Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 9


__ADS_3

Malam acara pesta perusahaan Pradana group pun tiba. Terlihat Nisa sedang berada di kamar Khenin dengan perias yang ia sewa untuk merias dirinya dan Khenin. Henry dan Elang sudah berangkat terlebih dahulu ke perusahaan. Acara itu begitu meriah, semua pegawai yang bekerja terlihat hadir bersama keluarga masing-masing. Henry dan Elang masih berada di sebuah ruangan menunggu kedatangan Nisa dan Khenin.


Setelah selesai di rias Nisa dan Khenin pun berangkat ke perusahaan Henry. "Ayo sayang," Ucap Nisa setelah mereka sampai, wanita cantik itu mengulurkan tangannya menggandeng tangan Khenin berjalan memasuki perusahaan Henry.


Semua mata terpana melihat kedatangan kedua wanita itu. Nisa meskipun usianya sudah berkepala 4 tapi ia masih terlihat muda dan cantik. Sedangkan Khenin, sudah tidak di ragukan lagi kecantikannya apalagi riasan dan dress yang ia kenakan membuat auranya semakin terpancar. Sungguh kedua wanita itu tampak bersinar di pesta malam hari ini hingga membuat Elang yang berada di ruang tunggu bersama Henry di buat takjub dan terpesona hingga tak berkedip.


Di mata Elang, Khenin malam hari ini terlihat seperti menjelma menjadi wanita yang lebih dewasa, anggun dan cantik hingga pikiran mesumnya kembali menjalar di otaknya. Entahlah hanya pada Khenin ia mempunyai pikiran mesum, sedang pada wanita lain ia sama sekali tidak punya pikiran mesum itu bahkan secantik dan seseksi apapun wanita itu menggoda.


"Sial.." Umpat Elang dalam hati memalingkan wajah seketika ketika menyadari pikiran mesumnya kembali menjalar di otaknya saat melihat keindahan tubuh Khenin yang datang bersama mamanya. Ia yang tadinya hanya ingin menakuti gadis itu tetapi justru membuatnya kualahan sendiri dengan perasaan dan pikiran mesumnya yang entah dari mana datangnya.


Nisa masih menggandeng tangan Khenin mendekati Henry dan Elang berada. "Wah kalian berdua cantik sekali," Puji Henry pada keduanya sedangkan Elang tampak bersikap biasa meskipun degupan jantungnya terasa kencang. Khenin sekilas menatap Elang, ia melihat penampilan Elang hari ini sangat berbeda, ia terlihat tampan dengan setelan jas yang ia kenakan.


Sejak pertama kali bertemu sampai sekarang aku memang sangat menganggumi dan menyukaimu kak Elang tapi aku juga takut jika mengingat perlakuanmu kemarin. Bathin Khenin.


"Papa dan Elang juga tampan, ya kan sayang," Ucap Nisa menoleh pada Khenin.


"Ah iya ma," Jawab Khenin sedikit terbata dan gugup.


"Ya sudah, ayo kita ke ruang acara," Ajak Henry menyodorkan lengannya pada Nisa untuk di gandeng.


"Sebentar pa," Ucap Nisa kemudian menarik tangan Khenin lalu melingkarkan tangan Khenin pada lengan Elang membuat keduanya kaget. "Nah kalau begini kan anak-anak mama terlihat rukun dan kompak. Ya sudah ayo," Ucap Nisa kemudian melangkah mendekati Henry dan melingkarkan tangannya pada lengan suaminya itu.


Elang dan Khenin hanya terdiam menuruti keinginan Nisa. Khenin sebenarnya merasa takut dengan Elang, itu terlihat dari tangannya yang gemetar. Sedangkan Elang bersikap santai dan tenang meskipun ia sedang menahan diri karena jika berada di dekat Khenin lagi-lagi perasaannya campur aduk tidak karuan.


Henry, Nisa, Elang dan Khenin pun memasuki ruang acara. Semua tampak bertepuk tangan menyambut kehadiran mereka. Acara itu pun berlangsung dengan lancar meskipun ada sedikit pertanyaan-pertanyaan yang diam-diam terlontar dari para pegawai yang mempertanyakan siapa gadis yang di gandeng Elang. Tapi Henry dan Nisapun membuat rasa penasaran mereka terjawab ketika Keduanya memperkenalkan Khenin sebagai anak gadis mereka atau lebih tepatnya anak angkat mereka.


Kini Henry dan Nisa tampak sedang berbicang dengan rekan-rekan nya yang hadir begitu juga Elang ikut menyambut rekan-rekan papanya itu hingga tanpa terasa Khenin melepas pegangan tangannya pada Elang secara perlahan.


Khenin yang merasakan lapar pun mendekati meja yang di penuhi dengan aneka makanan, ada juga meja yang di penuhi dengan aneka minuman tapi pilihan Khenin jatuh pada aneka kue yang terlihat sangat menggoda baginya. "Ah ternyata ada kue yang paling fenomenal itu, yang paling terkenal enak dan legit," Gumam Khenin mengambil kue gethuk kemudian menaruhnya ke dalam piring.


(Author : pfffft😁 ndeso, masak dari sekian banyak kue yang loe pilih kue gethuk.


Khenin : Protes mulu author nih, emang kue apa yang author pilih.


Author : Jangan salah kue pilihan author ini kue paling keren


Khenin : apa coba?


Author : Nih....keren kan? Kue yang banyak mata-matanya.


Khenin : Pfftt🤣🤣..onde....onde...seperguruan beneran dah kita)


Khenin terlihat duduk di sebuah kursi sembari menikmati kue yang ia ambil sampai tak mendengar langkah seseorang mendekat. "Boleh gabung nggak Nin," Ucap laki-laki yang suaranya sudah tidak asing bagi Khenin.


Khenin menoleh ke asal suara. "Dino.." Kaget Khenin mendapati Dino di acara itu. "Kamu kok ada di sini?" Tanya Khenin lagi.

__ADS_1


"Aku di ajak sama papaku karena papaku rekan bisnis dari om Henry," Ucap Dino duduk di sebelah Khenin. "Mama dan kakakku juga ikut" Imbuh Dino lagi.


"Oh..."


"Kok cuman oh,"


"Lah terus apa dong?" Tanya Khenin bingung.


"Mau aku kenalin nggak sama camer?" Goda Dino.


"Becanda mulu kamu Din," Khenin melanjutkan makan kuenya.


"Nin, kamu udah nggak marah sama aku," Tanya Dino yang masih merasa bersalah akibat ulah Nety beberapa hari yang lalu.


"Nggak," Jawab singkat Khenin.


"Trus kenapa kamu seperti menghindar dari aku," Tanya Dino membuat Khenin menghentikan makannya.


"Aku cuman nggak mau cari masalah aja Din," Tutur Khenin.


"Aku dan Nety udah nggak ada hubungan apa-apa. Kamu percaya kan?" Ucap Dino serius membuat Khenin terkekeh kecil.


"Kamu kenapa sih Din, kalaupun kamu punya hubungan sama Nety itu kan bukan urusan aku," Jawab Khenin membuat ada rasa kecewa di hati Dino karena ia berharap ada rasa sedikit suka di hati Khenin untuk dirinya. "Udah jangan di pikirin, aku besok-besok nggak menghindar lagi deh," Ucap Khenin lagi.


"Beneran,"


"Oh ya, kamu hari ini beda banget nin, kelihatan makin cantik," Puji Dino menatap penampilan Khenin.


"Emang biasanya aku nggak cantik Din," Sahut Khenin.


"Ya cantiklah, bagi aku kamu tuh selalu cantik apalagi malam ini,"


"Gombal,"


"Beneran nin," Yakin Dino kemudian ia bertanya lagi pada Khenin. "Oh ya nin, aku baru tahu kalau kamu anak dari om Henry dan tante Nisa," Tutur Dino.


Khenin tampak menghela nafas. "Anak angkat lebih tepatnya," Sahut Khenin. Melihat itu Dino jadi tidak enak merasa salah bicara.


"Maaf nin bukan begitu maksudku," Ucap Dino yang segera di tanggapi dengan senyuman oleh Khenin.


"Nggak apa-apa Din, biasa aja," Tutur Khenin.


"Loe ngapain di sini !!" Sebuah suara mendekati keberadaan Khenin.


"Kak Elang," Ucap Khenin Kaget.

__ADS_1


Elang yang baru menyadari Khenin tidak ada di sampingnya pun mengedarkan pandangan mencari keberadaan Khenin hingga ia secara tidak sadar mengepalkan tangan, rahangnya mengeras melihat kedekatan Khenin bersama seorang laki-laki yang usianya lebih muda dari dirinya.


"Maaf kak, kenalin aku Dino teman Khenin," Ucap Dino sopan berdiri menjulurkan tangan memperkenalkan diri pada Elang yang menatapnya intens.


Elang tidak menghiraukan Dino, ia kemudian hendak menarik tangan Khenin tapi sebuah suara dan pelukan di lengan menghentikannya.


"Elang sayang," Ucap manja Nency memeluk lengan Elang.


"Sial," Bathin Elang.


Khenin yang melihat Nency memeluk lengan Elang seperti itu, tiba-tiba muncul perasaan tidak suka di hatinya.


Apa wanita cantik itu kekasih kak Elang.... Pikir Khenin sedih.


Sedangkan Dino mengeryit merasa sedikit malu dengan kelakuan kakaknya yang terlihat agresif pada Elang. "Kak," Ucap Dino membuat Nency menoleh.


"Loe kok di sini Din," Lalu Nency menoleh pada keberadaan Khenin. "Loe kenal sama adiknya Elang," Ucap Nency tiba-tiba.


"Dia bukan adikku," Sahut Elang seketika membuat ketiganya menoleh menatap kaget dengan ucapan Elang.


"Ah maaf Lang sayang, maksudku adik angkatmu," Ralat Nency tertawa.


Elang melepas pelukan tangan Nency. "Gue nggak merasa punya adik angkat," Ucap Elang dingin berlalu meninggalkan mereka membuat hati Khenin merasa sedih mendengarnya. Ia merasa Elang memang benar-benar tidak menyukai keberadaannya di keluarga Pradana.


Berbeda dengan Khenin, dalam pikiran Elang jika memang Khenin benar anak dari wanita bernama Siren yang ia duga sebagai wanita selingkuhan papanya maka ia akan membuat semuanya berubah. Ia yang mulai tertarik pada Khenin, akan membuat Khenin menjadi kekasihnya hingga papanya tidak mungkin bisa lagi selingkuh dengan mama Khenin yang bernama Siren karena hubungan mereka akan berubah menjadi hubungan besan. Itulah rencana Elang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2