
"Diana sayang, ayo ikut denganku," Betrand membuka tangan, ia ingin Khenin menghampirinya. "Menikahlah denganku,"
Khenin menggeleng. "Maaf tuan aku tidak bisa. Aku bukan mama," Tolak Khenin. "Yang anda cintai adalah Diana mamaku bukan aku,"
"Ha....ha.....," Tawa Betrand. "Aku tidak perduli, kau siapa tapi," Betrand menarik paksa Khenin.
"Jangan," Teriak Khenin lagi-lagi memberontak dari pelukan Betrand yang semakin mendekapnya.
"Mata ini, pipi ini, hidung ini dan bibir ini.....," Tangan Betrand mengusap lembut wajah Khenin dari mata hingga turun ke bibir, membuat wanita itu semakin terisak. "Tidak akan pernah membohongiku kalau kau adalah Diana ku, ayo sayang menikahlah denganku," Ucap Betrand kini beralih meraih tangan Khenin dan menariknya.
"Tidak....tidak mau.....aku bukan mama Diana," Teriak Khenin menahan tangannya yang di tarik paksa Betrand untuk mengikuti langkahnya keluar dari kamar itu.
"Jangan menolak Diana sayang karena aku tidak ingin menyakitimu," Ucap Betrand masih menarik Khenin.
Khenin menangis tangannya di tarik seiring dengan langkah kaki menuruni tangga. Di sela isak tangis Khenin masih dapat melihat bi Ijah dan mang kardi sudah terikat tangan dan kakinya di ruang tamu.
"Aku tidak mau menikah dengamu tuan, kembalikan anakkku...," Teriak Khenin tangisnya semakin keras saat Betrand membawanya mendekati mobil di depan rumah.
"Di mana anak itu," Tanya Betrand saat tak melihat anak Khenin.
"Steve, di mana Steve tuan ku mohon jangan sakiti anakku," Ucap Khenin semakin ketakutan tak melihat keberadaan Steve.
"Maaf tuan, anak itu melarikan diri karena kelalaian kedua pengawal bodoh itu," Ucap John asisten baru Betrand.
(Author : Hai John ππ.
Betrand & John : Diaaaaam.... !!π€π€
Author : ππ Buset dah, pye iki pada galak amat sih nih orangΒ²)
"Bodoh, kenapa menjaga calon anakku saja kalian tidak becus. Kalau sampai anakku itu tidak ketemu, kalian tahu sendiri akibatnya," Marah Betrand.
"Tuan lepaskan aku, aku ingin mencari anakku," Pinta Khenin. Khenin beringsut melepas tangan Betrand namun tak berhasil. "Aku mohon lepaskan aku, hiks....hiks.....Steve!!" Khenin tak menyerah masih memberontak dengan sisa tenaga hingga refleks Betrand melanyangkan sebuah tamparan di pipi Khenin.
Plaaak.......
"Diana sayang maafkan aku," Sesal Betrand menatap tangannya yang telah menyakiti Khenin tanpa ia sengaja. Betrand segera memegang bahu Khenin yang masih terisak. "Maaf.... Maafkan aku sayang," Betrand mengangkat tangannya memegang lembut pipi Khenin yang terdapat bekas tamparan.
Pria tampan bermata abu-abu itu masih fokus pada Khenin hingga tidak menyadari sedari tadi sudah ada seseorang bermata tajam dengan kobaran api di seberang sana menyaksikan tangan besar itu melayang menyakiti pipi mulus Khenin.
"AKU MASIH HIDUP BEDEBAH, BERANI SEKALI KAU MENYENTUH KHENINKU..!!" Teriak Elang,
__--Flashback on--__
Malam ini tampak Elang dan Satya pulang dari perusahaan. Keduanya baru selesai dari lembur.
__ADS_1
DEGH..... Elang memegangi dada nya.
Tiba-tiba ia merasakan ada perasaan tidak enak seperti firasat buruk yang akan terjadi pada Khenin. "Belok kanan," Perintah Elang seketika pada Satya yang berada di balik kemudi.
"Loe mau kemana, itu kan bukan arah ke rumah loe," Protes Satya tapi tetap juga menjalankan perintah Elang, di belokkannya mobil itu ke arah kanan.
"Perasaan gue nggak enak," Jawa Elang.
"Maksud loe," Satya menghentikan ucapannya, ia tahu arah jalan ini menuju ke mana. "Jangan bilang loe mau ke rumah Khenin," Tebak Satya seketika.
"Entahlah gue khawatir terjadi sesuatu sama dia," Ucap Elang terlihat jelas rasa cemas tercetak di raut wajahnya. Ada ikatan bathin antara dirinya dan Khenin mungkin rasa cinta tulus yang ia miliki untuk Khenin begitu besar hingga dirinya seperti merasakan sesuatu saat Khenin sedang dalam masalah.
Elang masih fokus menatap jalan di balik kaca depan mobil, di samping Satya yang juga fokus mengemudi. Elang mengeryit saat mata tajamnya menangkap sosok anak kecil terisak di pinggir jalan aspal. "Berhenti Sat,"
Ciit......
Suara decit rem mobil berhenti. Steve refleks menutupi mata dengan tangan saat sorot lampu mobil itu menyilaukan pandangannya.
Elang segera membuka pintu mobil melangkah cepat menghampiri balita itu yang masih belum ia kenali.
"Nak, kenapa kamu menangis di sini?" Tanya Elang mendekati dan ikut berjongkok di hadapan Steve.
"Hu....hu....," Steve masih terisak sembari menurunkan perlahan tangan yang menutupi mata melihat siap yang berada di hadapannya.
"Uncle baik,...hu....hu...," Steve menangis semakin keras.
"Hei, kenapa kamu menangis? dan ini," Elang melihat lutut Steve yang luka akibat terjatuh. "Apa yang terjadi Cakep," Elang segera menggendong Steve. Melihat Steve seperti itu entah mengapa justru ia ikut merasa sakit.
"Lang loe kenal sama anak ini?" Tanya Satya menghampiri Elang dan Steve.
"Dia anak yang aku ceritakan," Jawab Elang.
Satya menatap lekat Steve sejenak. "Hei Lang, dia kenapa bisa?" Kaget Satya melihat wajah Steve yang begitu mirip sudah seperti fotokopi dari wajah Elang. "Gila, dia sudah seperti replika dari wajah loe Lang," Ucap Satya semakin mendekatkan wajah nya menamatkan penglihatan yang masih penasaran pada Steve.
"Uncle baik, tolong mommy..... tolong mommy," Ucap Steve masih menangis.
"Ada apa dengan mommy mu?" Tanya Elang.
"Ada orang jahat....tolong mommy uncle," Ucap Steve menunjuk jalan arah rumahnya.
Elang menatap Satya. "Kita ke sana," Ucap Elang di angguki Satya. Mereka bergegas melangkah memasuki mobil bersama Steve berada di gendongan Elang.
Mobil Elang melaju mengikuti arah jalan sesuai petunjuk Steve. Pria bermata tajam itu seketika kaget saat berada di depan rumah Khenin yang terdapat anak buah Betrand berdiri di dekat mobil yang terparkir di depan rumah. "Bukankah ini rumah...,ya tuhan," Elang meraup wajahnya kasar. "Itu berarti anak ini adalah," Elang menatap lekat Steve.
Steve....anak Khenin. Bathin Elang.
__ADS_1
"Mommy.....Uncle tolong Mommy Steve," Teriak Steve seketika tangannya terangkat menunjuk arah Khenin yang saat ini di tarik paksa oleh Betrand.
Elang menoleh, ia seketika merasa geram, tangan nya mengepal, melihat Khenin di tarik paksa seperti itu. "Sat, kamu jaga Steve," Elang keluar dari mobil melangkah cepat setelah mendudukan Steve di samping Satya.
Plaaak......
--__Flash back off__--
"AKU MASIH HIDUP BEDEBAH, BERANI SEKALI KAU MENYENTUH KHENINKU..!!" Teriak Elang,
Bak seperti burung Elang yang siap menerkam mangsanya seperti itu lah amarah Elang saat ini.
Betrand dan Khenin bersamaan John menoleh seketika ke arah asal suara.
"Kak Elang..," Lirih Khenin.
"Sial, siapa dia," Tanya Betrand dalam hati.
Bugh....
Bugh.....
Beberapa anak buah Betrand yang mencoba menghalangi langkah Elang seketika terkapar tak berdaya di tanah.....
Kini Mata tajam yang sudah berwarna merah menahan amarah itu, berdiri tegap di hadapan John pria berkulit hitam bertubuh Kekar berotot. Sang asisten Betrand itu menatap Elang yang sudah di penuhi amarah. " Tuan tolong jangan ikut campur urusan tuan kami," Ucap John masih bersikap sopan namun hanya mendapat tatapan tajam Elang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
__ADS_1