
"Maaf ya buat kamu lama nunggu," Ucap Khenin menghampiri Dino yang sudah standby dengan sepeda motornya di depan pintu gerbang rumah Pradana. Semalam Khenin memutuskan menerima ajakan Dino untuk berangkat sekolah bareng. Dino menelpon Khenin dengan nomor ponsel yang ia minta dari Lina.
"Santai aja nin, aku seneng kok bisa berangkat sekolah bareng sama kamu syukur-syukur setiap hari bisa kayak gini," Ucap Dino membuat Khenin tersenyum. Dalam pikiran Khenin kenapa dirinya tidak bisa menyukai Dino dan malah menyukai Elang yang selalu membuatnya menangis karena ketakutan. "Nih," Dino menyodorkan sebuah helm pada Khenin.
"Makasih," Khenin menerima helm itu dan memakainya kemudian ia naik di boncengan Dino.
"Pegangan yang erat ya," Ucap Dino tersenyum terlihat binar dalam wajahnya merasa senang bisa membonceng wanita yang di sukainya.
"Iya, kamu juga yang fokus boncenginya," Ucap Khenin yang memberanikan diri berpegangan pada bahu Dino mematahkan ekspektasi Dino yang berharap gadis itu berpegangan pada pinggangnya atau lebih tepatnya memeluk pinggangnya.
Huh ekspektasi tak sesuai dengan realita..... Keluh Dino dalam hati.
Dino melajukan sepeda motornya meninggalkan kediaman Pradana dan sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. "Sial...." Umpat Elang, hatinya seperti terbakar. Ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah mulai menyukai Khenin dan dalam pikirannya saat ini tidak boleh ada siapapun yang menyentuh apalagi menyukai Khenin selain dirinya.
Sepeda motor Dino kini sudah memasuki pintu gerbang sekolah. Khenin pun turun di dekat pos satpam dan menunggu Dino yang sedang memarkir sepeda di parkiran sekolah. "Tumben neng nggak bareng kakaknya," Sapa satpam sekolah yang biasanya melihat Khenin di antar Elang ke sekolah.
"Ah iya pak, ini lagi pengen bareng sama teman," Jawab Khenin.
"Temen apa pacar," Goda Satpam sekolah itu membuat Khenin tersenyum menanggapinya.
"Teman pak, ya sudah saya masuk dulu pak," Ucap Khenin berlari kecil menghampiri Dino yang baru keluar dari tempat parkir. "Udah parkirnya?" Tanya Khenin pada Dino.
"Udah, oh ya masih pagi mau nemenin aku kekantin dulu nggak ?" Tawar Dino yang di angguki Khenin dengan segera tanpa berpikir lagi karena dirinya tadi belum sempat sarapan akibat ulah Elang.
Khenin dan Dino pun pergi ke kantin dan tanpa mereka ketahui sedari tadi ada Nety yang sudah terbakar cemburu dari kejauhan menatap kebersamaan mereka.
**
Hari sudah menjelang sore ketika Elang pulang kerumah dan mendapati rumah masih tampak sepi. Elang berjalan hendak menaiki tangga, tampak bi Sumi mengedarkan pandangan seperti sedang mencari-cari keberadaan seseorang setelah melihat kedatangan tuan mudanya itu. "Den, non Khenin nggak pulang bareng aden," Tanya bi Sumi memberanikan diri.
__ADS_1
"Nggak bi, apa bocah itu belum pulang," Tanya balik Elang sopan. Elang meskipun sikapnya dingin tapi terhadap bi Sumi dan pelayan lain nya ia selalu menjaga sikap.
"Belum den," Jawab pembantu Art itu yang sudah berkerja selama puluhan tahun di keluarga Pradana sebelum Elang lahir.
"Nggak usah khawatir bi, mungkin bocah itu main sama temannya," Ucap Elang mencoba menenangkan bi Sumi yang sudah seperti orang tua kedua baginya setelah papa dan mamanya.
"Mudah-mudahan den, bibi khawatir biasanya non Khenin tidak pernah pulang telat," Tutur bi Sumi tercetak jelas raut cemas pada wajahnya yang terdapat garis-garis penuaan. Bi Sumi meskipun baru mengenal Khenin tapi ia tidak bisa berbohong wanita yang tulus mengabdi di keluarga pradana itu begitu menyayangi Khenin apalagi Khenin menginggatkannya pada anak gadisnya yang telah tiada. " Ya sudah bibi ke dapur dulu den," Pamit bi Sumi meninggalkan Elang yang masih berdiri di anak tangga. Elang tampak terdiam, tidak bisa ia pungkiri ada rasa sedikit cemas menjalar di hatinya apalagi tadi pagi ia melihat Khenin berangkat sekolah dengan Dino.
Hari sudah menjelang magrib tapi Khenin masih juga belum tampak pulang. Elang duduk di balkon dekat kamar Khenin dengan ponsel di tangan, sekilas matanya melirik ke arah tangga menunggu kedatangan gadis itu. "Sialan, kenapa pikiran gue di penuhi bocah itu sih," Umpat Elang dalam hati. Elang tidak tahu kenapa perasaannya tidak tenang, sekilas ia mengingat Khenin yang berangkat sekolah dengan Dino membuatnya kembali manahan emosi.
"Dasar bocah...." Ucap Elang segera masuk ke dalam kamar dan menyambar jaket yang berada di kursi kamarnya. Elang melangkah cepat keluar rumah, perasaannya mendadak tidak enak karena Khenin belum juga tampak pulang.
Elang melajukan mobilnya, menelusuri jalan yang sudah mulai terang dengan sinar lampu-lampu pengganti sang surya di siang hari. "Kemana sih tuh bocah dan kenapa juga gue harus khawatir," Gerutunya Elang masih fokus menyetir mobilnya. Pada pemberhentian lampu merah, Elang yang menunggu lampu hijau menyala tak sengaja menangkap sosok Dino dengan sepeda motornya berhenti di sebelah mobilnya.
Lampu hijau telah menyala, mobil Elang mengikuti Dino yang melaju dengan sepeda motornya. " Dimana Khenin," Tanya Elang ketika turun dari mobil setelah memberhentikan Dino dengan paksa.
"Apa maksud kak Elang? Bukankah Khenin tinggal di rumah kak Elang," Tanya Dino bingung masih duduk di sepeda motornya. Ia berusaha bersikap sopan pada Elang demi untuk bisa mendekati Khenin.
"Tadi pagi memang kita berangkat bareng tapi saat pulang aku mencarinya, dia nggak ada di kelas. Aku pikir Khenin udah pulang duluan," Jujur Dino, ia tadinya juga ingin bertanya pada Lina sepupunya tapi sayang hari ini Lina tidak masuk sekolah karena sakit.
Elang masih dengan tatapan nanar pada Dino. "Awas saja kalau lo bohong," Ancam Elang berlalu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Dino yang masih tampak bingung.
Mobil Elang kembali melaju menelusuri jalan, kali ini tujuannya adalah ke sekolah Khenin. Saat sampai di sekolah, Elang turun dari mobilnya dan dengan langkah cepat mendekati pos Satpam. "Malam pak Kolik," Sapa Elang pada satpam sekolah yang berjaga di pos itu. Elang Juga lulusan dari sekolah Khenin jadi ia sudah kenal dengan satpam sekolah itu apalagi satpam sekolah itu juga tahu laki-laki tampan di hadapannya ini adalah anak dari tuan Henry Pradana donatur tetap di sekolah tempat ia bekerja.
"Malam mas Elang, ada apa tumben kemari?" Tanya satpam sekolah itu.
"Apa murid di sekolah sini sudah pulang semua pak?" Tanya Elang sembari mengedarkan pandangannya menelisik suasana sekolah yang tampak sepi.
"Sudah mas," Jawab satpam itu.
__ADS_1
"Apa bapak tahu anak perempuan baru di sekolah ini?" Tanya Elang bingung, ia ingin menunjukkan foto Khenin tapi sayangnya dirinya tidak memiliki foto gadis itu.
"Maksudnya adik mas Elang, gadis cantik yang tiap hari mas Elang antar?" Tanya balik satpam itu.
"Iya, apa pak Kolik tahu dia tadi pulang bareng siapa?"
Satpam sekolah itu tampak berpikir. "Waduh saya kurang tahu mas, tapi saya tadi tidak melihat adik mas waktu pulang sekolah," Ucap Satpam itu.
Elang tampak menghela nafas. "Pak, apa saya boleh memeriksa semua ruangan di sekolah ini," Tanya Elang.
"Boleh mas, silahkan," Ucap Satpam itu mempersilahkan Elang.
Di sisi lain tampak Khenin dengan tangan terikat dan mulut tertutup lakban sedang tak sadarkan diri di sebuah ruangan yang terletak di belakang gedung sekolah. Perlahan gadis itu membuka mata, ia mengedarkan pandangan melihat sekitar tak ada pencahayaan. Ruangan itu begitu gelap hanya dingin keramik yang ia rasakan pada tubuhnya yang terbaring di lantai.
Ya Allah ada apa denganku..... Lirih Khenin dalam hati, secara tidak sadar ingatannya kembali memutar pada kejadian tadi siang saat ia pulang sekolah......
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......