
Mobil yang di tumpangi Khenin dan Nisa melaju menelusuri jalan. Di sepanjang perjalanan Khenin hanya terdiam dan termenung. Ia masih memikirkan kata-kata Elang dan ia juga takut Elang akan berbuat lebih nekat lagi dari kemarin.
Apa aku bilang saja ya pada mama Nisa tentang perlakuan kak Elang. Tapi apa mungkin mama Nisa percaya di tambah lagi aku tidak mau ada keributan di keluarga ini.... Pikir Khenin.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Nisa tiba-tiba membuat Khenin tersadar dari lamunannya.
"Ah, tidak apa-apa ma," Jawab Khenin.
Mobil itu akhirnya sampai di depan sebuah butik besar bernama Nisa collection. "Ayo sayang kita masuk," Ajak Nisa menggandeng tangan Khenin yang baru keluar dari mobil. Semua pegawai butik tampak menyapa hormat pada Nisa dan Khenin.
"Nyonya, siapa gadis ini..? cantik sekali. Apa dia calon tuan muda Elang," Tanya Jeni pegawai setia sekaligus orang kepercayaan Nisa.
Nisa mengeryit. "Jeni, kenalkan dia Khenin anak gadisku," Ucap Nisa membuat Jeni kaget karena setahunya nyonya majikannya itu hanya punya satu anak yaitu tuan muda Elang. Khenin hanya bisa tersenyum menatap jeni yang juga menatapnya meneliti wajah cantik Khenin dari atas sampai bawah. Melihat itu Nisa kembali bersuara. "Jeni, tolong ambilkan gaun yang kemarin baru selesai aku buat," Perintah Nisa pada pegawai setianya yang terlihat penasaran dengan Khenin.
"Baik nyonya," Angguk Jeni kemudian menjalankan perintah majikannya itu.
Khenin baru keluar dari ruang ganti dengan sebuah dress cantik yang sangat pas dengan bentuk tubuhnya di tambah lagi warna dress itu cocok dengan kulitnya yang putih mulus. "Astaga sayang kamu cantik sekali," Ucap Nisa pada Khenin.
"Benar nyonya, nona Khenin sangat cantik sekali," Tambah Jeni yang juga ikut melihat Khenin. Khenin hanya bisa tersenyum malu menanggapi pujian mama dan Jeni.
Setelah selesai dengan mencoba gaunnya, Nisa mengajak Khenin memilih banyak baju untuk Khenin. "Ma, ini terlalu banyak," Ucap Khenin membawa banyak sekali tote bag di tangannya belum lagi di tangan Nisa dan Jeni yang ikut membawakan ke dalam mobil.
"Nggak sayang, ini malahan kurang. Kalau kamu mau, kamu bisa mengambil semua baju-baju yang kamu suka di butik mama," Nisa tersenyum sembari memasukkan tote bag ke dalam mobil. Khenin sudah masuk ke dalam mobil. "Ya sudah sayang, kamu pulang di antar supir ya. Mama mau ke kantor om Henry dulu untuk persiapan pesta syukuran besok,"
"Ya ma, terima kasih," Ucap Khenin pada Nisa yang kemudian menutup pintu mobil itu. Mobil itu membawa Khenin melaju meninggalkan Nisa yang masih berdiri dan mematung di tempat itu. "Maafkan mama ya Khenin, mama belum bisa berkata jujur tentang penyebab kematian orang tuamu. Tapi sungguh terlepas dari itu semua, mama tulus menyanyangimu seperti anak kandung mama sendiri," Gumam lirih Nisa tanpa terasa air matanya mengalir.
**
Di sisi lain tampak Elang di sebuah cafe bersama Satya. "Kenapa Loe, bengong aja," Ucap satya ketika melihat Elang sendang termenung. Dalam pikiran Elang masih terbayang ciuman yang ia lakukan pada Khenin. Entah rasa itu masih membekas di bibir dan pikirannya seolah bayangan Khenin ta bisa lepas dari ingatannya.
Elang hanya terdiam kemudian menoleh pada Satya. "Sat, gue boleh nanya nggak," Ucap Elang pada Satya.
"Tumben loe pake nanya, biasanya main tanya-tanya aja tanpa minta ijin," Ucap Satya.
__ADS_1
"Nggak jadi," Kata Elang terlihat kesal pada Satya.
"Ya ilah pake ngambek udah kayak cewek-cewek gue aja loe. Ya udah buruan loe mau nanya apa?" Ucap Satya sembari mengambil botol air mineral yang ada di meja. Ia membuka tutup botol air minum itu.
"Saat ciuman pertama loe, apa yang loe rasain," Tanya Elang sontak membuat Satya menyemburkan air mineral yang hampir masuk kedalam tenggorokannya.
BYUUR.....
"Loe gila apa," Umpat Elang yang hampir kena semburan air dari Satya jika saja ia tidak menghindar.
"Hampir Lang, gue hampir gila denger pertanyaan loe barusan," Ucap Satya mengusap sisa air di mulutnya. "Jangan bilang loe udah ngelepas keperjakaan bibir loe?" Tanya Satya terlihat penasaran. "Sama siapa?" Tanya Satya lagi jiwa kepo nya meronta-ronta.
"Udah ah, nyesel gue tanya sama loe," Kesal Elang ingin bangkit dari duduknya tapi di cegah oleh Satya.
"Iya deh sorry, gue jawab," Ucap Satya membuat Elang urung bangkit dari duduknya. "Ciuman pertama gue sama cinta pertama gue tentunya. Gue sayang dan cinta banget sama tuh cewek sampai ciuman pertama gue terasa terus dibibir dan selalu terbayang-bayang wajahnya," Ujar Satya membuat Elang serasa tidak percaya kenapa bisa sama dengan apa yang ia rasakan saat mencium Khenin.
Tidak.....tidak.....gue nggak mungkin mencintai bocah itu..... Elang menggelengkan kepala mencoba menepis pemikirannya itu.
"Itu sih dasar loe nya aja yang otaknya mesum, pake cinta yang di salahin," Ucap Elang.
"Trus gimana?" tanya Satya menaik turunkan alisnya menatap Elang.
"apanya," Jawab Elang santai.
"Kok apanya, itu ciuman pertama loe sama siapa?" Satya benar-benar penasaran.
"Kepo loe," Elang tidak menanggapi pertanyaan Satya, ia lebih memilih fokus pada game yang ada di ponselnya.
"Yah nie bocah, bikin orang penasaran aja," Gerutu Satya kemudian dengan akal bulusnya terbesit ide jahil. "Lang, jangan bilang ciuman pertama loe sama Nency, atau si Nency nyosor paksa loe dan loe nggak bisa nolak," Tebak Satya asal membuat sebuah tutup botol air mineral melayang tepat di bibirnya.
"Gila loe, mana mau gue sama cewek bekas loe itu," Umpat Elang kesal dan kata-katanya menusuk telak tepat sasaran membuat Satya tak bisa berkata selain menggerutu tentang tutup botol air mineral yang mencium bibirnya. Elang sedari awal memang sudah tidak tertarik dengan Nency di tambah lagi ia tahu Nency juga pernah berhubungan dengan Satya dan masih banyak lagi cowok-cowok yang di kencani Nency.
Mungkin hanya dirinyalah satu-satunya cowok yang sama sekali tidak tertarik dengan Nency dan sulit di dapatkan oleh Nency hingga membuat wanita itu penasaran.
__ADS_1
"Sakit tau bibir gue, mimpi apa gue semalem sampe nyium tutup botol," Gerutu Satya mengusap bibirnya.
"Salah sendiri," Elang terkekeh kecil masih fokus pada ponselnya.
Sembari mengusap bibirnya Satya menatap Elang, entah kenapa tiba-tiba dalam pikiran Satya terlintas wajah Khenin. "Atau jangan-jangan loe nyium tuh bocah cantik yang ada di rumah loe. Kalau iya, wah itu namanya pelecehan anak di bawah umur Lang," Tebak Satya tiba-tiba tak mau menyerah sontak membuat Elang kaget.
Elang seketika menghentikan tangannya yang sedang bermain game. "Sok tahu loe," Ucap Elang pada Satya mencoba mengelak meskipun hatinya jujur membenarkan ucapan Satya barusan.
Dia memang merasa sudah melecehkan Khenin tapi semua yang dia lakukan hanya untuk melindungi keluarganya terutama mama yang sangat dia sayangi. Tapi kenapa harus dengan melecehkan Khenin, dan kenapa selalu pikiran mesum itu menjalar di otaknya saat melihat Khenin, lagi-lagi itu menjadi pertanyaan di benak Elang. Kenapa dia seperti tertarik dengan Khenin padahal jika itu wanita lain dia tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu.
Gue nggak mungkin punya perasaan sama gadis itu....... Lagi-lagi Elang menepis perasaannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung........
__ADS_1