Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 44


__ADS_3

Hari semakin siang ketika acara pelelangan itu telah berakhir. Berakhir dengan kekecewaan Khenin karena tidak berkesempatan mendapatkan rumah kenangan bersama kedua orang tuanya.


Khenin masih tak bergeming dari tempat duduknya ketika semua orang sudah berlalu. Manik mata indahnya masih menatap layar yang menampakkan gambar rumah yang ia huni bersama kedua orang tuanya sebelum kecelakaan itu terjadi.


Khenin yang saat itu masih berusia 12 tahun, di tambah lagi tekanan mental dari rasa trauma yang ia alami akibat kecelakaan itu, membuat kakek dan neneknya terpaksa menjual rumah yang penuh kenangan anak dan menantu kesayangan mereka untuk biaya pengobatan Khenin ke psikiater.


Selama bertahun-tahun gadis itu hidup dalam kegelapan, bayang-bayang kematian kedua orang tuanya terus berputar di pikirannya. Beruntung saat itu Henry dan Nisa menemukan keberadaan Khenin hingga mengambil alih biaya pengobatan dan biaya hidup Khenin.


Henry dan Nisa di penuhi rasa bersalah karena anaknya lah yang menyebabkan terjadinya kecelakaan hingga merenggut nyawa kedua sahabat mereka. Saat itu keduanya ingin mengajak Khenin yang masih kecil tinggal di kediamannya namun kakek dan nenek Khenin mencegah karena hanya Khenin satu-satunya yang mereka miliki setelah kepergian Doni dan Diana.


"Huh," Khenin menghela nafas kemudian beranjak dari duduknya sedangkan Elang yang terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang sekilas melirik Khenin yang melangkah keluar meninggalkan gedung pelelangan itu.


"Jalan pak," Ucap Khenin pada supir setelah masuk ke dalam mobil.


Selang beberapa menit mobil yang di tumpangi Khenin pun tiba-tiba berhenti. "Ada apa pak?" Tanya Khenin pada sang supir.


"Maaf nona sepertinya mobilnya mogok, saya periksa dulu," Ucap Sang supir keluar dari mobil dan membuka kap depan.


Cukup lama Khenin menunggu hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari mobil. "Gimana pak? " Tanya Khenin.


"Mogok nona, saya sudah hubungi montir terdekat. Mungkin akan lama, apa nona ingin saya pesankan taksi online." Tawar sang supir, takut majikannya yang masih muda itu akan jenuh untuk menunggu montir datang.


"Ya sudah, bapak pesankan, " Ucap Khenin menatap langit yang mulai di selimuti awan hitam.


Kruuk.....


"Lapar... " Lirih Khenin memegangi perutnya karena tadi tidak sempat makan siang.


Khenin masih berdiri kemudian menyandarkan tubuhnya pada samping mobil, hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping Khenin. Gadis itu terperanjak kembali ke posisinya berdiri menatap pria tampan berkaca mata hitam keluar dari mobil itu.


"Kak Elang, " Lirih Khenin melihat Elang melangkah mendekati dirinya.


"Masuk," Ucap Elang membuka pintu depan mobilnya.


Gadis itu perlahan menggeleng, "Maaf kak, aku tunggu taksi online," Ucap Khenin.


"Nunggu taksi masih lama, nanti kamu kehujanan. Ayo masuk atau mau aku gendong," Elang hendak membungkuk namun Khenin segera mencegahnya.


"Jangan kak," Tolak Khenin merasa takut, karena Elang tidak pernah main-main dengan ucapannya.


"Ya udah masuk kalau gitu," Ucap Elang tersenyum.

__ADS_1


Khenin terdiam, kemudian menoleh pada sang supir yang masih berada di depan kap mobil. "Pak, saya duluan ya," Pamit Khenin sebelum masuk ke dalam mobil Elang.


"Ya non, hati-hati," Ucap sang supir ta mencegah majikannya itu karena mengira Elang adalah kerabatnya.


Blaak.....


Elang menutup pintu mobilnya. "Duluan pak," Ucap Elang pada supir Khenin sebelum melajukan mobilnya.


Baru beberapa menit. "Kenapa berhenti kak?" Tanya Khenin tiba-tiba, saat mobil Elang tak melaju.


Elang mencondongkan tubuhnya ke arah Khenin. "Jangan kak," Teriak Khenin meringsut mundur memejamkan mata.


"Kenapa jangan? " Ucap Elang tersenyum.


Klik.....(suara seatbelt terpasang)


"Kamu lupa pakai seat belt," Ucap Elang kemudian kembali ke posisi duduknya di balik kemudi.


Wajah Khenin seketika memerah merasa malu, ia berpikir Elang akan melecehkan dirinya lagi seperti dulu.


Pria tampan itu tersenyum melihat wajah merah Khenin yang menggemaskan, Elang kemudian mengambil dua buah kotak dari jok belakang.


"Kak berhentilah bersikap seperti ini, ini salah," Ucap Khenin seketika.


"Tidak akan pernah dan tidak ada yang salah dengan cintaku," Ucap Elang sembari fokus menyetir mobilnya yang sudah melaju.


"Nin cobalah untuk mencintai dan menerimaku," Pinta Elang satu tangannya memegang tangan Khenin dan satu tangan masih mengendalikan setir mobil. "Aku juga akan menerima anakmu seperti anak kandungku,"


Dia adalah anak kandungmu kak, dia darah dagingmu. Tapi aku dan Steve tidak ingin menjadi duri dalam hubungan kalian. ....Bathin Khenin dalam diamnya.


"Steve, nama calon anakku kan?" Ucap Elang tersenyum, Khenin yang tadinya menunduk seketika menatap Elang.


"Dia anakku, kak Elang tidak berhak," Ucap Khenin terbawa suasana, ia tidak ingin Elang mengetahui kenyataan bahwa Steve adalah anak kandungnya.


Elang melirik gadis itu kemudian menghela nafas, ia tidak ingin Khenin merasa tidak nyaman jika bersama dengan dirinya. "Ya sudah kamu sekarang makan dulu, mau aku suapi?" Tawar Elang menggoda Khenin.


"Tidak kak, aku bisa makan sendiri," Khenin membuka kotak yang berisi aneka kue. Satu kue di ambil Khenin, gadis itu hendak memakannya namun tiba-tiba terdengar suara decit keras dari sebuah mobil yang hilang kendali melaju kencang menyalip mobil Elang. Di depan matanya mobil itu membanting setir dan menabrak pohon.


Beruntung mobil Elang melaju perlahan hingga Elang sempat menginjak rem dan tak sampai ikut menabrak mobil itu.


"Astaga...," Lirih Elang membuka seatbelt beranjak cepat keluar mobil menghampiri mobil itu yang bagian depan kap nya sudah mengeluarkan banyak asap.

__ADS_1


"Tuan anda tidak apa-apa," Tanya Elang mengetuk-ngetuk kaca mobil.


Elang membuka paksa pintu mobil itu, sepasang suami istri paruh baya berhasil keluar dengan selamat meskipun sedikit berlumuran darah.


Khenin yang berada di mobil seketika tangannya gemetar, keringat dingin sudah tak henti mengalir. Gadis itu seketika keluar dari mobil. Dengan perlahan ia melangkah, tempat yang sama, kejadian yang hampir sama membuat kilas balik kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya kembali berputar seketika di ingatannya.


Peristiwa kecelakaan itu berputar seperti roll film, nyata terlihat seperti nyata hingga langkah kaki gadis itu terhenti tepat di mana Papa dan mama nya terkapar tak bernyawa.


"Darah..... Darah...., " Lirih Khenin melihat darah kedua orang tuanya.


"Nin, kamu kenapa?" Tanya Elang berjalan cepat mendekati Khenin.


"Aaaah," Khenin menekuk kedua lututnya, kedua tangan memegang erat kepalanya yang mulai melihat bayang-bayang itu.


"Nin, ada apa?" Elang ikut berjongkok merengkuh tubuh gadis itu.


"Papa....!!...Mama....!! " Teriak Khenin semakin histeris.


"Nin kamu kenapa?" Elang merasa khawatir, pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Merasa bingung apa yang terjadi dengan gadis yang di cintainya itu.


"Papa... mama.... Dira takut...., jangan tinggalin Dira, Dira takut...!!"


DEEG.....


"Dira...?? "


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2