
Peristiwa kecelakaan itu berputar seperti roll film, nyata terlihat seperti nyata hingga langkah kaki gadis itu terhenti tepat di mana Papa dan mama nya terkapar tak bernyawa.
"Darah..... Darah...., " Lirih Khenin melihat darah kedua orang tuanya.
"Nin, kamu kenapa?" Tanya Elang berjalan cepat mendekati Khenin.
"Aaaah," Khenin menekuk kedua lututnya di tanah, kedua tangan memegang erat kepalanya yang mulai melihat bayang-bayang itu.
"Nin, ada apa?" Elang ikut berjongkok merengkuh tubuh gadis itu.
"Papa....!!...Mama....!! " Teriak Khenin semakin histeris.
"Nin kamu kenapa?" Elang merasa khawatir, pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Merasa bingung apa yang terjadi dengan gadis yang di cintainya itu.
"Papa... mama.... Dira takut...., jangan tinggalin Dira, Dira takut...!!"
DEEG.....
"Dira...??" Lirih Elang seperti ada kilatan petir yang seketika menyambar hatinya. Pria itu merenggangkan pelukannya pada Khenin, ia terduduk seketika di tanah dari posisinya berjongkok. Pria itu menatap lekat Khenin yang masih menangis, terlihat bayangan Dira yang berumur 12 tahun pada diri Khenin di mata tajam Elang.
"Papa..... Mama... Dira takut..!!"
"Tidak...tidak mungkin," Lirih Elang mengikuti arah pandang Khenin. Ya, ia ingat di tempat ini dulu gadis kecil berusia 12 tahun bernama Dira berteriak memanggil kedua orang tuanya, jurang itu, pohon itu dan.......
"Dira takut....!! "
Teriakan itu.......
Elang meraup wajahnya kasar, "Tidak.... tidak mungkin," Lirih Elang berusaha untuk tidak percaya hingga hujan deras turun seketika membasahi keduanya.
"Nin....!!" Teriak Elang meraih tubuh Khenin yang tiba-tiba pingsan. Elang segera bangkit dengan Khenin berada di gendongannya masuk ke dalam mobil.
Bantuan datang dari orang-orang yang melewati tempat itu, membawa sepasang suami istri yang mengalami kecelakaan itu ke rumah sakit.
Blaak.....
Elang menutup pintu mobil dan duduk di balik kemudi. Pria tampan itu sekilas menatap Khenin sebelum melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Tidak.... Tidak mungkin kamu Dira nin," Tolak Elang lagi dalam pikirannya untuk tidak percaya.
Hujan semakin deras mengguyur, hingga jalan perbukitan tampak sulit untuk di lewati, Elang pun memutuskan membelokkan mobilnya pada sebuah hotel yang terlihat di sekitar tempat itu.
Tidak mungkin ia terus melanjutkan perjalanan pulang, apalagi keduanya dalam keadaan basah kuyup. Elang menyewa sebuah kamar dan membawa masuk Khenin ke dalamnya.
Khenin perlahan mulai membuka kedua manik mata indahnya, menatap sekitar dan menyadari dirinya sudah berada di sebuah kamar hotel dengan baju yang masih dalam keadaan basah.
"Kamu sudah sadar?" Suara Elang yang duduk di sofa dekat ranjang pun seketika membuatnya kaget.
"Kak, kenapa kita ada disini?" Tanya Khenin takut.
"Siapa kamu Nin sebenarnya? " Tanya Elang berjalan mendekati Khenin menaiki ranjang itu.
"Apa maksud kamu kak," Jawab Khenin takut, ia ingat trauma nya yang kembali muncul di tempat kecelakaan tadi pasti akan membuat Elang curiga.
"Aku tanya sekali lagi, siapa kamu sebenarnya Nin, apa kamu Dira?" Tanya Elang memegang bahu gadis itu.
"Apa maksud kakak, aku Khenin kak bukan Dira," Bohong Khenin berusaha menutupi, ia takut Elang kembali depresi jika tahu kebenarannya.
Elang menghebuskan nafasnya kasar. "Baiklah, jangan salahkan aku jika aku mencari tahu sendiri," Ucap Elang bersamaan dengan tangan nya yang tiba-tiba memegang kacing kemeja Khenin, membuat gadis itu kaget seketika berteriak.
Perlahan Elang mendorongnya, Gadis itu kini sudah terhimpit pada dinding kamar terkunci oleh tubuh Elang.
"Jangan Kak," Elang tak menghiraukan dan melanjutkan membuka baju Khenin yang berteriak menangis hingga separuh tubuh polos Khenin sudah terekspose oleh mata tajam itu, gadis itu menangis berusaha menutupi tubuhnya namun di cegah oleh Elang yang tiba-tiba membalikkan posisi tubuhnya menghadap ke diding hingga punggung Khenin terlihat oleh Elang.
Mata tajam itu seketika di penuhi dengan genangan air melihat sebuah tanda lahir di punggung Khenin, tanda lahir yang sama, bentuk yang sama.
Saat memperkosa dan melakukan skin to skin pada Khenin waktu itu, Elang sama sekali tak menyadari keberadaan tanda lahir itu di punggung Khenin.
"Dira..!!" Lirih Elang untuk pertama kalinya meneteskan bulir air dari genangan di pelupuk mata tajamnya.
Khenin seketika menghentikan teriakannya, gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap Elang, ia kaget melihat Elang menangis dan memanggilnya Dira.
"Kak...," Lirih Khenin sembari membenahi bajunya. Laki-laki itu tiba-tiba menekuk kedua lututnya, bersimpuh di hadapan Khenin.
"aku sudah menyebabkan kedua orang tua mu meninggal dan aku juga sudah merenggut kesucianmu...... Kenapa..... KENAPA TIDAK MEMBENCI KU...?" Ucap Elang terasa pilu di pendengaran Khenin. Laki-laki angkuh, dingin itu bersimpuh di depannya.
__ADS_1
"Kak, jangan seperti ini. Aku sudah memaafkan kakak sejak dulu," Ucap Khenin ikut mensejajarkan tubuhnya di depan Elang yang bersimpuh.
"Sejak kapan kamu tahu aku penyebab kecelakaan itu? " Tanya Elang, air mata laki-laki gagah itu masih menetes menatap Khenin.
"Aku tahu kakak, aku mengenali kakak sejak pertama kali kita bertemu di rumah kakak," Lirih Khenin tak tega melihat wajah bersalah Elang.
"Kenapa......kenapa kamu tidak bilang dan kenapa kamu membiarkan aku terus-terusan menyakitimu. Apa tidak ada sedikitpun kebencian dirimu padaku?" Tanya Elang, terbuat dari apa hati gadis itu yang tidak sedikitpun dendam pada dirinya, bahkan ia juga telah merusak hidup gadis itu.
(Author : 🤭 Baru kali ini ada orang bertanya, "Kenapa tidak ada sedikitpun kebencian dirimu pada ku?")
"Aku tidak bisa membenci mu kak, aku sudah memaafkanmu. Semua sudah menjadi takdir," Ucap Khenin berusaha menenangkan Elang.
"Hukumlah aku Nin, hukumlah aku.....!" Teriak Elang meremas rambutnya, ia merasa benar-benar menjadi pendosa yang telah menghancurkan sehancur-hancurnya hidup seorang gadis yang bernama Dira. Ia sudah menjadikan gadis di hadapannya ini yatim piatu dan merenggut kesuciannya.
"Kak, aku sudah memaafkan kakak," Khenin seketika memberanikan diri memeluk tubuh gagah Elang. Ia tahu yang ia lakukan salah karena masih mengira Elang suami Nency. Gadis itu mengeratkan pelukannya. "Sudah ya kak, semua sudah takdir. Kakak jangan terlalu merasa bersalah. Aku sudah memaafkan kakak, aku sama sekali tidak membenci kakak,"
Justru aku sangat mencintaimu kak Elang. Bathin Khenin.
Elang membalas memeluk gadis itu, hingga tubuh Khenin terduduk di pangkuan Elang.
"Maaf..... Maafkan aku Dira..... Maafkan pendosa ini....," Ucap Elang berulang semakin mendekap tubuh Khenin.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......
Buat readers tercinta terima kasih masih bersabar nunggu author up date. Semoga terhibur, jaga kesehatan selalu, love you all 😍