
Di sebuah pusat perbelanjaan besar di kota YY saat ini Khenin dan Steve berada. Khenin menggandeng Steve menuju ke area tempat bermain di ikuti oleh bi Ijah di belakang mereka.
Khenin dan Steve tampak bahagia, berbagai timezone keduanya mainkan hingga hari menjelang siang. Tak puas dengan area bermain, keduanya kini beralih ke toko mainan anak yang berada di Mall itu. Berbagai mainan di tawarkan Khenin pada Steve namun pilihan balita itu jatuh pada sebuah boneka burung Elang, lagi-lagi boneka burung Elang. Pikir Khenin.
"Steve, suka ini Mom," Ucap Steve menunjukkan boneka Elang yang masih terpasang bandrol.
"Ya sudah, mommy bayar dulu," Ucap Khenin. Gadis itu.... Ah author lupa kalau Khenin sudah bukan gadis lagi. Wanita itu kemudian membayar di kasir. "Kamu sama bi Ijah dulu ya, Mommy mau ke toilet sebentar," Ucap Khenin di angguki Steve.
"Bi tolong jaga Steve sebentar ya, aku mau ke toilet," Pamit Khenin.
"Baik Non," Jawab bi Ijah satu tangan menggandeng tangan Steve dan satu lagi membawa tas berisi belanjaan mainan Steve.
"Den Cakep duduk di sini sebentar ya, bibi mau benahin tas belanjaan dulu," Ucap Bi Ijah menunjuk bangku tunggu di sebelahnya.
Steve mengangguk sembari mendudukkan tubuhnya di bangku itu, ia memainkan boneka baru nya sejenak kemudian mengedarkan pandangan dan melihat sebuah kedai es krim yang terdapat di dalam mall, balita kecil itu tergiur dengan aneka rasa es krim yang di sediakan kedai itu hingga tanpa sadar ia berlari kecil menuju kedai es krim.
Steve berlari hingga tidak melihat ada sebuah trolley cleaning service mengarah padanya. "Den Cakep awas..!!" Teriak bi Ijah membuat Steve menghentikan langkahnya menoleh ke trolley yang mengarah padanya.
"Mommy...," Teriak refleks Steve menutup mata, balita itu hampir tertabrak jika saja seorang pria bermata tajam tidak meraih tubuhnya.
"Cakep, mau sampai kapan memejamkan mata?" Ucap Elang yang sudah membawa Steve ke dalam gendongannya.
Steve membuka mata tajamnya secara perlahan. "Uncle baik!!" Teriak Steve seketika bersamaan dengan memeluk Elang. "Steve takut," Balita itu terisak di pelukan ayah kandungnya. Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan Elang saat Balita itu memeluknya.
"Hei cakep kenapa menangis? Jagoan nggak boleh nangis," Ucap Elang mengusap lembut air mata yang membasahi pipi balita itu.
"Aku takut Uncle, nanti kalau aku tertabrak siapa yang akan jagain Mommy," Ucap polos Steve membuat Elang mengeryit, sebegitu sayang anak ini pada mommy nya.
"Den Cakep baik-baik saja," Ucap Bi Ijah gemetar mendekati ayah dan anak itu.
"Tenang saja dia tidak apa-apa bi," Elang menjawab membuat bi Ijah menatap pria tampan yang ia kenali.
"Ah tuan, terima kasih sudah menolong den Cakep,"
"Tidak apa-apa kebetulan saya lewat sini," Ucap Elang masih menatap Steve. "Cakep mau Uncle beliin mainan nggak?" Tawar Elang namun Steve menggeleng. Hari ini Elang sengaja datang ke Mall, entah kenapa ia ingin membeli mainan untuk Steve jika nanti bertemu lagi.
"No Uncle, aku sudah di beliin Mommy ini," Steve mengangkat boneka burung Elang yang sedari tadi ia pegang.
Elang mengeryit, "Boneka burung Elang!! kamu suka?" Tanya Elang, ia tiba-tiba teringat dengan Khenin yang begitu menyukai boneka burung Elang seperti yang Steve pegang.
__ADS_1
Steve mengangguk, "Suka, kata mommy mata papi ku sama dengan mata boneka ini," Tunjuk Steve pada mata boneka nya itu.
DEEG......
Elang kembali menginggat ucapan Khenin saat bersama Bagas anak panti asuhan dulu yang mengatakan bahwa mata tajam miliknya seperti boneka burung Elang itu.
Langkah kaki khenin terhenti seketika sembari menutup mulut melihat Elang menggendong Steve. "Ya tuhan," Lirih Khenin segera membalikkan badan perlahan berjalan menjauhi keberadaan Elang dan Steve.
Khenin segera bersembunyi di balik dinding dan mengeluarkan ponselnya menghubungi bi Ijah. Ia meminta bi Ijah untuk segera membawa Steve ke parkiran mobil.
"Baik non," Ucap Bi Ijah memutus sambungan telp kemudian menoleh pada Steve. "Den Cakep, kita pulang dulu yuk! Mommy sudah menunggu di bawah," Ajak bi Ijah pada Steve.
Steve mengangguk kemudian kembali menoleh pada Elang. "Uncle baik, aku pulang dulu ya," Ucap Steve.
"Ya sudah, kamu hati-hati," Elang menurunkan Steve dari gendongannya.
"Sekali lagi terima kasih tuan," Ucap bi Ijah menggandeng tangan Steve. Elang mengangguk.
"Da....da Uncle baik," Ucap Steve melambaikan tangan di balas dengan senyuman oleh Elang.
Kenapa anak itu mengingatkanku pada Khenin.....dan sialnya aku tidak tahu nama sebenarnya anak itu.....bathin Elang yang masih berdiri menatap kepergian Steve.
"Anak Mommy," Khenin segera menggendong Steve masuk ke dalam mobil, ia takut ketahuan oleh Elang.
"Mommy tadi ada Uncle baik, di dalam sana," Tunjuk Steve pada mall besar itu dari dalam mobil yang sudah melaju.
"Steve suka sama Uncle itu?" Tanya Khenin.
"Suka mom, Steve likes Uncle baik. Papi Steve pasti seperti Uncle baik, ya kan mom?" Ucap Steve membuat Khenin segera memeluk anak itu.
"Tentu sayang," Ucap Khenin menangis.
Maafkan Mommy Steve.... Dia memang papi kandungmu......Bathin Khenin.
Mobil Khenin kini telah masuk ke dalam halaman rumahnya, Khenin menggendong Steve yang tertidur di dalam mobil setelah seharian puas berjalan-jalan hingga tanpa ia sadari ada sebuah seringai tercetak jelas dari seseorang baru keluar dari dalam mobil yang terpakir di pinggir jalan. "Tunggu aku Diana,"
*****
"Sial," Umpat Darrel setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya tentang kepergian Betrand ke kota YY.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu menyakiti Khenin," Lirih Darrel kemudian menatap anak buahnya. "Kita pergi ke kota YY saat ini juga," Ucap Darrel hendak mengambil jas nya yang tersampir di tempat duduknya.
"Maaf tuan," Cegah sang asisten, "Sepertinya, anda belum bisa pergi saat ini karena kita akan ada meeting untung kelangsungan perusahaan yang tidak bisa di cancel dan harus anda sendiri yang menangani," Ucap Sang Asisten.
"Arghhh.....," Darrel memukul kursi di sampingnya, memang benar ia ada meeting penting yang tidak bisa di cancel. "Apa benar-benar kamu tidak bisa menggantikan aku?" Tanya Darrel emosi.
"Tidak bisa tuan, kecuali tuan Syarif tapi sayangnya tuan Syarif saat ini sedang tidak berada di kota ini." Darrel semakin bingung, ia pun membuka ponsel dan segera menghubungi Khenin.
"Apa yang terjadi kenapa tidak bisa di hubungi," Cemas Darrel karena panggilannya tidak tersambung. "Sudahlah aku tidak perduli dengan meeting itu, aku akan pergi ke kota YY saat ini juga," Ucap Darrel pada sang asisten.
"Tapi tuan.....," Cegah kembali sang asisten namun tak di hiraukan oleh Darrel yang sudah keluar dari pintu ruangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Author : Buat semua readers tercinta, author ucapin Minnal aidzin walfaizin mohon maaf lahir dan bathin ya ππ. Maafin semua kesalahanΒ² author ya seperti....
π€. Cerita author yg banyak typo nya termasuk salah kataπ(Maklum author juga sibuk kerja jadi sering ngetiknya gk konsen. π€)
π€. Ceritanya sering buat para readers ke gantung apalagi selalu telat up date. (Maafin author ya, author punya alasan sendiri... π)
π€. Apalagi ya kesalahan author.....
Ah..... author lupaπ karena terlalu banyak..... Maafin author ya..... Semoga semua terhibur dan nggak marah sama author.....Love you All πππ
__ADS_1