
Di perancis.
"Mommy...."
"Mommy.....,"
Igau Steve yang kini sedang deman tinggi, membuat Nany merasa cemas.
"Bagaimana dok, bagaimana keadaannya?" Cemas Nany bertanya pada dokter yang baru selesai memeriksa.
"Suhu tubuhnya tinggi nyonya, saya akan berikan obat. Jika sampai besok panasnya belum juga turun kami terpaksa menyarankan untuk di bawa ke rumah sakit dan satu lagi," Ucap dokter menjeda. "Sepertinya anak ini sedang merindukan Mommy nya, apakah Mommy nya berada di sini?" Tanya Dokter.
"Dia sedang di luar kota dok," Jawab Nany.
"Nyonya saran saya, segera pertemukan anak ini dengan Mommy nya karena selain obat, perhatian dan kasih sayang seorang ibu yang di rindukan juga sangatlah penting untuk mendukung kesembuhan anak," Ucap Dokter membuat Nany terdiam.
"Ya sudah ini obat yang harus di minumkan nyonya, aturannya sudah saya tuliskan dan saya pamit undur diri dulu nyonya, permisi," Pamit dokter pribadi keluarga Durand.
"Terima kasih dok," Ucap Nany.
Nany menatap Steve yang terbaring di ranjang, tak terasa air matanya mengalir.
"Darrel tahu Ma, mama begitu menyayangi Khenin dan Steve, mereka adalah satu-satunya peninggalan dari kak Diana," Ucap Darrel yang baru tiba, membuat Nany seketika menoleh. Darrel begitu khawatir ketika mendengar dari ART bahwa Steve sedang sakit. Darrel duduk di samping Nany, ia menarik pundak Nany untuk bersandar di dada bidangnya.
"Mama bersalah Nak, Mama saat itu membiarkan kakakmu Diana pergi, pergi untuk selama-lamanya," Nany terisak wanita itu begitu menyesal atas kepergian Diana anak sulungnya, tangan Darrel terangkat menyeka air mata mama nya. "Khenin, dia seperti Diana yang terlahir kembali di rumah ini. Mama memang salah, tidak seharusnya mengurung Khenin tapi itu semua Mama lakukan karena Mama tidak ingin kehilangan lagi seperti kehilangan Diana,"
"Ma, Darrrel mengerti apa yang Mama rasakan tapi apa mama tidak kasihan dengan Khenin? Dia seorang ibu sama seperti Mama. Mama pasti bisa merasakan apa yang di rasakan Khenin saat berjauhan dari Steve kan?" Ucap Darrel membuat Nany makin terisak. Ya pasti akan sangat menyakitkan tentunya jika harus berpisah dengan anak, hal itu sudah pernah Nany rasakan.
"Maafkan Mama, mama memang salah, mama tidak akan mencegah lagi Steve untuk bersama Khenin," Ucap Nany kini ia sadar bahwa seorang ibu tidak bisa di pisahkan dengan anak kandungnya.
"Terima kasih Ma, kami menyayangimu," Darrel mengeratkan pelukanya pada Nany dan tanpa mereka sadari ada Syarif di balik pintu yang juga meneteskan air mata karena dirinya lah yang menyebabkan kepergian Diana dari kediamannya, memisahkan seorang ibu dari anaknya untuk selamanya.
"Maafkan Papa Diana anakku,"
**
Khenin POV
Di kota YY
Pletaaak....
Khenin : Auw.....sakit thor...😤
Author : Yang di perancis belum selesai ceritanya, udah balik ke kota YY aja😒
Khenin : Iya...iya thor..... Marah² melulu, ntar puasanya batal loh🙄.
__ADS_1
Author : Udah batal, kan udah magrib, makanya batalin puasanya pake jitak pale loe😁
Khenin : 😤😤Author nyebelin.
**
Author POV.
Masih di perancis.
BRAAAK........Suara gebrakan di meja.
"Apa kerja kalian!!! mencari seorang Diana ku saja kalian tidak bisa, hah!" Bentak pria bernetra abu-abu pada anak buahnya.
"Tuan, sepertinya nona Khenin,..."
"Berhenti.....," Ucap Pria bernetra abu-abu itu menyela anak buahnya. "Sudah berapa kali ku bilang, Diana nama kekasihku itu bukan Khenin," Ucap pria itu membuat anak buahnya saling menatap bingung.
Betrand luwies, laki-laki tampan bernetra abu-abu bertubuh tinggi besar sama seperti hal nya tubuh Elang dan Darrel, laki-laki itu adalah sahabat dari almarhum Diana mama Khenin. Betrand diam-diam begitu mencintai Diana.
Betrand mencintai Diana sejak dirinya masih kecil. Saat Betrand sudah dewasa, ia ingin menyatakan cinta pada Diana tapi ia tidak berani karena status keluarga mereka yg berbeda.
Dengan tekad yang bulat Betrand pun berusaha untuk menjadi seorang yang sukses tapi sayang saat kesuksesan sudah berada di tangan dan ia kembali ingin meminang Diana, ia begitu kecewa karena Diana sudah menikah dan pergi meninggalkan keluarga Syarif yang tak tahu entah pergi ke mana.
Betrand seperti orang gila, dunia nya hancur, berusaha melupakan Diana itulah keinginannya tapi hatinya tak mampu. Laki-laki yang sudah berumur 42 tahun lebih itu, secara tidak sengaja bertemu dengan Khenin hingga ia kembali teringat dengan sosok Diana.
"Tuan, sepertinya tuan Darrel membawa nona Diana ke suatu tempat yang tidak kita ketahui," Ucap sang asisten.
Darrel mengepalkan tangan. "Darrel, aku pasti akan menemukan kakakmu Diana," Ucap Betrand yang kembali teringat pertemuannya dengan Khenin yang ia sangka Diana.
--__Flash back on__--
Betrand yang akan menghadiri meeting di sebuah restoran seketika merasa kaget saat dari tempatnya berdiri terlihat seorang gadis manis berambut panjang dengan sebuah dress yang ia kenali karena dress itu adalah pemberian dirinya untuk Diana sebagai kado ulang tahun.
"Diana..," Ucap Betrand menatap Khenin dari tempatnya.
"Kak, aku pantas nggak pakai gaun ini," Tanya Khenin pada Darrel yang saat ini keduanya sedang duduk di sebuah restorant yang sama dengan Betrand berada.
"Cantik honney, kamu benar-benar seperti mama mu dengan gaun itu,"
"Ini memang gaun mama kak, aku nemuin di kamar mama," Ucap Khenin.
"Andai kakak Diana masih ada, kalian pasti akan terlihat seperti kembar," Ucap Darrel.
"Diana sayang, kau kah itu," Ucap Betrand mendekati meja di mana Darrel dan Khenin berada membuat keduanya menoleh le arah Betrand.
"Kak Betrand, apa kabar?" Tanya Darrel menyapa.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan baik jika ada Diana," Ucap Betrand tak melepas tatapannya pada Khenin.
Darrel mengeryit, rupanya Betrand masih belum bisa melupakan kakaknya. Ia tahu sejak dulu Betrand begitu mencintai Diana hingga ia tak terima saat kakak sulungnya itu menikah dengan Doni papa Khenin.
"Dia Khenin kak, keponakanku," Ucap Darrel yang tak di hiraukan Betrand. Laki-laki bernetra abu-abu itu seketika memeluk Khenin membuat Khenin yang tengah hamil Steve merasa takut.
"Lepas om..," Teriak Khenin mencoba melepaskan diri dari pelukan Betrand. Betrand semakin mengeratkan pelukan hingga sebuah tangan melepas paksa pelukan itu.
"Jangan buat aku bertindak tidak sopan padamu kak," Ucap Darrel mulai emosi, perlahan menarik Khenin ke belakang tubuhnya.
"Diana, kau tidak mengenaliku?" Tangan Betrand terulur hendak meraih Khenin namun segera di tepis oleh Darrel.
"Jangan sentuh keponakanku,"
"Dia Diana, jangan menghalangiku Darrel. Kau tidak tahu betapa menderitanya aku tanpa kakakmu," Pria tampan bernetra abu-abu itu masih ingin meraih Khenin hingga....
BUGH.....
Sebuah pukulan dilayangkan Darrel membuat Betrand jatuh tersungkur.
"Damn it," Betrand mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
"Jangan pernah menganggu hidup keluargaku lagi atau aku tidak akan segan lagi untuk menghabisi dirimu," Ucap Darrel membawa Khenin keluar dari restoran itu meninggalkan Betrand.
"Ha......ha.....dia Dianaku Darrel, milikku sampai kapanpun,"
--__Flashback off__--
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..........