Kenapa Tidak Membenci Ku..?

Kenapa Tidak Membenci Ku..?
Episode 54


__ADS_3

Hari ini tampak Steve di depan rumah sudah rapi dengan seragam sekolah baru nya. Kemarin Darrel dan Khenin menyempatkan diri mendaftarkan Steve di sebuah sekolah TK.


"Anak Mommy, tampan sekali," Ucap Khenin menunduk membenarkan dasi di leher Steve.


"Tentu saja tampan, Steve juga lebih tampan dari Didi," Ucap Steve lucu sembari melirik Darrel yang berada di samping Khenin.


"Iya jagoan Didi lebih tampan," Darrel menarik Steve ke dalam gendongannya. "Nah sekarang jagoan Didi selain tampan juga harus bisa jagain mommy ya, hari ini didi tidak bisa mengantar Steve karena didi harus kembali bekerja," Ucap Darrel membuat wajah Steve seketika terlihat murung.


"Didi, kenapa tidak berkerja saja di sini sama mommy,"


"Kalau Didi bekerja di sini lalu siapa yang akan bantu Opa di sana," Tanya Darrel.


"Ah iya kasihan opa ya Didi," Ucap Steve.


" Ya sudah Steve, cium tangan Didi dulu," Ucap Khenin.


"Baik Mom," Steve meraih tangan Darrel dan mencium punggung tangan laki-laki yang sudah seperti ayah kandungnya.


"Anak pintar," Darrel mencium pipi chubby Steve kemudian mendudukkan balita itu di jok kursi mobil yang pintunya sudah terbuka.


"Kak, aku antar Steve ke sekolah dulu ya. Kakak hati-hati di jalan salam buat Opa dan Oma," Khenin meraih tangan Darrel mencium punggung tangan Darrel.


"Kamu juga hati-hati di sini honey jaga Steve baik-baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi kakak," Darrel mengusap lembut kepala Khenin kemudian memberikan ciuman di kening wanita muda itu.


Tanpa sadar pemandangan itu tak luput dari mata tajam seseorang.....


*****


Mobil Khenin melaju menuju sekolah Steve. "Mommy, apa di sekolah nanti Steve punya banyak teman?" Tanya Steve pada Khenin saat berada di dalam mobil.


"Tentu, Steve anak yang baik pasti punya banyak teman," Jawab Khenin. "Oh iya ini," Khenin memberikan sebuah kotak bekal pada Steve. "Jangan lupa di makan ya sayang, ini masakan Mommy," Ucap Khenin.


"Mommy tenang saja semua pasti akan habis," Tutur Steve yang begitu menyukai masakan Khenin.


"Anak pintar," Khenin tersenyum kemudian menatap luar mobil, ia baru menyadari saat ini sudah berada di depan sekolah. "Nah sayang sudah sampai, ayo turun," Ucap Khenin.


"Oke mom," Sahut Steve, keduanya pun turun dari mobil. Khenin meraih tangan mungil Steve, "Ayo kita masuk," Ucap Khenin memggandeng tangan Steve. Khenin seketika mengeryit saat merasakan tarikan tangannya tertahan. Ia menoleh pada Steve yang berada di sampingnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Khenin mengikuti arah pandang Steve yang melihat banyak teman-teman berseragam seperti dirinya bergandengan tangan dengan kedua orang tua mereka terlihat bahagia.


"Mommy nanti kalau papi Steve pulang, apa Papi dan Mommy juga menggandeng tangan Steve seperti itu?" Tanya steve membuat Khenin merasa bersedih seketika. Selama ini Khenin selalu mengatakan bahwa Papi Steve sedang bekerja jauh belum bisa pulang, entah kapan dirinya bisa jujur pada Steve.


"Steve ayo cepat Mommy antar masuk, nanti kamu terlambat," Ajak Khenin mengalihkan pembicaraan, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


" Oke Mom," Steve mengikuti tarikan tangan Khenin untuk masuk ke dalam kelasnya.


"Nah Steve, sekarang kamu belajar yang pintar ya di kelas. Mommy mau kerja dulu, sebentar lagi bi Ijah sampai di sini. Nanti kamu pulangnya sama bi Ijah di antar supir. Oke," Ucap Khenin.

__ADS_1


"Ok Mom," Jawab Steve. Khenin sebenarnya tak tega tidak menunggui Steve di sekolah karena ini hari pertamanya namun ia ada meeting yang tidak bisa di cancel.


"Ya sudah mommy pergi dulu sayang," Ucap Khenin memberikan ciuman pada Steve setelah balita itu mencium punggung tangannya.


Khenin pun melangkah keluar sekolah itu setelah memastikan Steve masuk kelas dan menitipkannya pada pihak guru yang bertanggung jawab.


Mobil Khenin melaju meninggalkan sekolah Steve tanpa mengetahui ada sebuah mobil yang sedari rumah mengikutinya dan kini mobil itu sudah terpakir di depan sekolah Steve.


Saat jam istirahat nampak anak-anak di sekolah itu berhambur bermain di taman sekolah. Pria bermata tajam itu keluar dari mobil mengedarkan pandangan, ia melihat tawa riang anak-anak balita yang sedang asyik bermain, ada yang bermain ayunan, prosotan, mangkok putar dan masih banyak lagi.


Mata tajam itu masih mengedarkan pandangan hingga ia menangkap sosok balita fotocopy dari dirinya sedang duduk di sebuah bangku yang berada di taman dengan kotak bekalnya.


Anakku....


Elang tersenyum, ia ingin sekali cepat-cepat menghampiri balita itu hingga langkah kakinya pun sudah tak tertahan, dengan cepat Elang melangkah.


"Maaf tuan ada yang bisa kami bantu?" Cegah security di pintu masuk.


"Saya ingin menemui anak saya," Ucap Elang pada security.


"Bisa minta identitas anda," Ucap Security.


Elang memberikan katu identitasnya dan sontak security itu menunduk hormat pada Elang setelah melihat kartu identitas yang di berikan. "Silahkan tuan," Ucap Sekurity itu seketika.


"Siapa dia? Kenapa kamu ijinin masuk? " Tanya teman security itu yang juga ikut berjaga.


"Dia tuan Elang Pradana, salah satu donatur besar di sekolah ini," Ucap security itu.


"Steve,...." Panggil lembut Elang duduk di samping Steve.


Steve menoleh pada asal suara yang kini sudah berada di samping duduknya menatap dirinya dengan mata berkaca-kaca.


"Uncle baik..!!" Teriak Steve seketika menaruh kotak bekal nya di bangku dan segera memeluk Elang.


Anakku...... ini papa nak..... Aku papa kandungmu..... Bathin Elang.


"Uncle baik, Steve rindu sama uncle baik," Ucap Steve membuat Elang semakin mengeratkan pelukannya.


Elang merenggangkan pelukannya pada Steve, ia menatap anak balita bermata tajam itu.


Cup....


Cup....


Hujan ciuman ia berikan pada Steve menyalurkan betapa ia sangat bahagia mengetahui dirinya sudah mempunyai anak bersama Khenin.


"Uncle baik, kenapa?," Tanya Steve heran dengan perlakuan Elang apalagi melihat air mata sudah mengalir dari pelupuk mata tajam itu. "Kenapa Uncle nangis?" Steve mengusap lembut air mata Elang,"

__ADS_1


Elang mengusap lembut rambut Steve. "Steve, mulai sekarang panggillah Uncle Papi nak," Ucap Elang membuat Steve bingung.


"Kenapa harus panggil papi? Uncle baik kan bukan papi Steve. Kata Mommy, Papi Steve sedang bekerja jauh belum pulang," Ucap polos Steve.


"Ini Papi Steve, Papi sudah pulang. Aku adalah papi kandungmu nak," Ucap Elang tulus membuat Steve mencebikkan bibir, balita itu mulai terisak.


"Uncle baik tidak bohong kan," Ucap Steve.


"Tidak nak, ini benar papi Steve," Ucap Elang berusaha menyakinkan anaknya.


"Jadi Steve punya Papi seperti teman-teman Steve," Tangis Steve memeluk Elang kembali. Balita yang sudah hampir berumur lima tahun itu menangis, ia senang karena setelah bertemu dengan Elang, ia selalu berdoa dan berharap agar mempunyai Papi seperti Elang dan kini harapannya terkabul.


PAPI....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.......


__ADS_2