Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
BONCHAP 3


__ADS_3

"Elang, hei apa kabar," Sapa perempuan itu tanpa basa basi memeluk Elang membuat Khenin menoleh pada keberadaan Elang, wanita muda itu seketika kaget dan ada rasa cemburu yang kini memanas di hati nya melihat pemandangan itu.


"Sonya, Loe kenapa di sini?" Tanya Elang tak menolak tapi tak juga membalas pelukan wanita itu.


Khenin menatap wanita itu intens, kulit putih seperti orang asing, memakai baju yang sangat seksi.


Khenin benar-benar kesal di buatnya apalagi melihat Elang yang diam saja saat wanita itu memeluk lengan kekarnya.


Khenin masih menatap keduanya, sudah tidak tahu semerah apa wajah Khenin di bakar rasa cemburu.


Elang tampak berbicang serius dengan wanita itu dan sekilas mata tajamnya melirik ke arah Khenin. Khenin tak bisa mendengar percakapan mereka karena suasana Store yang mulai ramai. "Ya udah Elang maaf, aku tinggal dulu. Aku buru-buru, kebetulan ada meeting di kota ini. Salam buat keluargamu." Ucap wanita itu meninggalkan Elang.


Elang hanya mengangguk pada wanita itu. "Mommy, kenapa?" Tanya Steve membuat Khenin menoleh kembali fokus pada anaknya.


"Tidak apa-apa sayang, ayo kita pilih baju buat Steve," Ajak Khenin pada Steve, menggandeng tangan Steve menuju bagian baju anak-anak sembari sekilas melirik Elang yang kembali terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Gimana, kalian sudah memilih baju?" Tanya Elang mendekati anak dan istrinya setelah selesai menelpon. Khenin berusaha untuk tampak bersikap biasa meskipun tidak ia pungkiri hatinya masih di liputi kabut cemburu.


"Belum pi," Jawab Steve.


"Ya sudah biar Papi yang pilihin," Ucap Elang pada Steve kemudian menoleh pada Khenin."Kamu juga mau di pilihin sayang?" Tanya Elang, namun di jawab gelengan kepala oleh Khenin. Gadis itu tampak masih kesal membuat Elang mengeryit.


"Aku pilih sendiri," Ucap Khenin melangkah meninggalkan Elang dan Steve.


Elang saling berpandangan dengan Steve. "Ada apa dengan Mommy kamu?" Tanya Elang.


"Mommy diam saja dari tadi, sejak lihat Papi sama tante jelek itu," Ceplos Steve membuat Elang mengeryit lagi.


"Tante jelek?" Tanya Elang.


"Itu tante jelek yang peluk papi," Jujur Steve. Elang seketika berpikir, ia mengerti siapa yang di maksud Steve pasti Sonya.


"Ha.....ha.....," Tawa Elang seketika.


Aku senang lihat kamu cemburu Nin. Bathin Elang.


"Kenapa Papi tertawa?" Bingung Steve.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ayo Papi pilihkan baju untuk kamu."


Khenin melangkah ke bagian baju untuk wanita, ia menatap banyaknya baju, tangannya sedang memilih namun pikiran tidak fokus pada apa yang ia pilih karena masih kepikiran dengan wanita seksi yang memeluk Elang tadi hingga Khenin tidak sengaja mendengar percakapan dua orang wanita sedang memilih-milih baju atau lebih tepatnya gaun tidur.


Kedua wanita itupun bercerita bagaimana cara mereka merayu kedua suami mereka, wajah Khenin sedikit memerah namun tetap mendengar percakapan itu yang terdengar begitu vulgar karena Khenin yang memang sama sekali tidak perpengalaman dalam urusan hubungan suami istri, jangankan berpengalaman bahkan ia sendiri saja masih trauma dan takut ketika Elang menyentuhnya.


Aku harus bisa menghadapi rasa takut dan traumaku, kak Elang hanya milikku, aku tidak mau ada wanita lain yang menggoda kak Elang. Pikir Khenin


"Ini jeng, di jamin kalau pakai baju ini tiap malam, suami kamu akan betah dan nggak perpaling ke wanita lain," Ucap wanita itu sembari mengambil beberapa gaun tidur seksi.


Khenin seketika berpikir, apa ia juga mencoba seperti yang mereka lakukan.


Khenin segera mendekati letak gaun tidur itu, tanpa melihat ia mengambil salah satu dan memasukkanya ke dalam keranjang bersama dengan baju-baju yang ia pilih.


Khenin segera membayar semua baju yang ia pilih setelah memilih baju juga untuk Elang karena ia tahu pasti Elang tidak memilih baju untuk dirinya sendiri. Khenin kemudian menunggu di bangku tunggu yang tersedia di Clothing Store.


Elang mengedarkan pandangan mencari keberadaan istri tercintanya. "Terima kasih," Ucap Elang setelah selesai membayar barang belanjaannya dengan Steve.


"Itu Mommy pi," Tunjuk Steve pada Khenin yang sedang menunggu di bangku dan terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Nggak apa-apa kak, aku bisa bayar sendiri." Ucap Khenin.


"Hei, kamu istriku. Mulai sekarang semua kebutuhanmu dan Steve menjadi tanggung jawabku," Tutur Elang mengeluarkan sebuah black card dan memberikannya pada Khenin. "Aku tahu kamu juga punya banyak uang tapi biarkan aku yang menanggung semua kebutuhan kamu dan anak kita." Tutur Elang lagi.


"Terserah kakak," Ucap Khenin pasrah menerima kartu itu.


Setelah selesai berbelanja, Elang mengajak Steve ke area bermain. khenin hanya mengikuti saja kemauan suami dan anaknya, wanita muda itu tampak tidak bersemangat masih memikirkan bagaimana ia harus berusaha melawan rasa takut dan menjadi istri yang baik untuk Elang.


Setelah selesai di area bermain dan makan siang di sebuah resto ketiganya pun memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan di mobil Khenin hanya terdiam. "Kamu kenapa sayang?" Tanya Elang, pria yang selalu bersikap dingin pada siapapun itu berubah menjadi lembut hanya di hadapan istri dan anaknya apalagi kini Elang sudah terbiasa memanggil Khenin sayang.


"Tidak apa-apa kak." Jawab Khenin.


"Mommy. Papi. Apa kamar buat Steve sudah selesai?" Tanya Steve. Anak bermata tajam itu sejak pagi meminta untuk memiliki kamar tidur sendiri. Kamar tidur yang bergambar animasi kartun kesukaannya.


"Besok pasti selesai sayang, sekarang kan lagi di renovasi," Ucap Elang yang terpaksa memanggil jasa renovasi kamar. Elang dan Khenin sebenarnya tak tega membiarkan Steve tidur di kamar sendiri terpisah dari mereka namun jika itu bisa melatih Steve untuk belajar mandiri sedini mungkin, mereka pun akhirnya menyetujui.


Steve tersenyum senang, semalam saat tidur bersama Darrel, Didi Steve itu mengatakan pada Steve agar meminta di renovasikan kamar sendiri pada Mommy dan Papi nya.

__ADS_1


"Kamu kan sudah besar dan anak jagoan masak masih tidur sama Papi, Mommy apa nggak malu sama teman-teman kamu?" Ucap Darrel pada Steve semalam.


"Steve memang ingin punya kamar sendiri Didi, kata teman-teman Steve kalau ingin punya adik lucu nggak boleh tidur sama Papi, Mommy lagi." Sontak jawaban polos itu membuat Darrel tak henti tertawa semalam.


Mobil Elang pun sampai di depan rumah mereka. Hari sudah sore tampak Elang dan Steve masih sibuk dengan persiapan kemah mereka di taman depan rumah, sedangkan Khenin di bantu bi Ijah memasak di dapur.


Malam pun tiba, di taman sudah tampak tenda kemah terpasang, di dekatnya ada api unggun yang menyala. Elang, Khenin dan Steve duduk sembari memakan makan malam mereka di atas tikar yang di gelar di dekat api unggun itu.


Mereka bertiga tampak bahagia, tertawa bercanda, sungguh baik Elang maupun Khenin sangat bersyukur mereka di takdirkan bisa bersama menjadi keluarga yang bahagia.


Kedepannya hidupku hanya untuk kebahagiaan kalian. Elang.


Aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik bagi kalian. Khenin.


I Love Mommy and Papi. Steve.


Author : Belum gajian😭😭


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tunggu BONCHAP 4......

__ADS_1


__ADS_2