan, saya memintanya untuk menunggu di ruang tunggu.


"Bodoh," Ucap Elang membuat semua karyawan yang belum keluar dari ruang meeting bingung saling melempar pandangan.


Elang segera melangkah membuka pintu ruang meeting itu dengan cepat, Langkah Elang terhenti sejenak menatap wanita yang di cintainya tampak tertidur pulas di sofa ruang tunggu itu.


"Tuan maaf atas....." Ucap Staff itu terhenti saat Elang mengangkat sebelah tangannya.


"Diamlah, jangan berisik. Kheninku sedang tidur," Ucap Elang.


Tuan muda itu tampak tersenyum menatap Khenin, membuat semua karyawan yang baru keluar dari ruang meeting heran baru pertama kali ini mereka melihat tuan mudanya tersenyum. Gadis itu benar-benar spesial ternyata.


"Kalian semua kembali bekerja," Ucap Elang pada semua karyawan tanpa menatap mereka.


"Baik tuan," Ucap semua karyawan Elang meninggalkan keberadaan Elang yang masih menatap Khenin. Elang perlahan melanjutkan langkahnya mendekati Khenin berada.


Perlahan tangan Elang terangkat menepikan ke telinga anak rambut Khenin yang sedikit menutupi wajah cantiknya.


"Khenindira ku sayang, apa aku bermimpi kamu berada di sini," Lirih Elang kemudian pandangannya tak sengaja menangkap ada darah di sikut lengan Khenin dan juga luka di lutut wanita muda itu.


"Nin kamu terluka," Kaget Elang seketika membuat tidur Khenin sedikit terusik namun tidak membuat mama muda itu terbangun, ia kembali terlelap dalam tidurnya.


Elang segera menggendong tubuh Khenin, gadis itu masih betah dalam tidurnya apalagi saat ini berada dalam gendongan Elang, ia merasa nyaman seperti bermimpi di peluk Elang.


Elang segera melangkah memasuki lift menuju ruang kantornya. Sampai di dalam ruang kantor, Elang menidurkan tubuh Khenin di sofa ruang kerjanya. "Tolong ambilkan kotak obat," Ucap Elang di telp pada salah satu karyawannya.


Elang kembali menatap Khenin. "Ada apa denganmu Nin?" Lirih Elang.


Tok.....


Tok.....


"Masuk," Ucap Elang.


"Ini tuan kota obat yang anda minta," Ucap karyawan Elang memberikan kotak P3K pada tuannya itu.


"Terima kasih, pergilah," Ucap Elang menerima kotak P3K itu.


"Baik tuan," Ucap karyawan itu beranjak keluar dari ruangan Elang.


Elang membuka kotak P3K, belum sempat ia mengambil obat sebuah dering ponsel terdengar, Elang mencari keberadaan ponsel itu yang ternyata di saku baju Khenin. Secara perlahan Elang mengambil ponsel Khenin agar si pemilik tidak terbangun.

__ADS_1


"Dia lagi," Geram Elang melihat layar ponsel khenin tertera nama Kak Darrel.


Elang menggeser tombol hijau, dan sedikit menjauh dari keberadaan Khenin.


"Hallo honey, gimana keadaan kamu dan jagoanku Steve?" Tanya Darrel dari seberang telp tanpa tahu siapa yang mengankat telp.


"Kheninku baik-baik saja ke depannya jangan menghubungi Kheninku dan anakku lagi,"


"Hei siapa yang mengijinkanmu untuk mendekati honney ku!!!" Teriak Darrel yang mengenali suara Elang.


"Aku tidak perlu meminta ijin padamu untuk bersama Khenin dan anakku Steve," Ucap Elang kemudian menekan tombol merah pada layar ponsel mengakhiri panggilan Darrel.


"Minta ijin, memang dia siapa,......" Gerutu Elang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung......


(Author : Belum tahu dia, Darrel siapa🤭


Elang : Siapa memang?🤔


Author : Pak De ku....😂


Pletaaak.....


Author : 😭 wadooh main jitak mulu, sakit tahu


Darrel : Kalau aku pak de mu thor, sudah tak pites kamu thor dari dulu....🙄


Author : Pites² emang author kutu apa😤

__ADS_1


Darrel : Iya emang kutu.....KUTU KUPREET....🤣🤣)


__ADS_2