Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 26


__ADS_3

Semalaman Khenin hanya bisa menangis meratapi nasib nya, hilang sudah kesuciannya di renggut paksa oleh Elang. Gadis itu merasa hidupnya sudah hancur, ia memang mencintai Elang tapi bukan seperti ini yang ia mau. "Hiks....hiks...." Tangis Khenin yang saat ini berada satu selimut bersama Elang dengan keadaan tubuh sama-sama polos.


Khenin bangun dari tidurnya, perlahan menyingkirkan tangan Elang yang masih memeluk tubuhnya. Gadis itu sekilas menatap wajah Elang yang tertidur pulas karena semalam laki-laki itu tak memberikan ampun sedikitpun pada tubuhnya hingga subuh menjelang.


"JANGAN NANGIS, AKU AKAN BERTANGGUNG JAWAB MENIKAHIMU," Ucap Elang mencium Kening Khenin setelah mengambil kesuciannya.


Mana mungkin kamu bisa menikahi ku kak jika kau juga berjanji akan menikahi kak Nency. Banthin Khenin yang percaya pada omong kosong Nency saat di pesta itu.


Khenin beranjak dari ranjang, dengan menahan rasa sakit ia mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi, dengan isak tangis ia melangkah keluar kamar setelah memakai kembali bajunya. Rumah masih sepi karena masih pukul setengah 6 pagi.


Khenin berlari keluar dari pagar melewati pos depan rumah, security tampak bingung tapi tak berani bertanya pada nona mudanya itu. Gadis itu hanya bisa terisak di tengah kabut yang menyelimuti udara pagi hingga ia tak sadar saat ada sebuah mobil mengarah padanya.


Ciiiiiit......


"Aaah....," Khenin menyilangkan kedua tangan, beruntung supir mobil itu menginjak rem tepat waktu hingga mobil itu tak sampai meyentuh tubuh Khenin.


"Nak, kamu nggak apa-apa?" Tanya seseorang pria paruh baya turun dari mobil, samar-samar terlihat oleh Khenin sebelum akhirnya pingsan. Pria itu mengguncangkan tubuh Khenin tapi Khenin tak bergeming, perlahan pria paruh baya itu menyibak helaian rambut Khenin ke belakang telinga hingga terlihat wajah cantik Khenin.


"Diana sayang," Lirih laki-laki itu segera menggendong tubuh Khenin masuk ke dalam mobil. "Kita kerumah sakit," Ucapnya pada sang supir.


Di sisi lain Henry dan Nisa yang semalam pulang larut, sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi hingga saat pagi ini Nisa begitu kaget dan berteriak saat membuka pintu kamar Khenin mendapati Elang masih tertidur di sana dalam keadaan tubuh polos tertutup selimut.


Henry segera menghampiri Nisa yang menangis, belum sempat ia bertanya pada istrinya arah matanya tak sengaja menangkap sosok Elang yang bangun dari tidur, duduk di ranjang kasur Khenin, Henry mendekat.


PLAAAAK.....


Sebuah tamparan keras di layangkan Henry pada Elang yang masih terduduk di ranjang kamar Khenin dengan tubuh masih polos tertutup selimut.


Sprei kasur yang bernoda darah dan Elang yang berada di kamar Khenin dengan kondisi seperti itu membuat Henry naik pitam.


"Apa yang kau lakukan pada Khenin, Lang.....!!" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Henry sedangkan Elang masih terdiam mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah akibat tamparan Henry. "Jawaab aku Elang.....!!!!!" Bentak Henry.


"Ha....ha.....," Tawa Elang menoleh pada Henry dengan tatapan sinis, "Kenapa pa, apa papa merasa sakit melihat anak dari wanita simpanan papa itu hancur dan papa gagal menikah dengan wanita itu,"


"Apa maksudmu Lang?" Tanya Henry bingung. "wanita simpanan, siapa maksudmu?"

__ADS_1


"Huh.....masih berpura-pura. Aku tahu Pa Khenin gadis malang itu adalah anak dari wanita simpanan papa yang bernama Siren," Elang menyeringai. "Aku sudah menodainya dan papa tidak mungkin bisa menikahi ibunya karena dengan begitu papa dan wanita bernama Siren itu akan menjadi besan,"


"Kau......," Teriak Henry tangannya kembali terangkat hendak memukul Elang lagi tapi sebuah tangan beserta isakan tangis dari Nisa menghalanginya.


"Pa, saat ini yang terpenting kita cari keberadaan Khenin pa," Ucap Nisa kemudian menoleh pada Elang. "Elang semua yang kamu tuduhkan pada papamu itu salah, kamu salah paham nak,"


"Ma....," Elang menatap Nisa. "Mama jangan mau di bohongin papa ma," Elang memegang tangan Nisa. "Aku tidak mau mama menderita, karena papa berselingkuh dan mau menikahi wanita itu," Ucap Elang yang begitu menyanyangi Nisa.


"Dasar kau anak bodoh, andai saja kamu tahu bahwa....," Belum selesai Henry melanjutkan ucapannya suara Nisa sudah menghentikannya.


"Pa....," Nisa menggelengkan kepala. Henry menatap Nisa kemudian ia menghela nafas. Andai saja kondisi psikis Elang baik-baik saja.


"Kau tahu, bahkan jika papamu ini bersujud di kaki Khenin pun rasanya tidak akan cukup untuk bisa mendapat kata maaf darinya," Ucap Henry kemudian berlalu meninggalkan kamar Khenin.


"Ma...," Ucap Elang menatap Nisa.


Tangan Nisa terangkat. "Cukup Lang......Mama tidak mau tahu kamu cari Khenin dan pertanggung jawabkan perbuatanmu," Nisa pun berlalu meninggalkan Elang dengan tangis dan rasa kecewa pada anaknya, andai ia bisa memberitahukan semuanya.


**


Dokter menatap pria paruh baya itu kemudian menghela nafas. "Tuan, mohon maaf sebelumnya. Anda siapa nya pasien?" Tanya dokter wanita yang selesai memeriksa Khenin.


"Saya keluarganya dok,"


"Maaf tuan kami terpaksa menyampaikan bahwa gadis ini baru mengalami kekerasan atau lebih tepatnya pelecehan seksual," Ucap dokter menjelaskan.


"Apa dok!!" Pria paruh baya itu kaget dan seoalah tidak percaya dengan ucapan dokter barusan. "Tidak, tidak mungkin dok. Gadis ini masih kecil, siapa yang berani menyakitinya," Emosi bercampur kesedihan pria itu rasakan.


"Maaf tuan, kami hanya menyampaikan hasil dari pemeriksaan yang kami lakukan dan sebaiknya kasus ini kita serahkan pada pihak yang berwajib," Saran dokter itu.


"Tidak dokter," Tiba-tiba suara lemah Khenin terdengar, Khenin perlahan ingin bangun dari ranjang rumah sakit tapi di cegah oleh pria paruh baya itu.


"Jangan bangun dulu nak, berbaringlah," Cegahnya mendekati Khenin. Khenin yang masih lemas pun mengikuti perintah laki-laki paruh baya itu.


"Tuan, aku tidak mau melaporkan masalah ini pada polisi. Aku mohon!!" Pinta Khenin pada pria paruh baya itu menangis.

__ADS_1


"Kenapa nak? orang yang sudah menyakitimu harus menerima balasannya," Ujar pria paruh baya itu. "Apa kamu takut dengan orang itu? Jika itu alasanmu maka kamu tenang saja, aku yang akan mengurusnya dan melindungimu,"


"Tidak tuan, aku hanya tidak mau ada yang tahu masalah ini apalagi pihak yang berwajib," Khenin masih terisak menatap pria paruh baya itu dengan tatapan memohon.


Pria paruh baya itu menghela nafas. "Baiklah, tapi dengan satu syarat,"


Wajah pucat Khenin mengeryit, ia tampak bingung. "Maksud anda?"


"Ikutlah denganku dan tinggal bersama keluargaku di Perancis," Ujar pria itu.


Khenin tidak mengenal laki-laki itu, tentu saja ia menolak karena takut. "Tidak tuan, aku....," Kata-kata Khenin terhenti ketika pria paruh baya itu tiba-tiba memeluk erat tubuhnya.


"Aku adalah Papa kandung Diana dan Siren....,"


----__Flash back off__----


"Momy.....momy....." Suara seorang anak berusia 4 tahun membuyarkan lamunan panjang Khenin tentang masa lalunya........


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2