
Blaak.....
Khenin sudah masuk ke dalam mobil yang siap di kemudikan oleh Bram.
"Huh," Khenin tampak menghela nafas, sedari tadi mencoba menghubungi ponsel Elang namun tak bisa, pesan pun juga sudah di kirim namun sepertinya ponsel Elang mati.
"Opa kamu banyak cerita ke saya tentang kamu," Bram membuka pembicaraan.
"Lalu?" Tanya Khenin menoleh pada Bram.
"Opa kamu ingin menjodohkan kita, tadinya aku tidak tertarik dan hanya ingin menghargai keinginannya tapi setelah bertemu denganmu entah kenapa aku ingin lebih dekat dan mengenalmu lebih jauh lagi," Jujur Bram pada Khenin sembari fokus menyetir.
Khenin sejenak terdiam, "Maaf, tapi aku nggak bisa," Ucap Khenin.
"Aku akan menunggu," Sahut Bram tanpa mengetahui alasan Khenin, ia mengira hanya waktu yang di perlukan Khenin untuk menerima kehadiran dirinya.
Setelah beberapa menit mobil Khenin yang di kemudikan Bram pun sudah sampai di sekolah Steve. "Tuan tunggu di sini ya, saya mau jemput anak saya," Ucap Khenin.
"Jangan panggil tuan, panggil aku Bram saja," Ucap Bram tersenyum.
Khenin hanya tersenyum menanggapi ucapan Bram dan beranjak keluar dari mobil.
Khenin berlari kecil menghampiri Steve yang bersama bi Ijah baru keluar dari sekolah.
"Mommy," Teriak Steve.
"Anak Mommy," Ucap Khenin pada Steve, Steve mengedarkan pandangan. "Ada apa sayang?" Tanya Khenin melihat Steve seperti sedang mencari sesuatu.
"Papi mana Mom?" Tanya Steve.
"Papi sedang ada meeting sayang, tidak bisa di tunda," Jawab Khenin kemudian menoleh pada bi Ijah. "Bi, biar Steve ikut aku. Nanti bi Ijah pulang sama supir ya," Tutur Khenin pada bi Ijah, ia sebenarnya ingin bi Ijah ikut bersama mereka namun Syrif sudah memerintahkan agar bi Ijah tidak ikut dan segera pulang bersama supir yang sudah menunggu.
"Baik Non," Ucap Bi Ijah.
Khenin melangkah menggandeng Steve mendekati mobilnya yang sudah ada Bram berdiri di sana bersandar pada pintu mobil. Laki-laki itu tampak tersenyum menatap Khenin dan Steve yang mendekati keberadaannya.
"Mom, siapa Uncle itu?" Tunjuk Steve pada Bram.
"Kamu pasti Steve kan? Kenalin aku Uncle Bram," Ucap Bram pada Steve.
Steve tidak menjawab, anak Elang itu hanya terdiam tampak tidak suka dengan kehadiran Bram.
__ADS_1
"Ya sudah kita masuk Steve, kita makan siang dulu," Ucap Khenin membukakan pintu untuk Steve.
Ketiganya pun masuk ke dalam mobil tanpa mengetahui ada pria bermata tajam yang baru datang melihat kebersamaan mereka dengan tatapan yang di penuhi cemburu.
Hari ini Elang sengaja mempercepat meeting demi bisa menjemput Steve dan mengajak anaknya untuk menemui Khenin di perusahaan Khenin namun ternyata ia di suguhkan dengan pemandangan yang membuatnya cemburu.
Mobil Elang masih mengikuti mobil Khenin yang di kemudikan Bram hingga sampai pada sebuah restoran.
Elang memarkirkan mobilnya dan segera mengikuti Khenin yang sudah masuk ke dalam restoran bersama Steve dan Bram.
"Kalian mau makan apa?" Tanya Bram tersenyum pada keduanya saat buku menu restoran di berikan oleh pelayan di meja tempat mereka duduk.
"Steve tidak lapar," Sahut Steve.
"Kenapa Steve? Kamu tidak suka makanan di sini apa perlu Uncle ajak kalian ke restoran lain?" Tanya Bram mencoba membujuk Steve.
"Tidak perlu karena anak dan Kheninku akan makan siang bersamaku," Sahut Elang tiba-tiba mendekati meja mereka.
"Papi," Teriak Steve seketika menghapiri Elang. Elang membawa Steve ke dalam gendongannya.
Bram dan Khenin pun segera berdiri dari duduknya.
"Maaf siapa anda?" Tanya Bram sopan.
"Jadi anda, orang yang sudah merusak masa depan Khenin," Ucap Bram.
"Aku memang sudah menyakiti Khenin tapi kami saling mencintai dan aku harap anda tidak berada di antara hubungan kami," Ucap Elang.
"Baiklah, saya akan menyerah jika tuan Syarif merestui hubungan kalian, tapi jika tidak, saya hanya bisa menuruti keinginan tuan Syarif yang berencana untuk menjodohkan kami karena jujur pertama kali melihat Khenin saya sudah tertarik dengan dia," Jujur Bram membuat Elang merasakan panas dalam hatinya karena di bakar cemburu, ya memang siapapun yang melihat Khenin pasti akan mudah untuk jatuh hati pada wanita muda itu.
"Itu tidak akan terjadi, kami permisi," Ucap Elang menggandeng tangan Khenin melangkah keluar dari restoran.
Elang hanya terdiam setelah mendudukkan Steve ke dalam mobilnya di kursi belakang. Khenin tidak berani berkata ia hanya masuk ke dalam mobil Elang setelah pintu di buka oleh pria bermata tajam itu.
Mobil Elang melaju menyusuri jalan, entahlah pria bermata tajam itu benar-benar harus menahan rasa cemburunya.
Hening tak ada percakapan apalagi tampak Steve sedang tertidur pulas di kursi belakang. Khenin masih terdiam di samping Elang mengemudi.
Beberapa menit mobil Elang akhirnya menepi pada jalan dekat pinggiran pantai, suasana tempat itu tampak sepi hanya terdengar desiran ombak dan semilir angin yang berhembus.
Elang segera melepas seatbelt dan keluar dari mobil. "Sial," Elang memukul kap mobil keras, membuat Khenin yang ikut keluar kaget, beruntung Steve tidak terbangun karenanya.
__ADS_1
"Kak," Lirih Khenin memberanikan diri mendekati Elang.
Elang menoleh pada Khenin. "Kenapa, apa kamu menyesal karena aku menggagalkan acara makan siang kalian?" Ucap Elang yang masih di bakar rasa cemburu.
Khenin menggeleng, tanpa terasa ia menangis, wanita muda itu menangis bukan karena takut pada kemarahan Elang melainkan ia takut jika hubungannya dengan Elang tidak mendapat restu dari Opa dan Oma nya.
Melihat tangis Khenin Elang segera meraih tubuh wanita muda itu ke dalam pelukannya."Maaf, maafkan aku sayang," Ucap Elang semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak, aku takut," Ucap Khenin dalam dekapan Elang.
"Jangan takut, aku tidak marah padamu aku hanya benar-benar tidak rela melihat anak dan wanita yang aku cintai bersama laki-laki lain bahkan membayangkannya saja pun aku nggak sanggup," Tutur Elang merenggangkan pelukannya, tangannya terangkat mengusap lembut bulir air mata yang melewati pipi mulus gadis itu.
"Aku takut Opa dan Oma tidak menyetujui hubungan kita kak," Tutur Khenin menatap Elang.
Cup.....
Elang mencium lembut bibir Khenin....
"Kamu percaya sama aku kan, aku tidak akan menyerah untuk mendapat restu dari mereka," Ucap Elang setelah melepas ciumannya.
"Aku mencintaimu kak," Khenin kembali memeluk erat Elang.
Setelah dari pantai Elang mengajak Khenin dan Steve untuk makan siang yang tertunda, ketiganya tampak bahagia menikmati kebersamaan mereka hingga tak terasa hari sudah hampir malam, mobil Elang pun sudah melaju menuju rumah Khenin mengantar keduanya pulang.
Kini mobil Elang sudah terparkir di depan rumah Khenin, Elang melangkah masuk rumah Khenin bersama Steve di gedongannya yang sedang tertidur pulas. Baru beberapa langkah setelah memasuki pintu depan rumah Khenin, langkah kaki keduanya terhenti ketika melihat Opa dan Oma Khenin sedang menunggu di ruang tamu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....